“KULO MANGERTOS GUSTI, KULO TRESNO MARANG GUSTI, KULO MANUNGGAL KALIAN GUSTI, KULO NYEDANI GUSTI”

Semarang , Selasa 21 April 2009
Oleh: Nata Warga

Bapak Ibu dan saudara semua, sangat berbahagia hari ini dapat bertemu dengan saudara semua.

Judul mengenai: “KULO MANGERTOS GUSTI, KULO TRESNO MARANG GUSTI, KULO MANUNGGAL KALIAN GUSTI, KULO NYEDANI GUSTI”
Adalah karena beberapa kali mengikuti copdar merasa tidak ada arah topic yang di bahas maka memberanikan membuat judul. Adapun secara pribadi judul diskusi adalah suatu usulan dari hasil meditasi saya. Mengingat akan bertemu dengan saudara-saudara tentunya memiliki kwalitas Roh yang di atas rata-rata dan tentu telah melampaui perjalanan spiritual yang cukup anjang serta juga tentunya pada saat pertemuan kita ini bukanlah kebetulan semata, tapi mungkin pada suatu ketika, ada jaman atau masa sebelum ini, kita pernah berjanji untuk ketemu dan saling mengikatkan janji untuk berjumpa, sehingga hari ini kita bertemu dalam suasana kemanunggalan rasa. Kami (Gantharwa) yakin dan percaya bahwa usia/umur, Roh – Atma kita lebih tua dari usia bumi ini. Maka tidak heran kalau mungkin kita pernah janjian untuk ketemu.

Bapak Ibu dan saudara semua, hari ini kita bertemu untuk bersama berdiskusi secara komunikasi dua arah, maka ini bukan bentuknya satu arah, apalagi sampai di anggap ngajari wong tuwa. Nah.. hari ini adalah kita bersama-sama yang kami sebut sebagai sarasehan, kami selalu di ingatkan untuk selalu saling ketemu untuk sarasehan agar terjalin suatu ikatan persaudaraaan (Kadang Sinarawedi) yang kuat. Adapun sarasehan adalah yang mana kebebasan untuk mengeluarkan pendapat sebebas-bebasnya, tanpa memaksakan kehendak/berdebat/ pendapat orang lain, jika ada sesuatu yang tidak paham, silahkan di Tanya atau kejar sampai paham.

Bapak Ibu dan Saudara semua, mari kita masuk pada diskusi kita mengenai judul, mungkin di mulai dari pemaparan saya, nanti baru kita angkat sebagai diskusi lebih dalam.

Pembahasan awal sekali adalah mengenai tentang KULO dan GUSTI, kulo yang di bahas ini adalah bukan hanya sebatas diri manusiawi fisik, tapi adalah lebih kepada ROH atau sesuatu yang sejati, sesuatu yang memang bukan dalam badan jasmaniah, yang juga bersifat Ilahi. Namun kali ini kita membahas secara manusiawi dan kita umpamakanlah sebagai manusia yang hidup.

Hal yang sama, GUSTI yang di bahas ini adalah Gusti anggapan, atau gusti yang memang telah terpatri dalam pikiran wujud manusia, BUKAN GUSTI ADALAH!!! Tapi hanyalah anggapan-anggapan dan pendekatan semata, karena kita tidak sanggup atau akan mampu berbicara tentang GUSTI yang ADALAH. Karena begitu mulai bicara atau mulai membahas maka itu bukan ADALAH, tapi hanya sekedar pendekatan saja, atau anggapan saja. Sama halnya contohnya kalau kita mengatakan gusti itu maha, maka itu hanya pendekatan, karena yang maha masih ada segala kemahaan, namun kembali lagi itu tetap tidak bisa menjelaskan. Maka kalau di Gantharwa selalu di nasehati bahwa GUSTI IKU TAN KENA KINAYA APA NANGING ANA. Titik garis bawahnya adalah ANA. Namun dengan mengatakan ANA, bukan berarti Gusti Juga demikian, tapi tetaplah di anggap sebagai pendekatan.

Maka inilah jangan menjadi salah tangkap dan menjadi ajang tafsir yang tidak perlu. Hal yang sederhana buat kita salah tafsir adalah suatu banyolan yang sering di ungkap oleh Pak Joko (Gantharwa) bahwa keterbatasan tentang Gusti, seperti ini:
1. Apakah anda percaya Gusti itu MAHA KUASA?
2. Apakah anda Percaya Gusti itu Maha PENCIPTA?
3. Kalau demikian, Bisakan Gusti menciptakan sebuah batu yang sangat berat sekali sehingga Allah sendiri tidak berkuasa untuk mengangkatnya?
Ini hanya contoh saja, tidak untuk di diskusikan.

Bapak Ibu dan saudara semua, pada bagian pertama dari judul kita adalah
KULO MANGERTOS GUSTI, atau Aku Mengenal Gusti, bagaimana kita sebagai pribadi mengenal Gusti, pada umumnya apa yang menjadi dasar kita mengenal gusti di lihat dari 3 hal:

1. Mengenal Gusti melalui Informasi, informasi yang kita terima mengenai gusti allah/tuhan adalah banyak melalui kitab, buku, litelatur, informasi dari teman, sarasehan seperti ini dan lain sebagaianya, dan ini kembali lagi adalah gusti yang adalah anggapan, gusti yang merupakan KATANYA dan hanya sekedar cerita saja.
– Celakanya banyak yang sudah merasa katham, atau mengerti full tentang Gusti, sehingga jangan heran terjadi penyalahan pada yang lain atau golongan bahkan kelompok tertentu, yang menganggap diri lebih mengenal gusti dari pada yang lain.
– Nah… pertanyaannya adalah sejauh mana saya harus mengenal Gusti? Di Gantharwa di beritahu: Kenalilah Gusti sejauh gusti memperkenalkan diri, diluar itu tidak sopan/tidak perlu. Jadi jangalah kita memaksakan diri untuk mengenal Gusti lantaran ingin di katakana lebih dekat atau lebih mengenal Gusti, sama halnya kalau misalnya hubungan atasan dan bawahan, apakah pantas seorang yang bawahan mengutak atik hal-hal yang belum di kenalnya dari atasannya? Kalau memang di anggap penting dan perlu maka atasan suatu saat akan memberikan/memperkenalkan dengan sendirinya.
– Berikutnya dalam mengenal dan mengerti Gusti, juga di berikan dari falsafah jawa bahwa Gusti iku apa ada cedak gumantung ada kula apa nyedak: Gusti itu dekat atau jauh tergantung aku menjauh atau mendekat. Yang mana bahwa Gusti selalu siap sedia, manusia siapkan kemauan yang sungguh-sungguh. Namun kenyataanya adalah kemauan yang kita sebut sering hanyalah dari desakan hasrat semata bukan kemauan yang sejati.
– Bagaiman kemauan sejati dapat muncul dan yang sesungguhnya, disini saatnyalah kita harus masuk dalam meditasi, meditasi jangan di terjelmahkan sebagai pada umumnya, tapi meditasi yang menyadari semuanya, apa adanya, meditasi yang bukan konsentrasi. Kenapa perlu di garis bawahi meditasi yang bukan konsentrasi, karena memang banyak yang mengaggap meditasi adalah konsentrasi. Meditasi juga tidak hanya sekedar duduk diam, tapi meditasi yang menyadari setiap saat. Maka dalam kehidupan kita inilah adalah meditasi.
– Pada pratisnya adalah agar kita harus adaptasi atau bahasa umum adalah pertobatan menyadari kesalahan (meditasi) – menyeleksi diri, masuk dalam diri. Setelah itu aka nada tolerasi atau bahasa umumnya pengampunan, berkah, elingan, mengerti. Lalu akan muncul Orentasi atau bahasa umumnya adalah pengarahan, bimbingan, tuntunan. Disitulah kemauan itu ada dalam manusia.

2. Mengenal Gusti melalui pengalaman, yang mana adalah saat manusia mengenal Gusti karena berasal dari pengalaman yang di alami sendiri, dan hidup yang di alami. Mengalami secara langsung bukan lagi KATANYA. Maka yang nanti di ceritakan adalah juga pendekatan atau anggapan, tidak bisa sama persis, tujuan di ceritakan agar orang lain menjadi wruh atau berkawruh – mengerti. Namun kalau di certiakan benar-benar tidak mampu dan bisa. Ibarat kalau misalnya rasa durian, tidak bisa di ceritakan seperti apa rasanya.. baik mau di umpamakan tentu tidak akan menjadi sama dengan yang di rasa, yang bisa kita lakukan adalah memberikan durian, dan suruh rasakan sendiri maka akan jauh lebih baik dari pada merusahan mati-matian menjelaskan rasanya. Itulah mengalami. Mengalami juga tidak perlu yang neko-neko atau yang harus aneh-aneh, tapi menjalani kehidupan ini adalah sesungguhnya mengalami Gusti secara sadar.

3. Mengenal gusti melalui TINARBUKO, sesuatu yang wruh/kawruh/pengertian yang di dapat bukan lantaran belajar dan mengalami, tapi tahu-tahu sudah wruh/mengerti. Sama seperti hitungan, kalau belajar adalah melalui menghapal perkalian, kalau pengalaman ada melalui pola atau rumus yang berkelangsungan terus kita kerjakan sehingga kita tahu jawabannya. Namun kalau Tinarbuko adalah kita langsung mengetahui jawabannya setelah selesai soal dibacakan. Inilah manusia-manusia mistis, bukan urusan mistis dalam arti klenik, tapi mistis yang KEDEMIKIANAN = Iya ngana kuwi. Ini juga kita tidak bahas terlalu banyak, karena informasi atau pengalaman yang kita terima sedikit, dan kemungkinan juga jarang di ceritakan bagi yang telah ber-tinarbuko.

Dengan mengetahui ketiga hal di atas, maka sangat jelaslah bahwa ternyata manusia harus berguru, ”Tiada kehidupan tanpa disentuh oleh guru” , ”Tiada kehidupan tanpa belajar”.
Maka manusia mulailah berguru atau belajar: Berguru itu banyak, bisa kemana-mana, sejarahnya setiap manusia itu berguru, dimulai dari berguru pada guru mati artinya dari buku, kitab, literatur, yang sifatnya komunikasi satu arah, lalu guru-guru hidup, seperti sekolah, kuliah, ikut perguruan, pastor, pendeta, ustad, yang sifatnya 2 arah komunikasinya.
Namun dari semua berguru, seorang murid haruslah bertemu dengan ”GURU SEJATI”. Dalam bahasa kristen disebut Roh Kudus, islam Nur Muhammad, dalam hindu atau perwayangan disebut GURUJI. Seperti halnya Bima yang bertemu dengan Dewa Ruci yang merupakan GURU SEJATI nya. Dimana kita mencari Guru Sejati, Bagaimana menemukan guru sejati?
tempat yang kita cari adalah berada dalam diri kita sendiri. Kenapa kita harus ketemu dengan Guru Sejati, dalam istilah Jawa disebut tambora maninten, hal ini di jawab oleh semar ketika bersama-sama Arjuna berjalan-jalan disebuah hutan yang lebat. Arjuna bertanya pada Semar; “Semar…. hutan apakah ini”?. Lalu semar menjawab: “TAMBURO MANINTEN”. Apa artinya dari jawaban Semar: “jangan bertanya kepada orang lain, tapi tanyalah pada dirimu sendiri, karena dirimulah adalah sumber pengetahuan”. Jadi kita harus ketemu Guru Sejati karena kita akan menjadi manusia yang mengerti (wruh) akan kebenaran.
Dalam perjalanan berguru atau belajar, masing-masing guru dan murid di berikan nasehat,
– nasehat kepada murid; “ Hai… murid, taatilah ajaran guru, tapi jangan ikuti teladannya” maksud dari tidak mengikuti teladan guru adalah teladannya yang bertentangan dengan ajarannya.

– Sedangkan nasehat untuk para guru; “Hai… guru, jangan karena engkau, orang yang berharap (yang akan tercerahkan) akan mundur”. Ini jelas bahwa guru juga dituntut untuk menjaga tingkah lakunya.

Maka tingkah laku juga di garis bawahi, sehingga murid dapat selamat atau terselamatkan karena adanya contoh atau figur. Demikian juga orang mengatakan (Kristen) bahwa Yesus adalah keselamatan, tanpa Yesus maka tidak akan selamat, hal ini jangan di jadikan sempit berpikir.
Mari kita teliti siapakah Yesus? Yesus memperkenalkan diri AKULAH JALAN KEBENARAN DAN HIDUP. Ada 3 komponen penting yaitu, jalan, kebenaran dan hidup. Jalan adalah Laku, kebenaran adalah Kawruh dan Hidup adalah yang menhidupi, urip iku hanguripi. Jadi kalau siapapun yang dapat menjalankan 3 hal dalam arti kwalitas, ya dia akan selamat, bukan secara fisik haru jadi kristen atau tahu Yesus, kalau memang harus demikian maka tuhan itu kejam, karena kasihan orang irian perdalaman, mendengar kata yesus aja belum pernah apalagi mengenal.
Ini nanti kita bahas tersendiri dalam kesempatan yang berbahagia lainnya.

Setelah manusia (kita) mengenal Gusti maka masuk pada tahap berikutnya adalah

KULO TRESNO MARANG GUSTI, aku mencintai Gusti, aku jatuh cinta pada gusti, ini adalah mau menceritakan bahwa saat manusia mengalami Gusti itu sendiri dalam dirinya melalui panggilannya, misinya yang harus di lakukan. Yang antara lain bisa di gambarkan sebagai berikut: antara lain:

1. Manusia dengan SELALU menciptakan Damai dengan selalu SIAP mau memaafkan/mengampuni yang bersalah kepada orang lain atau sesama. Saat ini dunia butuh akan hal demikian, karena dunia ini telah timbul egoisme yang memuncak dan telah membuat dunia ini semakin tak karuan dengan menjadi saling mencurigai, damai di butuhkan oleh setiap insan, maka untuk itu marilah kita mulai dengan memberikan rasa damai dengan selalu siap mengampuni yang bersalah. Pembahasan ini masih bisa di perluas, bagaimana dan apa bentuknya.

2. Manusia dengan SELALU menciptakan Sejahtera dengan selalu SIAP mau murah hati/member kepada siapa saja, tidak hanya sekedar adalah uang tapi waktu maupun pemikiran.

3. Cinta Kasih, menciptakan rasa cinta kasih yang mendalam, cinta yaitu menginginkan sesuatu diluar diri kita, kasih yaitu siap member kepada yang tidak memiliki/kekurangan. Maka ada istilah kepada yang kita senangi “Aku Cinta Padamu” = melihat ada kelebihan dalam diri orang yang kita senangi, dan ada istilah “Aku Kasihan Padamu” = siap memberi karena kita mempunyai kelebihan.

Kehidupan manusia dari awal sangat dipengaruhi/terinduksi, hal yang memengaruhi perjalanan hidup manusia adalah

1. Saat kita masih kecil maka yang mempengaruhi adalah orang tua, maka segala induksi adalah akan di pengaruhi oleh orang tua kita, maka baik jeleknya karakter seseorang maka sangat tergantung orang tuanya membentuknya. Karena orang tua adalah yang paling dekat dengan kita maka pengaruh yang paling besar saat kita kecil adalah dari mereka.

2. Saat kita menjadi remaja dan dewasa, maka yang sangat mempengaruhi kita adalah lingkungan. Lingkungan akan membentuk kita dan akan mempengaruhi dalam perjalanan hidup kita, contoh kecil adalah bahwa saat kita kecil masih nurut wong tuwa, di suruh mandi nurut, namun saat remaja, kita disuruh mandi maka kita biasa mengatakan: “ sebentar, saya mau main dulu sama teman” teman sudah menjadi lebih dominan dari orang tua. Benar atau rusaknya seseorang sangat tergantung dari lingkungan apa yang memperngaruhinya. Maka jangan heran, orang yang umurnya sama, dengan lingkungan yang membentuknya berbeda, apa beda pula karakternya atau hal yang memperngaruhi dirinya. Ini terlihat jelas kalau terjadi kerusuhan, maka kedua reaksi akan berbeda pula.

3. Tingkat induksi berikutnya adalah manusia akan di induksi oleh keyakinannya; baik itu agama, kepercayaan, keimanan. Pengaruh ini yang sangatlah menentukan apakah manusia nanti akan masuk pada bagaimana mengalami panggilan dengan Gusti. Karena kita mungkin pernah dengar bahwa manusia/orang lain sanggup membunuh orang tua dan keluarga hanya karena keyakinannya. Namun juga orang sanggup berkorban nyawanya untuk orang lain juga karena keyakinannya.
Sedikit membahas tentang pengorbanan, pengorbanan sendiri pada tahap terakhir ada 3:
– Mengorbankan keluarga, manusia/orang lain yang terdekat terakhir dekat dengan kita adalah keluarga, kadang manusia ingin mengalami pencerahan dia harus meninggalkan keluarga, sama halnya sindiran atau positifnya ajakan dari Yesus adalah bahwa kalau mau ikut aku, maka tinggalkanlah orang tua dan keluarga mu, diluar itu tidak layak.
– Pengorbanan berikutnya adalah yang ada dalam diri yaitu mengenai hubungan sex, maka jika pengendalian atau pengorbanan ini tidak bisa dilakukan maka manusia akan mengalami hambatan, apalagi dengan pernyataan bahwa sex itu harus di salurkan di hamburkan bukan di kendalikan.
– Pengorbanan yang terakhir dimiliki oleh manusia adalah nyawanya sendiri, inilah pengorbanan yang tertinggi untuk orang lain. Karena setelah itu secara fisik sudah tidak ada lagi.

Kembali ke penjelasan awal, Wujud dari cinta sendiri menurut Gantharwa sendiri adalah dalam kesatuan ukuran, kesatuan ukuran yang bagaimana, yaitu Kepada KALIMASADA yang isinya adalah:
– Kadonyan (Kadunia/Keduniawian) / Kebendaan,
– Kahewanan (kehewanan atau kebinatangan)
– Karobanan (Manusia)
– Kasetanan/Keiblisan (Positifnya: Kemalaikatan)
– Yang berikutnya titik pun tidak, namun sebagai pendekatan maka di sebutkan adalah Katuhanan (Ketuhanan), dan kembali di nasehatkan gusti iku tan kena kinayo ngapa nanging ana.
Untuk penjelasan per rinciannya akan kita bahas tersendiri, dan memang di Gantharwa di bahas secara dalam.
Pada praktenya menjalani laku spiritual adalah merupakan bagian dari Gusti Trisno Marang Gusti, namum permasalahannya adalah Spiritual yang bagaimana? Kadang kami di Jogja menegaskan, bahwa Kehidupan spiritual telah melahirkan kehidupan yang menyakut dalam bidang:

1. Budaya, yang melahirkan etika – etos, tatanan kehidupan, aturan dan adat istiadat yang bernafas pada keluhuran bermasyarakat yang bebudi luhur.

2. Sosial, yang mana akan melahirkan interaksi dalam aturan berkomunikasi dan berhubungan dengan sesama

3. Politik, yang akan melahirkan tatanan dan aturan ketatanegaraan

4. Ekonomi, yang akan sebagai wujud pelengkap untuk menjalani kehidupan ini.

Namun sekarang kenyataan adalah kehidupan spiritual telah di balik menjadi EKONOMI yang pertama, bahkan ekonomi mengendalikan semua bidang, tanpa ekonomi kenegaraan tidak bisa berjalan, social terwujud, apalagi berbudaya. Maka manusia sudah masuk kepada materialistis, sehingga jangan heran manusia akan mempertimbangkan ekonomi dulu sebelum semua terjadi, dan ini di anggap wajar, apalagi ada yang berpendapat bahwa urusan ekonomi dulu baru urusan spiritual dan yang lainnya.
Sekarang justru pertanyaannya bagiamana mengembalikan kepada jalur yang tepat yaitu budaya, lalu social, lalu politik dan akhirnya urusan ekonomi yang tentunya adalah bagaimana berbudaya dalam social bermasyarakat, dan berbudaya dalam politik serta berbudaya dalam ekonomi.

Kembali pada mencintai gusti yang mana sebenarnya menjalankan peran dan panggilan diri manusia itu sendiri. Sedikit cerita sharing pengalaman pribadi yang jangan di anggap sebagai kesombongan, ini hanya sekedar berbagi, pada suatu ketika, saya bertanya apakah misi saya dalam hidup ini, dan apa yang harus saya lakukan? Karena back ground saya seorang katolik maka mengenal gusti sebagai gambaran manusiawi saya adalah Yesus, maka yang menemui saya tentunya yesus, dan mengatakan: “lakukanlah seperti apa yang telah kulakukan kepadamu”. Nah ini hanya sekedar cerita bahwa janganlah kita menganggap panggilan gusti itu harus yang wow atau yang hebat-hebat, kadang sangat sederhana, dalam memenuhi panggilan, misalnya bangun pagi jam 5 atau jalan ke sana, lakukan ini, makan roti, dll.
Seringnya kita malah menunggu yang hebat-hebat baru mau mengerjakan, padalah dari hal sederhana kita akan mengenal hal yang besar.

KULO MANUNGGAL KALIAN GUSTI, Aku bersatu/menyatu dengan Gusti. Bapak Ibu Saudara semua, kemanunggalan dengan Gusti sering di gambarkan atau di bayangkan seperti plek atau seperti setitik air dengan lautana, dua pribadi yang menyatu, dan juga sering dianggap sebagai menjadi menyatu hilang.

Ada juga kemanunggalan di anggap sebagai hal yang mustahil, seperti setitik air yang menuju kepada matahari, sebelum sampai atau bergerak itu telah nguap dan tidak mungkin karena Gusti di anggap sebagai Segala kemahaan, jadi tidak mungkin terjadi kemanunggalan.
Pembahasan Gantharwa adalah kemanunggalan adalah bagaimana sifat gusti tercermin dalam kehidupan sehari-hari atau memenuhi panggilannya, melakukan panggilannya secara benar, menjadi seorang utusan, mungkin di anggap sama dengan mencintai gusti, namun dalam kapasitas kemanunggalan ini adalah Manunggal dalam KEPASRAHAN yang total atau SUMELEH, Sendiko lan Nyuwun Dawuh, Pasrah Kesaning Allah, bukan pasrah pada situasi dan kondisi.

Bagaimana kita bisa mengetahui tentang kepasrahan secara total pada gusti yang di sebut manunggal, yang bisa kita katakan adalah Pasrah dengan Sedulur Papat Kalima Pancer, dalam istilah sederhana adalah Pasrah akan;
Kekuatanku, semangatku, kecerdikanku, keimanan/kesucianku, dan aku yang bersifat ilahi pasrah total.
Hal ini akan tergambar dalam bentuk
– kemanunggalan secara Karso, bagaimana kemauan ku sama dengan kemauan Gusti, atau kemauan Gusti aku harus mengerti sehingga menjadi kemauanku.
– Kemanunggalan secara karyo, bagaimana tatanan dan tingkah laku ku haruslah berasas pada keilahian, dan bahasa umun adalah tingkah lakuku adalah cinta kasih, dan dalam Gantharwa di ajarkan bahwa “1 kawruh laku, melampaui 1.000 teori”. Dalam bahasa perwayangan di kenal dengan “sura diro jayaning kangrat, sura brasta cekaping olah darmastuti” yang artinya ” kesaktian sehebat apapun akan terkalahkan oleh perbuatan yang benar secukupnya”. Dalam arti bahwa tingkah laku benar adalah sejatinya.
– Kemanunggalan secara Rasa, bagaimana hasil akhir adalah rasaku dan rasa Gusti sama, yang sederhananya adalah bahwa rasa gusti, yang sederhananya rasa sesama itu sendiri.
Pertanyaan berikutnya bagaimana awal saya bisa manunggal dengan gusti kalau tidak mengetahui baik kemauan, jalan maupun rasa. Maka kenapa kita harus kembali keawal yaitu margetos tresno, mengerti mencintai. Namun secara sederhana adalah Gantharwa mengajarkan bagaimana kita mengerti adalah dengan cara ”GENTUR TAPA BRATANE, SAKTI MANDRAG GUNA” Artinya:
1. Gentur: Hebat / Luar Biasa
2. Tapa: Panas / Nyata
3. Brotone: Janji
Yang artinya: Merealisasikan Suatu Janji dengan semangat lebih.
Selanjutnya barulah menjadi ”SAKTI MONDRAG GUNA”
1. Sakti: Berhasil / Sukses
2. Mon: Walaupun
3. Drag: Sekejap / Seketika
4. Guna: Fungsi / Peranan
Yang artinya: Memerankan diri walaupun sekejap tapi berhasil.

Pengambungan menjadi satu kalimat adalah, merealisaikan janji dengan semangat lebih, maka saat memerankan diri meski sekejab, bisa berhasil.
Inilah misteri kelebihan orang jawa.

Contoh kalau saya rajin meditasi(tapa) namun sukanya nipu, sedangkan dilain pihak ada yang selalu tepati janji, jika nanti suatu saat sama-sama membutuhkan bantuan, maka yang dimintai bantuan akan lebih pada memilih yang menepati janji. Bukankah demikian?

KULO NYEDANI GUSTI, aku membunuh/mematikan Gusti, kembali lagi bahwa Gusti yang dimaksud disini adalah GUSTI anggapan, Gusti yang merupakan hasil dari rekaman dalam diri sejak kita ada, yang mana bukan Gusti yang adalah atau yang sebanarnya (Kata sebenarnya saja tidak mengambarkan Gusti).

Termasuk apa yang hari ini saya bicarakan adalah bukan menyatakan sesuatu tentan Gusti yang adalah. Maka segala pengertian kebenaran yang telah kita lewati akan menjadi sampah dan harus di buang di tong sampah. Bukankan bahwa seorang yang telah sampai dirumahnya maka kendaraannya harus diparkir di luar, dan bukankah seorang yang naik kuda, kalau sudah sampai ditujuannya, kudanya akan di tinggal di luar.
Ini agaklah sulit untuk di diskusikan atau di bicarakan, karena menyangkut sesuatu yang memang tidak biasa. Kalau kita lihat dari ROH itu sendiri adalah tidak bisa untuk di jelaskan karena kita manusia masih memakai jasad manusiawi, maka segala sesuatu merupakan tanda manusiawi pula, nah maka kalau kita sebut berbicara roh maka tidak terlepas, merupakan tanda-tanda dari manusiawi, termasuk saat kalau saya mau ketemu dengan kakek saya maka yang muncul adalah kakek saya yang berusia lanjut, bukan kakek saya yang masih bayi wujudnya, karena saya tidak mengenalnya tentunya, gambaran roh adalah gambaran dari manusiawi karena kita masih pakai manusiawi. Pernah suatu ketika kami ingin mengetahui Roh dalam arti sebenarnya, tetap saja tidak bisa, karena titik pun tidak. Maka dasarnya tetaplah harus di wujudkan karena kita masih butuh tanda manusiawi. Nah.. pembicaraan nyedani – membunuh gusti adalah pembicaraan antar roh dan roh tanpa di batasi oleh manusiawi, inilah yang sulit.

Roh sendiri telah mengekspresikan diri sedemikian rupa sampai pada tahapan materi, kalau kita renungkan maka segala yang ada di dunia ini termasuk badaniah ini adalah bentuk dari ekpresi – perwujudan dari roh itu sendiri. Secara teknologi itu jelas, misalnya kendaraan, bisa berjalan cepat, kalau di Gantharwa di sebut sambung lampah, dimana bisa dari suatu tempat ketempat lain dengan berjalan kaki tapi dalam waktu yang cepat, ada pesawat, manusia bisa terbang, HP, internet, manusia kita tahu bisa telepati, apapun merupakan perwujudan – ekspresi dari Roh itu sendiri.

Bapak Ibu dan Saudara semua, kurang lebih adalah pembahasan dari saya, semoga ini menjadi bahan pertimbangan dalam perjalanan kita, dan marilah kita sarasehan. Terima Kasih.

Laporan di buat 27 April 2009
Ucapan terima kasih kepada yang tidak bisa saya sebut satu persatu, berjumlah 26 orang saudara dan telah di sebut oleh Bapak Imam Sudrajat mewakili group pecel dan saudara lain di bawah ini:
– dari Theosofi : 4 orang
– dari Reiki Kundalini : 2 orang.
– dari Silatun Abu sangkan : 4 orang
– group mas Yudi : 4 orang
– Pekalongan : 1 orang
– Yogyakarta : 3 orang

Salam Sejati
“Siapa yang bersungguh-sungguh,
akan menemukan yang dicarinya”

Categories: Laporan Sarasehan

Navigasi pos

17 thoughts on ““KULO MANGERTOS GUSTI, KULO TRESNO MARANG GUSTI, KULO MANUNGGAL KALIAN GUSTI, KULO NYEDANI GUSTI”

Comment navigation

  1. Silahkan kalau ingin diskusi bisa masuk ke FB Group http://www.facebook.com/groups/sarasehan.gantharwa/doc/434137496629261/
    Atau gabung dengan Mailing List Diskusi Gantharwa

  2. Hendro prenjak

    mohon pencerahan

  3. nona wisnu wardhani

    trimakaci mo berbagi

  4. kangBoed

    hmm… mari kita bersama mulai menjaga berdiri tegaknya huruf Alif dalam diri kita… sejalan dengan naik dan turunnya nafas kita sebagai bukti dan saksi adanya ALLAH…. dan menghasilkan Alif alif yang vertical bukan horisontal…. Rasa Hati = Ucapan = Perbuatan… maka aman dan damailah… terciptalah manusia manusia yang hidup dalam HIDUUP…
    semakin hiduuup dalam Jiwa Jiwa yang Tenang…
    Salam Sayang
    Salam Taklim
    Salam Sejati

  5. R. Kus

    NB.
    Tulisan sy dibawah kalimat Nuwun, “Menurut sy…” di hapus.
    ———————–

    Buat sedulur2,

    Dalam tulisan sy di atas, menggunakan lambang memanah burung. Busur ditarik dan dilepas mengandung arti nafas kita.
    Disarankan belajar memanah dulu kepada Gantharwa, bagaimana tatacara memanah, sehingga tepat sasaran.

    Nuwun

  6. R. Kus

    Salam buat Kangmas Gantharwa

    Sy sedang menelusuri siapa yg memulai menggunakan kalimat sebutan “Gusti” untuk embel-embel di belakang kalimah asma Allah atau sebagai kata ganti,kalimat “Gusti” juga dipakai oleh org Jawa untuk sebutan Rajanya.

    Banyak yg sudah merasa telah kenal/weruh Tuhannya.
    dan menurut sy sifat Kemahaan tidak memerlukan embel2.
    Sbg contoh Sahadatain & juga kalimat tauhid adalah kunci untuk bisa kenal/weruh. Di kalimat tsb ini sy tidak menemukan kata Gusti.
    Jika memaknai kata Gusti tidak tepat, maka akan salah maksud, diibaratkan kita akan memanah seekor burung yang hinggap di pohon kehidupan, tetapi burung yg kita incar letaknya tidak mengetahuinya, atau baru katanya burungnya ada di situ.
    Hasil penelusuran mengenai penggunaan kalimat Gusti, ada teman yg memberi penjelasan bahwa yang dimaksud Gusti adalah baguse ati.

    Nuwun.

    Menurut sy, kita tidak akan sampai

  7. Ria

    wah … para senior sudah pada ngumpul nih …. yah gak berani koment dah …. salam aza

Comment navigation

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: