KAU MELIHAT DUNIA HANYA SEBATAS PANDANGANMU

KAU MELIHAT DUNIA HANYA SEBATAS PANDANGANMU 

Oleh: Kadhang Pangeran Aji Soko 

PandangankuIngatkah engkau ketika dahulu engkau mulai belajar berjalan?…. Ketika engkau mulai melangkahkan kakimu setapak demi setapak?…. Ingatkah engkau, ketika engkau pertama kali memandang segala sesuatu dari kakimu yang mungil?…. Segala sesuatunya terasa begitu jauh dan tak terjangkau oleh tangan-tangan mungilmu. Kaki kursi maupun kaki bangku seakan-akan tongkat untuk menahanmu tetap berdiri.   Di bawah meja makan merupakan tempat favoritmu, meja makan cukup untuk menudungi kepalamu…..

Kau menengadah ke atas dan melihat lampu-lampu indah, kau takjub dan kagum melihatnya, lalu kau mengulurkan tanganmu untuk menjangkaunya…. Tapi kau tak sanggup. Segala sesuatu nampak begitu jauh dan tak terjangkau bagi tangan dan kaki mungilmu yang berusaha untuk menggapainya.  Lalu kau mendengar sebuah suara memanggilmu…. Kau mencari berkeliling dengan tertatih-tatih, tapi kau tidak menemukannya. Suara itu memanggilmu lagi……  Kau semakin penasaran dan menjejakkan kakimu ke lantai cepat-cepat untuk mencari sumber suara itu….. Tangan dan kaki kecilmu berusaha menjaga keseimbanganmu ketika kau berlari untuk menemukan siapa yang memanggilmu.  Suara yang begitu lembut, suara yang kau tahu berasal dari orang yang mengasihimu…… Suara yang sama terdengar memanggilmu lagi, kau memandang sekelilingmu sekali lagi, tapi kau tetap tidak menemukan suara itu….

Yang aku lihat disekitarmu hanyalah mainan mobil-mobilanmu yang berserakkan, 4 buah kaki kursi, sebuah balon, beberapa buah buku, krayon dan nah akhirnya, tampat favoritmu meja makan. Kau berlari dan dan melonggok ke bawah meja makan, kalo-kalo sumber suara itu berasal dari sana…   Dan kau mendengar suara itu sekali lagi, disertai dengan tawa yang lembut. “Kemana kau mencari anakku? Lihat aku ada diatasmu….” Kau pun mendongakkan kepalamu dan melihat sumber suara itu… Ibumu berdiri di hadapanmu dan tersenyum melihatmu. Kau pun tersenyum dan berpikir: “Hei, lihat aku dapat menemukanmu……”  Lalu kau mengulurkan tangan mungilmu, mencoba mengapainya. Mencoba menciumnya, mencoba memegang tangannya. Namun, aduhhh!!! tanganmu tidak dapat mencapainya….

Tiba-tiba Ibumu terasa begitu jauh darimu. Ia berdiri menjulang tinggi dan tak dapat kau raih…. Kau mulai kecewa dan menangis…. Kau menginginkan ibumu!!! Kau ingin menciumnya, memegang pipinya, kau ingin menarik rambutnya. Kau menginginkan ibumu, tapi kau tidak dapat mencapainya … Ibumu terasa begitu jauh…. Dan tiba-tiba kau merasa tubuhmu terangkat. Ada…. sepasang tangan yang memegang pinggang kecilmu. Kau melihat ibumu tersenyum dan berkata, “Nah, aku menemukanmu!” Kau mengapai dengan tanganmu, dan HEI lihat, sorakmu kau bisa memegang pipinya…. Ia tertawa ketika tangan-tanganmu memegang pipinya. Bahkan ketika salah satu tanganmu menarik rambutnya … Ia tertawa dan ia menarik kau mendekat kepadanya dan mencium pipimu. Kau tertawa kesenangan. Akhirnya kau bisa meraih ibumu.   Oh tidak, akhirnya ibumu bisa meraihmu dan mendekapmu.    

Berapa sering kita merasa bahwa Tuhan jauh dan tidak terjangkau bagi tangan-tangan kita? Atau mungkin kita ingin sekali menjangkaunya.Tapi … upsss, tanganmuPandangan Mata kurang panjang. Kaki-kakimu kurang tinggi untuk dapat menjangkaunya.  Pernahkah ketika kita merasa bahwa Tuhan jauh dari kita, kita berpikir dan membayangkan diri kita seperti anak kecil dengan pandangan yang serba terbatas sehingga kita tidak bisa melihat bahwa sesungguhnya kita ada dibawah kaki-Nya!!! Kita ada kurang dari 10 cm dari hadapan-Nya…. Pandangan kita sangat terbatas… Tidak seperti pandangan-Nya!!! Pada pandangan-Nya kita begitu dekat, sehingga tangan-tangan-Nya bisa menjangkau dan menarik kita mendekat pada-Nya. Bagi-Nya kita begitu dekat, sehingga bunyi nafas kita pun terdengar oleh-Nya.  Ketika Ia menundukkan kepala-Nya, ada kita di dekat kaki-Nya. Ia tersenyum… dan tertawa ketika melihatmu mencari-cari-Nya, padahal kau ada di dekat kaki-Nya.

Dan akhirnya, ia mengangkat pingangmu, membawamu naik untuk dapat menciummu. Untuk membiarkanmu memegang pipi-Nya, untuk membiarkanmu menarik rambut-Nya. Ia ada dekat sekali denganmu…. Yang kau perlukan hanyalah menjulurkan tanganmu keatas, menengadahkan kepalamu, dan Ia akan mengangkatmu ke atas. Ia akan membungkuk dan mengulurkan tangan-Nya….. Jika kau merasa begitu jauh dari-Nya, INGAT KAU ADA DIDEKAT KAKINYA….   Bagaimana  dengan kita? bagaimana cara kita memandang “dunia” kita…bila kita masih makan yg sanggup kita bisa makan…ya makan aja.Kesadaran akan makanan itu adalah cara pandang dan cara kita bersikap….    

Yang mengerti mengertilah…  

Categories: Renungan | 4 Komentar

Navigasi pos

4 thoughts on “KAU MELIHAT DUNIA HANYA SEBATAS PANDANGANMU

  1. sastroroso

    tergerak karena bahasa puitis, karena dalam hati kita ada keindahan (bahkan dalam setiap sel-sel tubuh, seperti yang dibilang mas Sujiatmoko). Dalam setiap percik keindahan ada gambaran agung tentang DIA yang memukau: Gusti Seru Sekalian Alam! dari tergerak menjadi bergerak.dari rasa pribadi menjadi rasa utuh dalam kebersamaan.
    pelan-pelan, namun pasti kita bertumbuh, dari kesadaran indrawi ke kesadaran ruh.membuka penghalang duniawi dengan membuka diri dan pengertian. Bersahabat dengan diri sekarang dengan kepekatannya, dan membiarkan kepekatan itu berlalu… seperti ulat, bila kita hanya sanggup makan ya makan saja,kesadaran akan makanan itu adalah cara pandang dan cara kita bersikap…. suatu saat jika kita memupuk kesadaran pasti akan menjadi kupu-kupu yang menghiasi dunia.
    Suatu saat kita akan menjadi ‘orangtua’ yang sama..

  2. y.Hendrayana

    tulisan mu cukup bagus, dari sisi Psikologis Memang Aku Angkat Jempol Joss.

    yang kau perlukan hanyalah menjulurkan tanganmu keatas, menengadahkan kepalamu, dan Ia akan mengangkatmu ke atas. Ia akan membungkuk dan mengulurkan tangan-Nya….. Jika kau merasa begitu jauh dari-Nya, INGAT KAU ADA DIDEKAT KAKINYA

    bahasa dan ungkapan “ruh” dengan “kepekaan jiwa terhadap rasa” inilah yang selalu harus ditumbuhkan didalam insan seseorang.

    terkadang bahasa puisi selalu bisa meningkatkan “rasa Dahaga” terhadap ‘krinduan” pada seseorang yang sedang ia cintai dan rindukan, tapi setelah itu haruslah kita “bergerak’ (dengan tangan kita), jangan hanya “tergerak”

    kepribadian haruslah terungkap dalam bentuk perbuatan atas landasan rasa.

  3. sujiatmoko

    Subhanallah ….
    Tulisan kang Josie seperti mencetak ulang foto dari film kehidupan ku.
    Ketika membayangkan Allah ada di langit dan sangat sulit sepertinya untuk menuju-Nya dengan dilapisi 7 langit … 7 neraka …7 syurga dan 7 samudra hingga Singgasana Agung Sang Maha Perkasa …Arsy’ Allah Yang Maha Segala-galanya. Hingga diri terkesima dengan rangkaian ayat-ayat Al Qur’an : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka , bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (Al Baqarah; 186)”. Dimanakah Allah sesungguhnya ? Pencarian pun dimulai … bahwa Ruh Allah ada berada dalam tubuh kita. Diawali tubuh kasat, masuk kebawah kulit, ada daging/otot-pembuluh darah dan tulang. Masuk kedalam lagi, ada sel-sel tubuh. Masuk kedalam lagi, ada molekul-molekul. Masuk kedalam lagi, ada atom-atom. Masuk kedalam lagi, ada ion (proton dan electron). Masuk kedalam lagi …. Ternyata hampa … tidak ada apa-apa. Dimanakah Ruh bersemayam ?

    Kembali keluar kulit,….
    Ada lingkungan … naik keatas, terlihat kota/wilayah … naik keatas lagi, telihat pulau … gugusan pulau… gugusan benua…. Bumi …trussss keatas …. Tata surya … galaksi … gugusan bintang … semesta raya …. Trusss… keatas … ternyata kosong …. Dimanakah Allah ?

    ….dan akhirnya, jawaban kutemukan bahwa DIA Yang Maha Agung berada diatas Arsy’ Yang Agung yang dipanggul oleh delapan malaikat. Dan Ruh Allah lah yang menggerakkan proton dan electron untuk tetap terus bergerak yang berarti ada kehidupan dengan ijin dan kuasa ‘Induk Ruh’ itu sendiri …Allah Yang Maha Agung …yang dipersatukan dengan memi’rajkan Ruh Allah dalam diri untuk bersilaturahmi dengan Ruh Allah diatas Arsy’ …

    Terkadang jubah keduniawian menjadi penghalang untuk lebih bisa mendalami rasa Qolbu …
    Iri …dengki…serakah …hawa nafsu…cinta keduniawian …akan menjadi penghalang dalam pencarian jati diri manusia … untuk masuk kedalam ‘Kesejatian’ … ‘Kemanunggalan Kawula lan Gusti’ ….

    Kapan nich Kang Josie membimbing saya …?

    Salam

  4. anton Loewijono

    Apakah karena pandangan saya sudah di penuhi oleh benda2 keduniawian jadi pandanganku kepadaNya skr agak kabur bahkan suram, tetapi hati ini selalu rindu dan ingin melihatNya. Cuma dulu waktu kecil kuingat pernah mencariNya di langit yang biru, berandai-andai Tuhan ada disana, jadi teringat masa2 indah, sebelum akhirnya pandangan ini dikotori oleh bayang2 benda duniawi yang merusak bola mata ini, smoga saja pandanganku dapat berubah menjadi pandangan sperti yg diceritakan oleh qd Josie diatas. Trims ya sudah diingatkan lagi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: