Laporan Sarasehan di Jogja

Salam Sejati

Sebelumnya saya mau menyampaikan terimakasih kepada saudara saudara kita yang sudah sangat membantu bisa diadakan pertemuan ini secara apa adanya penuh kesederhaaan dalam pertemuan ini. Rencana pertemuan diadakan di alun-alun Yogyakarta namun mengingat beberapa pertimbangan, pada akhirnya kita bertemu di tempat saudara kita di sebuah sanggar sederhana. Dengan kopi dan the, suasana pertemuan begitu hangat. Kita tidak melihat golongan dan kelompok. Kita duduk bersama sebagai manusia dengan melepas atribut latar belakang spiritual . Meskipun santai ,..semua rekan menghayati ….   

Pada tanggal 9 – 10/07/2008  Kamis malam pukul 22.30 s/d  Jumat pagi pukul 03.30 kami mengadakan pertemuan silaturahmi teman teman seperjalanan . Pertemuan Silaturahmi diadakan di:

Alamat : Jl Tuntungan UH III/1006 Yogyakarta 55167 sebagai markas DOING GOOD sebagai Basic Forum Pelaku Sejarah ( Literasi Sejarah yang di expresikan dalam pencarian secara SPIRITUAL salah satunya E BOOK yang sudah dibagikan kepada rekan rekan di Harmonisasi Universal. Rekan dari DOING GOOD diwakili oleh saudara Timmy Hartadi ( mewakili Praktisi Yoga dan Spiritual ) yang menyadari TUGAS PANGGILAN sbeagai pengumpul Sejarah yang dilakukan secara Spiritual , Seni dan dengan Basic Talenta Sejarah yang meraka punya.  

MISSI

  1. Menerima Undangan dan Pertemuan antar kadang seperjalanan meski beda latar belakang perjalanan. Diharapkan akan ditemukan untuk saling memberikan masukan kawruh antar kadang satu dan yang lainnya.
  2. Menerapkan konsep JAWA yaitu Kesatuan Ukuran untuk kesinambungan kehidupan kelak meskipun ini sebuah usaha langkah sederhana.
  3. Sebagai langkah langkah kecil yang diharapkan akan diikuti oleh teman teman saudara perjalanan lainnya sebagai langkah awal Inspirasi untuk mempererat tali Silaturahmi dan semakin mempersatukan Saudara Seperjalanan yang diharapkan bisa saling memberikan maupun menerima masukan masukan demi Kesinambungan Manusia dan Alam serta seisinya .
  4. Menghidupkan kembali rantai rantai persaudaraan antar seperjalanan yang diharapkan bisa menemukan kawruh kwruh sejarah yang hilang / dirampas / musnah.

TAMU :

  1. Sdra. David Goh ( Nata Warga ) mewakili :Gantharwa
  2. Sdra. IWANmewakili Praktisi Prana Sakti, Praktisi YOga dan pernafasan , dll
  3. Sdra.Dodomewakili siswa Gantharwa
  4. Sdri. Lashita Situmorangmewakilidari Harmonisasi Universal, PRANA Sakti,Praktisi Yoga dan pernafasan , dll
  5. Sdri. Nona Wisnu Wardhanisimpatisan siswa Gantharwa
  6. Sdra. Sanjayasimpatisan Gantharwa
  7. Sdri. Hanny mewakili Harmonisasi Universal

Dan rekan undangan lainnya yang tidka bisa saya sebutkan satu persatu .

Catatan : nama perwakilan di belakang bukan untuk  menujukkan apa apa,  ini hanya  sebagai nama untuk mewakili  dalam saudara saudara perjalanan dimana  dalam perbedaan latar belakang perjalanan untuk saling bertukar kawruh mohon dimengerti.

Hasil dari Sharing Kawruh

Dimana hari sebelumnya kami mengadakan pertemuan di Lereng Merapi tepatnya di TELOGO MUNCAR ( Tanggal 8 – 9 ) pukul 23.00 – pukul 3.00 pagi duduk dalam posisi duduk Meditasi di tengah alam yang begitu dingin tenang sambil sharing tentang kawruh Spiritual terkait dengan Laku yang akan membawa kehidupan Selamat Dunia dan Akhirat juga terkait kondisi Bangsa dan bagaimana peran kita sebagai individu dalam lingkup spiritual bisa mulai Berperan didalamnya .Kita lah yang berperan Utama bukan siapa siapa. Untuk mulai mencari kawruh ada kalanya kita dihadapkan kepada keterikatan dunia. Semua dimulai dari hal hal sederhana utnuk bisa WRUH hingga kemudian bisa mengerti dan menjalani laku.Saat sharing pelajaran ada sebuah pengalaman,bahwa saya melihat kami duduk di bawah sebuah tenda deklit diatas dan ini saya sadari ,setelah selesai sharing  tenda / deklit itu hilang

Setiap INDIVIDU harus mulai disadari akan Panggilan Tugas dari Tuhan mengingat semua kita ini adalah manusia yang mempunyai TUGAS dalam kaitannya dengan LAKU SPIRITUAL untuk menjaga Keseimbangan ALam dan seisinya. Secara umum Spiritual sangat terkait dengan kehidupan kita. Dalam menjalani HIDUP manusia terbiasa di batasi oleh DOGMA DOGMA yang sudah begitu melekat yang secara tidak langsung akan membuat manusia BUTA akan maksud Laku dalam menjalani kehidupan. Diamana sebuah Metode / Konsep Kawruh / Agama yang sebenarnya itu adalah Pesan Kebenaran sudah menjadi DOGMA karena manusianya sendiri. Kita merasa kehidupan hanyalah yang ada di depan mata kita . Kita merasa hanya sebatas BUMI kehidupan kita ,sementara bila kita mau meyadarai, Bumi dan alam serta makhluknya hanya Setitik dari kebenarannya. Alangkah baiknya bila manuisa mulai mau menyelaraskan dri dalam diri alam dan seisinya yang selalu ber PANCER kepada GUSTI

Sebuah ajaran apapaun baik adanya selama itu benar utk diri sendiri, sesama ,alam dan seisinya dan Gusti dimana ajaran itu sifatnya akan ABADI bila diikuti laku yang Benar.

Melihat kondisi tersebut kiranya diperlukan arti KESADARAN yang sebenarnya . Kesadaran Spiritual bukan di peruntukan untuk diri sendiri saja tapi justru kesadaran spiritual mesti bisa memberikan keseimbangan antara Diri sendiri  sesama dan alam untuk menuju Kebenaran yang patut kita akui kebenaran di dunia ini bukan sebuah ,sesuatu, hal, perihal yang MUTLAK. Apa yang dijalani dalam laku spiritual merupakan pendekatan-pendekatan KEBENARAN. Jarang sekali manusia melihat perjalanan spiritual menempati urutan utama. Manusia sibuk dengan kecemasan, ketakutan, kekuatiran , pelarian disaat menemukan benturan benturan hidup yang pada ujung ujungnya selalu mengatakan “ini sudah nasibku” atau “Ya Tuhan kenapa engkau memberikan cobaan seperti ini” atau “Dimanakah Keadilan ini ” atau ” Ya Tuhan tidakkah KAU tau betapa aku sudah MengIMANI agamamu tapi kenapa DERITA HIDUP sellau menyertaiku,dsb dsb.Dari sini Materi juga merupakan Dogma besar yang bisa menjadi COBA buat kita.

Inilah hasil dari Ketrikatan kita akan sebuah pikiran dan logika semata. Disaat menerima coba dan goda tidak pernah mau menerima itu dengan Iklhas, yang ujungnya kemungkinan  akan MENYALAHKAN TUHAN. Sementara kita tahu Tuhan adalah MAHA KASIH, sejauh ini KASIH TUHAN . Kitapun tahu, bagaimana bencana bencana itu datang tanpa melihat orang itu beriman atau tidak, bejat atau tidak, bayi, anak anak yang tak berdosa pun bisa menjadi korban bencana.

Untuk itu diperlukan WRUH baru bisa menegrti memahami dan menjalani dengan penuh Keyakinan akan Ajaran Kebenaran itu meski saat WRUH pun Goda dan Coba sudah berada posisi yang sama dengan Keyakinan /Iman.

Dari sini perlu sangat disadari adanya sifat SUMELEH dan SENDIKO DAWUH dan selalu BERSUKUR dalam keadaan apapun dalam mulai melangkah, bukan mengeluh dan kecewa . TITIK INI YANG SANGAT DIPERLUKAN. Titik Ujud Kesetiaan dengan Penuh Kemauan dan Niat dalam menjalani HIDUP. Rasanya tidak FAIR Tuhan yang sudah baik selalu menjadi ujung KAMBING HITAM , sudah terlalu baik bahkan sangat baik . Patut disukuri dan disadari dari Nafas yang diberikan kepada kita .

Sebagai pelaku spiritual sangat diperlukan keluwesan dalam menyikapi, dimana selama ini batasan batasan dalam menjalani laku , Ego spritual , kita sebgai pelaku spiritual harus selalu siap dalam menyikapi karena mngemban tugas ikut menjaga keseimbangan. Keseimbangan perlu disadari dari dalam diri baru kita bisa memberikan keseimbangan kepada sesama alam dan seisinya.

Hasil dari pertemuan dengan DOING GOOD saya sampaikan sebagai berikut :

Sebagai oleh-oleh Kami mendapatkan E book ( Sudah ada di  Mas David, Mas Ade dan Mas Dhimas , mungkin ada yg minat untuk E Book tersebut  )  yang bisa menjadi unen-unen bacaan hasil dari pengolahan spiritual, seni dan pengetahuan mereka  meski kita tetap patut selektif dan sensitif dalam mencari pemahaman didalamnya dan Patut kita hargai perjuangan BAIK mereka sebagai Sanggar Literasi Pencari Sejarah NON PROFIT.

Kemudian ada pembahasan tentang kenapa JAWA??

Saya mau sedikit menyampaikan dalam pembicraan : pada hakekatnya 3/4 bumi itu adalah JAWA . Dimana JAWA mempunyai sifat kesatuan dalam sebuah perbedaan. Sebelum agama agama masuk, JAWA sudah ada . Kebudayaan terkait Sejarah yang selalu mengacu pada keseimbangan. Tatanan yang Alami saat itu sangat seimbang antara kehidupan manusia dan sesama alam serta seisinya. Bahkan ada saudara kita dari Luar Negeri secara Spiritual mengatakan mereka harus mencari dimanakah pulau JAWA ( dan sering sekali rekan rekan luar negeri  secara spiritual sampai ke Sanggar DOING GOOD  hanya ingin mengikuti petunjuk yg mereka dapatkan untuk mencari BUDAYA SEJARAH JAWA ). Yang sangat di harapkan mengajak manusia manusia untuk kembali ke TATANAN JAWA  seperti rti JAWA sendiri ( Kesatuan Ukuran ) , meski dengan cara yang BEDA intinya semua tetap seperjalanan. Kita sebagai manusia secara pribadi patut mensyukuri hasil jerih payah mereka dalam membantu sisik melik . Meskipun semua adalah pendekatan-pendekatan yang mungkin sangat membantu kita .

Lunturnya pola hidup yang selaras dengan alam ini terjadi karena banyak faktor namun yang paling besar pengaruhnya bisa disimpulkan seperti di bawah ini :

  1. Karena pengajaran dari nenek moyang orang jawa yang unik dengan berbagai symbol dan kiasan (perlambang dan sanepan) sehingga membuat banyak penafsiran sehingga tak jarang justru penafsiran yang salah yang banyak dipercaya masyarakatnya.
  2. Pengaruh masuknya agama dan budaya modern membuat semakin lunturnya konsep hidup selaras dengan alam ini.

Pada masyarakat yang merasa modern menganggap bahwa budaya ini tidak rasional dan tidak ilmiah sehingga dianggap sudah tidak relevan dengan perkembangan jaman. Sementara dikalangan masyarakat agamis konsep ini dianggap bertentangan dengan ajaran agamanya, meskipun sebenarnya hal tersebut dikarenakan pemahaman spiritual yang sangat dangkal.
Kedua faktor tersebut, diakui atau tidak, sangat berperan dalam proses lunturnya konsep kehidupan budaya yang sarat dengan keselarasan terhadap alam.
Ironisnya justru kesadaran untuk hidup selaras dengan alam dan bahwa alam sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia justru mulai tumbuh dan berkembang di negara-negara barat yang lebih dikenal sebagai masyarakat yang mengedepankan rasio dan sektarian.

“Berbagai teori baru muncul dan meyakini bahwa alam berpengaruh terhadap kehidupan manusia baik dalam membentuk karakter, kehidupan ekonomi dan sosial sesorang. Sebuah teori baru di negara barat yang sudah dijalankan oleh nenek moyang orang jawa selama berabad-abad.”

Pembahsan  tentang Bhineka Tunggal Ika

Arti saat ini: Walaupun berbeda tetapi tetap satu ……( IKA nya tidak di masukkan ) , dari sisik melik yang mereka dapatkan  IKA -à Tunggal /ESA terkait dengan  Tuhan, jadi dari uraian terjemahan kata mereka sampaikan belum komplit.

Mereka meyampaikan : Bhineka Tunggal Ika merupakan sesutu yang bebeda beda tetapi tetap satu juga yaitu Tuhan itu ESA /Tunggal.

Bhinneka Tunggal Ika” sebagai  kearifan lokal  kita. Bukan dari mana mana . Dan, kearifan lokal ini adalah cerminan budaya bangsa kita.

Budaya kita bukanlah budaya yang berbasiskan teradisi saja – entah tradisi agama atau yang lain – tetapi berbasiskan “pengalaman spiritual”. Spiritualitas kita berada di atas kepercayaan-kepercayaan yang kita warisi dari nenek moyang kita sendiri atau dari luar.

Agama belum tentu dapat menemukan persamaan-persamaan seperti itu.  Karena, “pendirian” suatu agama adalah “pernyataan” tentang tidak setujunya sang pendiri terhadap agama-agama lain yang ada pada zamannya. Bila ia setuju dan hanya ingin melakukan pembaharuan, maka jelas ia tidak akan mendirikan agama baru.

Spiritualitas adalah sebuah kesadaran bahwa “agama” memang berbeda-beda, dan tidak dapat dipersatukan. Namun, “esensi” dari setiap agama, intisarinya satu dan sama. Kesadaran ini tidak diperoleh lewat pengetahuan, tetapi lewat pengalaman pribadi karena Agama bisa menjadi doktrin, sedangkan budaya tidak bisa.

Pembicaaran ke Kondisi Jaman sekarang:

Hal-hal sejarah dianggap tidak penting. PANCER PANCER yang membawa keseimbangan Alam mereka ambil utk koleksi (Pusaka,Candi , dan lambang lambang leluluhur yang diharapkan sebagai TANDA / TENGER/ supaya manuisa seagai penerus diharapkan oleh para LELUHUR tetap di JAGA untuk kesembangan bahkan  adat adat ritual sudah dianggap sesat karena munculnya DOGMA DOGMA yang dianggap paling benar). Sekarang kita bisa lihat sendiri bangsa kita sendiri saja jarang yang mau mengakui, bahkan merusak atau dianggap suatu hal yang sepele. Sangat perlu di mengerti Minimal bisa dimulai menyadari arti sebuah Sejarah  untk kembali ke TATANAN yang BENAR.

Untuk itu diharapkan sekali manusia bisa kembali mencari Seorang JAWA  Minimal bisa dimulai menyadari arti sebuah Sejarah  untuk kembali ke TATANAN yang BENAR.

Demikian tulisan saya  hasil dari pertemuan bersama saudara-saudara pelaku spiritual. Mulailah mencari keseimbangan dari dalam diri secara siklus, otomatis akan memberikan keseimbangan kepada sesama dan alam serta seisinya. Selalu tingkatkan kawruh dan laku dengan tetap selalu Eling dan Waspodo dalam setiap kesadaran kita tanpa ada cemas dan kuatir dalam keadaan apapun akan kehidupan individu yang akan menjadikan kita selalu berusaha untuk Sendiko Dawuh , Sumeleh.

Mudah mudahan semua makhluk mulai menyadari Tugas Panggilan masing-masing yang merupakan satu langkah kecil untuk menjaga kesimbangan DIRI, ALAM , dan Seisinya dan TUHAN Amin.

Salam Sejati
Dodo Yogya

Categories: Laporan Sarasehan | 12 Komentar

Navigasi pos

12 thoughts on “Laporan Sarasehan di Jogja

Comment navigation

  1. SIWA BUDDHA

    Rahayu…,

    Ya itulah Jawa-Kejawen…,

    Rahayu…

  2. 777777

    Kejawen itu hasil buddhi daya manusia jawa,jadi tergantung niat dan tekad masing2 pribadi yg ngejalaninya,bisa hitam ,bisa putih ,bisa juga bening tanpa bayangan.Bisa Kamanungsan,bisa Kadewatan,bisa Kapangeranan.Bisa juga juga kanuragan,bisa kautaman dan bisa juga kasampurnan.Bisa garis Anwar,bisa ANwas ,bisa juga garis ADAM/MANU.Bergantung kepada niat dan tekadnya sendiri serta pangkal dari daya hidup yg dihidupinya.Kebuddhayaan jawa itu luas sekali. Karenanya ga semua org kejawen itu sama karena lelakunya dan benih yg ditanam serta dihidupi mungkin saja berbeda bergantung kepada kesadaran dan kebutuhan masing2 pribadi.Tapi yah untungnya kita manusia jawa mempunyai jiwa Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa,jadinya yah segala perbedaan itu sesungguhnya sudah diliputi dan kawengku oleh pribadi kita sendiri karenanya bisa “bersatu tanpa perlu bersenggolan”.Nah itu yang sukar dimengerti dan diterima oleh manusia2 berpola pikir dan berbatin jajahan,manusia2 yang menjadi tamu di rumahnya sendiri,dan terasing dari pribadinya sendiri hingga tampaknya malu dan menyesal terlahir sebagai manusia di BHUMI NUSWANTARA sini he he he………..Tapi yah biar begitu,mereka juga saudara kita,biar begitu mereka juga masih merupakan bagian dari tanah sini,yah mesti di ayomi juga serta dibuat enak rasanya, layaknya tuan rumah yang senantiasa membuat enak rasa para tamu yah supaya kerasan tinggal disini🙂.

    Salam Sejati.

Comment navigation

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: