” Ketika Kita Berada Pada Persimpangan Jalan…”

” Ketika Kita Berada Pada Persimpangan Jalan…”

Oleh: Kadhang Josie Pandiangan 

Tidak ada seorangpun seperti aku..
seperti aku mencintaimu..
seperti aku mengagumimu..
seperti aku akan menjagamu..
seperti aku mengasihimu…

cinta.jpg

Aku pencinta cinta..
aku pengagung cinta..karna akulah
cinta itu..akulah sayang itu..sadarkah
engkau duhai pujaanku?
Begitu dalam sayangku..dalam dunia
ndak terbatas aku berbicara..

Dia diam..dia tenang..dia ibarat air
tenang dan sejuk yg membuat orang
ingin menikmati air sejuk itu..ketika
dia melompat masuk,maka ia akan
berkata..

“alangkah segarnya air
ini,membuatku segar..hilang
penatku..bersih badanku..aku mau
menyelam kedalam air sejuk ini.. 

Wow..semakin dalam semakin sejuk
air ini dan jernih sekali..betapa
indahnya suasananya penuh beraneka
warna-warni ikan2 didalam penuh
bebatuan yg aneka ragam..ndak
terucapkan indahnya…

Engkau akan merasakan itu
pujaanku..selami aku..nikmati
cintaku..bukan dgn rasa yg kan engkau
alami tapi sebuah kepuasan demi
kepuasan yg ndak bakal habisnya karna
engkau membutuhkan itu…

Kepuasan apa yg engaku butuhkan?
selami diriku..nikmati betapa sejuknya
air ini..aku mau menyirami engkau
dgn tetes air ini..engkau ndak mau
mencobanya..engkau ndak mau
merasakannya…

Engkau ndak perlu berletih..ndak perlu
memberikan sesuatu yg buatku puas..aku
kan memberikan kepuasan itu..itukah
yang engkau mau?

Aku berjanji menhujanimu dengan cinta
yg tlah lama berlalu seiring dgn
waktu..sebenarnya apa arti waktu itu?
sadarkah engkau akan waktu itu..dia
kejam..dia jahat..dia memalsukan apa
yg harusnya milikku!!!

Apa engkau percaya dengan waktu yg
ilang itu? perlukah aku membalikkan
waktu itu? sadarkah engkau akan waktu
itu?

Waktu..dia ndak ada..yg ada adalah
sebuah cinta..waktu itu adalah akibat
dari ketidaksadaran kita…kitalah yg
menciptakan waktu itu..kita mengira
kita berubah,bergerak, ada aktivitas… 

Pandang bumi dia berputar
dengan kecepatan tertentu sehingga
manusia didalamnya ndak merasakan
perputaran bumi itu…siapa bergerak?
bumi apa manusia didalamnya?

Aku sedang belajar dindaku..belajar
mengenal apa adanya hidup ini
dek..belajar mengenal aku
sejati..belajar mengenal sang pencipta
ini..belajar dan belajar..bukankah
kita dididik buat itu,melalui
air,tanah,burung dan semua yg ada di
mata kita?

Apa yg harus kulakukan sayangku biar
engkau percaya? inilah waktu yg
kubenci!!

Aku saat ini hanya bisa berkata ”
ALLAHku…ALLAHku….dlm
keterikatanku,dalam kelemahanku yg
adalah kekuatanku..aku pasrah pada
ENGKAU…jadilah kehendakMU
padaku..aku hanyalah alatMU yg suatu
saat akan kembali pada ENGKAU…buat
aku semakin ngerti apa yg kualami..apa
yg kurasakan..apa yg kumau..apa yg
harus kujalankan..yg membuatku semakin
mengerti seberapa keberadaanku..dgn
demikian aku mengenal aku apa adanya
dan ENGKAU ttplah ALLAHku…

yg mengerti..mengertilah…

buat engkau yg ada dan ttp ada….

Categories: Serba Serbi | 5 Komentar

Navigasi pos

5 thoughts on “” Ketika Kita Berada Pada Persimpangan Jalan…”

  1. gondo arum

    weleh … kok kayak pat kai yah … derita cinta tiada akhir huehehehe…
    jangan marah ya Jos..

  2. iin

    Wow….!!! What a romantic poetry !!! Cinta….memang berjuta rasanya ! Bisa bikin daya kreativitas memancar dengan indahnya….😀

  3. Ngabehi Kiduling Mesjid

    Puisi adalah bahasa jiwa, bahasa dalam puisi menggambarkan keadaan sepiritual seseorang.Suatu hari saya bermain kerumah sahabat saya.Setelah ngobrol sebentar, ee justru saya ditinggal begitu aja, bahkan dia sibuk mungutin sesuatu dari bawah pohon, setelah saya amatin ternyata dia sedang sibuk mungutin ulet bulu dan dipindahkan dari tempat kami duduk, tak berhenti disitu tindakanya,bahkan kemudian dia ngambil gitar dan bernyanyi sendiri dengan asyiknya,Sialan, saya datang jauh-jauh tapi tak dihiraukannya.Namun setelah saya perhatikan lagunya, ternyata nyanyian itu bukan lagu sembarangan, nyanyian itu sarat dengan cerita perjalanan dan perjuangan ruhani.Hati saya begitu tersentuh mendengarnya. Setelah beberapa lama bernyanyi, beliau berhenti dan berkata, taukah tindakanku tadi telah menyelamatkanmu dari tindakan bodoh dan aku berusaha untuk membuatmu cerdas dengan mendengarkan lagu-laguku.Bukankah kamu tadi bermaksud membunuh ulet-ulet itu dan menganggap bergitar itu tidak mendatangkan apa-apa,Subhanalloh begitu picik diriku ini, puisi, nyanyian, pantun dsb kadang bisa dipakai untuk mengekspresikan pengalaman dan pencapaian Spiritual kita.

  4. Sujiatmoko

    Wuiihhh….
    Mirip sekali bahasa dengan puisi nya Rumi … Luar biasa ..
    Kecintaan yang mendalam kepada Allah seperti halnya sufiwati Robiah yang tidak akan pernah bisa membenci Iblis karena hatinya telah dipenuhi oleh kecintaan kepada Allah Azza wa Jalla, Dzat Yang Maha Agung. Saking cintanya kepada Allah hingga sirna semua kebencian terhadap semua mahlluk ciptaan Allah ….

    Luar biasa ….

    Salam

  5. oskar

    wah sejak kapan aparaku ini pinter berpuisi…
    apara…buatin puisi cinta donk..hehehehe

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: