Kebersamaan yang Bertujuan

Kebersamaan yang Bertujuan
Oleh: Kadang DQ

Salam Ganjel.

Diskusi jarak jauh antara Kadang Dq dengan Kadang David terjadi di sela-sela santai jelang makan siang.

resize-of-wayang-dialog.JPGDq: Kadang David…….. Malam Jumat Kliwon kemarin (tgl 8 Maret) saya menyempatkan diri untuk ke Bandung, untuk ikut Kliwonan (ceritanya kangen nih buat ketemu para kadang). Yang datang waktu itu (selain saya) yakni kadang Rudi, kadang Clara, kadang Menik dan juga Bu Joko.

David: Wah… bagus dong.. memang kita harus senantiasa selalu meningkatkan kebersamaan untuk selalu berkumpul diantara Para Kadang. Dan saya yakin teman-teman yang di luar kota juga memiliki kerinduan yang sama seperti yang Kadang Dq rasakan.

Dq: Kita berempat mendiskusikan topik yang sedang hangat yakni tentang ‘meditasi bareng pukul 22.00′ yang digagas oleh Mas David.

David: Oh Iya…. seperti apa diskusinya?

Dq: Intinya, kita mennyambut baik ajakan meditasi bareng tersebut, hanya kemudian dari Bu Joko bergulir pertanyaan, “Tujuannya untuk apa?” saya jawab waktu itu “biar kompak Bu, seperti kata mas David, untuk kebersamaan’. Bu Joko bertanya lagi,’Kebersamaan dalam hal apa?” “dalam hal kebenaran Bu, minimal kediplinan fisik”,jawab saya.

David: ehm….. tujuan ya? Lalu?

Dq: “tapi kebenaranku dan kebenaranmu saja bisa berbeda lho Dik!” Sambung Bu Joko. “ya kebenaran ajaran gantharwa” balas saya lagi. Lanjut Bu Joko, “Seperti orang ke gereja, meskipun ada misa, tapi pikiran dan doanya bisa berbeda-beda”

David: Kalau pun berbeda, mungkin berbeda konsep, bukan Tujuan. Dan saya rasa itu bukanlah masalah kalau berbeda konsep. Inti meditasi adalah agar kita menjadi WRUH (mengerti) akan sesuatu, sesuatu itu bisa muncul dari tuntunan.

Dq: tambahan lagi; “seperti kita bermeditasi juga kan motivasinya beda-beda,meskipun jamnya dapat disamakan,tapi motivasinya bahkan tehniknya bisa berbeda’ timpal Kadang Rudi.

David: apa yang dikatakan oleh Bu Joko dan Kadang Rudi betul sekali, memang arah dan tujuan musti harus jelas, namun satu hal juga yang harus dicerna dari apa yang dikatakan Bu Joko adalah Beliau ingin mengajak kita untuk memahami sesuatu yang kita jalankan, jangan terlalu ashik untuk meraba-raba yang tidak jelas dulu.
Maka kalaupun mau lakukan, apa dulu hal yang pertama yang harus kita tangkap adalah apakah hal yang saya lakukan apakah memberikan tujuan bagi saya untuk makin dekat dengan Gusti Allah! Dan saya rasa, sebagai bagi Anak Gantharwa, tentu sudah jelaslah apa yang kita mau tuju sudah harus kita tahu, bukan menebak-nebak atau raba-raba lagi, kalau masih berputar disitu, lama kelamaan tidak pernah melakukan apa-apa. Kira-kira saya menangkap apa yang di uraikan Bu Joko. Kadang Dq sendiri menangkapnya seperti apa?

Dq: Memang, seperti kata Bu Joko, kebenaran kita (=persepsi kita terhadap kebenaran)dapat berbeda.

David: Konsep boleh beda, tapi tujuannya harus sama. Lalu?

Dq: Juga kebersamaan itu juga ‘harus’ ada tujuannya, sebagaimana kediplinan fisik itu juga harus ada tujuannya, tujuannya apa? kedisplinan Roh.Tapi menurut saya, Roh itu ‘tidak butuh’ kedisplinan, karena Roh secara Roh sudah mengerti (bersifat ilahi), yang butuh untuk disiplin adalah tubuh fisik kita, PIKIRAN kita agar kesadaran Roh kita dapat tercapai dan menjadi dominan. Seseorang yang telah sampai kesadaran Roh jusru seringkali tidak disiplin, kayak Pak Joko yang jarang meditasi ) karena sibuk ngelayani tamu/murid), bahkan mengajurkan tipe meditasi ‘mangan enak tidur nyenyak’ (hanya yang sudah mengerti).

Yang jadi pertanyaan, sungguhkah kita sudah mengerti?(ojo rumongso biso, biso ngrumangasani!) sudah ‘samakah’ tingkat pengertian kita?kalau belum ayo kita bersama-sama meningkatkan dan menyamakan pengertian hingga suatu ketika bahkan pengertianku = pengertian milik Allah(manunggaling).

David: Kadang Dq…. saya ingin tanggapi Roh Yang bersifat Ilahi, karena bertentangan dengan pernyataan yang dibawah bahwa sampai Roh harus Dominan. Kalau sudah sifat Ilahi kenapa harus fisik, pikiran untuk didisplinkan? Bukankan ini pernyataannya sama dengan Kedisiplinan ROH? Kalau roh memang sudah dianggap tidak perlu disiplin, karena sudah sifat ilahi, buat apa kita belajar Kawruh? Apakah roh butuh itu? Tentu tidak, bukan? Ternyata Roh itu butuh. Saya akan Analogikan. Apakah Setiap yang bersifat cairan disebut air minum? Kalau iya, maka minyak, air kotor, dan yang lain pasti bisa diminum. Pastinya tidak, bukan? Contoh sederhananya lagi adalah sifat manusia itu pada umumnya cenderung egois. Apakah itu bukan menandakan bahwa roh kita tidak disiplin atau tidak mengerti, karena roh telah mengingkari sifat ilahinnya yang sosial?

Maka saya rasa adalah Roh bersifat ilahi itu benar, namun apakah saat ini, Roh kita ini memang telah kembali menunjukan sifat ilahinya? Kalau belum lantaran kita terlalu nurut daging/fisik. Dan apakah itu bukan cita-cita dari orang mistikus, agar Roh kembali menjadi Raja bagi tubuhnya? kalau hanya berdasarkan pernyataan bahwa Roh bersifat Ilahi saja, maka cita-cita itu tidak perlu. Jadi saya rasa penyataan yang lengkap adalah Pada awalnya Roh itu bersifat Ilahi, namun dalam perjalanannya roh telah luntur sifat ilahinya, untuk kembali ke sifat ilahi, roh harus di disiplinkan, dengan cara fisik di taklukan dengan disiplin, yaitu salah satunya belajar kawruh kebenaran, melatih diri akan kawruh (Laku).

Saya juga mau mengatakan bahwa kalau ada Kadang yang sudah tahap Rohnya sudah mengeti atau kembali bersifat ilahi, maka BERBAHAGIALAH.

Kalau kita bandingkan dengan disiplinknya Pak Joko tentu berbeda sekali. Disiplin yang dijalankan lain dengan kita, karena levelnya berbeda. Akan tetapi jangan dilihat bahwa Pak Joko tidak bermeditasi, karena setiap saat adalah meditasi bagi dia. Tidak perlu duduk, nah… kita sering sok dan bergaya mau ikutan seperti itu, padahal Pak Joko telah melewati proses sebelum kesana, yaitu melakukan hal yang paling mendasar. Kita contohkan tentang disiplinnya pak joko yang kecil saja, karena tujuan meditasi untuk disiplin fisik juga (salah satunya). Berapa kali kalau kita ngobrol sampai jam 3 pagi/subuh, dan jam 5 pagi dia telah bangun berangkat antar anak sekolah. Setelah kembali, kadang kita masih tidur, terus dia melanjutkan pekerjaan dia, lalu kadang buatkan kita kopi atau teh (masih inget?) Apakah itu bukan suatu disiplin yang sangat tinggi. Ini baru contoh hal kecil.

Dan Benar kata Kadang Dq.. kita tidak boleh ojo rumongso biso, biso ngrumangasani!

Dq: Dan hembusan angin pertama itu sudah dihembuskan oleh kadang David pada api Gantharwa yang kian meredup,dengan mengajak untuk meditasi bersama. hanya yang perlu dipikirkan lebih lanjut adalah kebersamaan itu mau ditujukan untuk apa? seperti juga pernyataan ‘bertemu Allah itu tidak sulit, tapi sesudah bertemu mau apa?
Alangkah baiknya kalo energi dari kebersamaan kita diarahkan untuk sesuatu hal, sehingga kemanunggalan kita menjadi nyata dan kita dapat maju bersama-sama dan membuat karya nyata bersama-sama pula.

David: Betul sekali… kita harus punya tujuan, maka sekalian saya mengajak semuanya untuk fokus dan tujuan pertama meditasi adalah mendoakan negara (bisa dilihat di halaman Jayalah IndonesiaKu bentuk doanya, minimal setiap sabtu.
Lalu apa lagi yang dibicarakan di Kliwonan?

Dq: Yang juga perlu diwaspadai adalah ketika kita senang bermeditasi bersama, nanti dapat lebih membuat malas kita untuk bertemu secara nyata. Sedangkan untuk menambah kaweruh, selain kita harus banyak kontemplasi (perenungan) juga harus adan pertukaran (sharing). meditasi itu (dalam arti ‘duduk diam’), dapat berbagai tehnik, intinya mencapai kestabilan (kekuatan,ketekunan,fokus) tapi untuk mencapai sesuatu tetap saja kita masih harus melangkah dan meraihnya.

David: Benar Sekali Kadang Dq…..

Dq: Jadi kesimpulan dari kliwonan kemarin adalah kebersamaan kita lebih baik lagi kalo diarahkan. misalnya, untuk kemajuan diri pribadi maka kita semua (misalkan) dari jam 22.00-22.15 melakukan meditasi dengan membayangkan pelajaran Jawa (hari Senin)hari selasanya bisa topik lain lagi dst, hingga hari Sabtu diarahkan untuk mendukung para kadang kita yang berkumpul di padepokan untuk membahas masalah politik/kebangsaan. selepas jam 22.15, meditasi dapat dipergunakan secara bebas untuk masing,masing, seperti keheningan, pernafasan, konsentrasi atau doa permohonan dengan tehnik yang dimengerti oleh masing-masing.

David: Nah… itu sudah tahu tujuannya dan sudah disarankan, memang seharusnya Kadang yang lain juga mengerti tentang itu. Makanya yang baru tahap belajar kita tidak anjurkan. Tapi sekali lagi waktu bukanlah batasan, akan tetapi kita harus disiplin, seperti halnya doa pager yang harus disiplin pada waktu tertentu. Minimal kalau yang tidak melakukan dia inget bahwa; oh… saat ini (Jam 22:00Wib) ada kadang yang lagi meditasi. Bagi yang tidak bisa jam 22:00 wib, ya… sediakan waktu, tapi janganlah itu jadi alasan.

Dq: Akhirnya, Kliwonan kemarinpun ditutup dengan meditasi bersama (pas jam 22.00)dengan tujuan mohon berkat Allah bagi diri masing -masing.
Memang yang dibutuhkan memang bukan sekedar teori, tapi tanpa perencanaan, tanpa ‘peta’ yang sempurna, tanpa kaweruh yang lengkap tetap saja tujuan kita(manunggaling Gusti-kawula) takkan pernah persis dapat tercapai. kalo mengutipkata Ba pak : “kurang kaweruh sedikit saja, anda takkan bisa mencapai kemanunggalan.paling-paling juga mendekati..”
Jadi penting bagi kita,setiap hari selalu bertanya dulu “apa sesungguhnya yang mau kita capai?” sehingga seluruh laku kita dapat kita arahkan untuk mencapai tujuan kita tersebut.
“kaweruh tanpa laku adalah mimpi, laku tanpa kaweruh hanyalah laku yang asal-asalan..”

David: Betul… dan mustinya anak Gantharwa berlisensi paham akan ini. Karena semua dari kita telah ada peta, Kawruh yang lengkap.

Dq: Dulu fokusnya adalah Pak Joko. Sekarang adalah diri kita semua, Para Ganjel Muda, pengertian-pengertian yang tercecer, yang bila disatukan akan sungguh-sungguh mengembalikan sosok Guru yang kita cintai..
buat mas David mungkin dapat bantu membuatkan tujuan dari meditasi bersama kita, buat kadang yang lain jika mau membuat usulan silahkan hubungi mas David.

David: saya sangat senang bisa membuatnya, namun saya kira keterangan dari kadang Dq sudah jelas, bahwa sebenarnya kita sudah punya tujuannya. Namun kalau memang mau lebih terarah saya bisa konsepkan, dan akan kita konsultasikan dengan guru kita dulu Ibu Joko. Namun saya yakin tidak semua akan menjalani, contohnya :baru ajak meditasi saja, tetap tidak semua yang mau melakukan, apalagi kalau buat tujuan meditasi, nanti akan timbul, ini bukan untuk mereka, tujuannya bukan untuk mereka, dll. Namun kita hanya menawarkan saja.
Intinya hanya satu, Ilmu Gantharwa tiada duanya. Kalau tidak percaya coba/rasakan sendiri sampai tuntas.
Okey Kadang Dq… terima kasih bincang-bincangnya. Salam

Dq: Salam lagi, DQ

Categories: Kliwonan | 12 Komentar

Navigasi pos

12 thoughts on “Kebersamaan yang Bertujuan

Comment navigation

  1. candra

    Saya masih ingat waktu bapak masih hidup, bapak pernah bercerita panjang lebar. tg pelajaran (kalau gak salah) temanya ttg Allah. Dasar murid kurang ajar, yg saya ingat bukan pelajaran yg diberikan selama 2 jam itu, tapi beberapa kata terakhir yg beliau ucapkan di 3 menit terakhir. Bapak berkata,”Enak yah ada dalam pangkuan Allah.” (sambil ketawa cengengesan -gak jelas- hahah).

    Bgm kalau kita berandai2 bhw meditasi itu adalah sesuatu dgn suasana yg sama dirasakan bapak sewaktu mengucapkan hal di atas kepada saya? (mungkin, masih dalam berandai2), kita akan merasa 15 menit, pukul 22.00 sangat kurang? Mungkin.. akan lebih baik bila kita mengajak teman2 kita merasakan yg kita rasakan? (masih berandai2..)

    By the way, salut buat ide untuk ide sesi meditasi bersama, semoga terus bisa langgeng!

  2. Andra (Red)

    Para Kadang
    Pertanyaan usil (karena pingin tahu)…dimana sekarang sang Guru berada? Dapatkah sang Guru ditemui? Apakah orang yang tercerahkan akan berbeda ketika dia hidup atau ketika mati? Dapatkah seseorang yang tercerahkan memilih dengan cara apa dia meninggal?
    Pencerahan please

    (Sang guru tidak berada dimana-mana, Sang Guru bisa ditemui nantinya. Pencerahan tidak ada hubungan dengan masih hidup atau mati secara fisik. Tentu saja bisa memilih apa saja untuk cara mati, tapi apakah mereka mau memilih sendiri? Red)

Comment navigation

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: