Genthur Tapa Bratane

Genthur Tapa Bratane
Oleh: Kiai Ganjel

Kliwonan Kamis malem Jumat, 22 Februari 2001,
Disalin: Kadang Gondo Arum

• Dalam mempelajari sesuatu musti Genthur tapa bratane dan janji pada Tuhan juga harus diwujudkan (meningkatkan kaweruh dan laku)
• Metoda belajar umum adl sbb:
– praktek langsung
– analisa
– menyakini
Tapi di Gantharwa terbalik .. meyakini dulu.. menganalisa baru praktek langsung ..
• Tips ‘n trik dari Pak Joko: kita kudu menepati janji dengan semangat lebih .. mulai dari apa adanya, nggak maksa dan nggak mereka-reka … makanlah selagi tdk lapar dan minumlah selagi tidak haus .. maksudnya adalah bila melakukan sesuatu tidak dengan nafsu atau emosi ..

Categories: Kliwonan | 5 Komentar

Navigasi pos

5 thoughts on “Genthur Tapa Bratane

  1. Ki Kalamwadi (Red)

    Pak Mod..
    Yang dimaksud kehendak Gusti Allah (kersaning Gusti) itu yang kipiye to.Apa tip di atas sama dengan , Pemahaman, Pendalaman,dan pembuktian.
    Pemahaman :berusaha untuk betul-betul mengerti, mempelajari sesuatu yang akan kita cari(gali).
    Pendalaman :Memilih jalan atau cara yang akan kita gunakan untuk untuk membuktikan yang kita fahami.
    Pembuktian : Praktek (Tarekat)
    Mohon sharingnya

    (Saudaraku, apa itu Kehendak Gusti Allah? itu adalah pertanyaanya, sedikit kami sharingkan bahwa Kehendak Gusti adalah berbuat KEBENARAN, namu kebenaran yang ada pada diri manusia masing-masing masih relatif dan masih kebeneran menurut KU, KelompokKU. Jadi Kebenaran yang sejati itu harus seperti apa? Kalau singkatnya adalah jika seorang sampai pada Manunggaling Kawula Lan Gusti (MKLG), itulah kebenaran yang sejati bukan relatif lagi. lalu bagaimana pemahaman, pendalaman, dan pembuktiannya? Sederhananya adalah Turunan dari MKLG adalah bahwa setiap manusia harus menjadi Raja atau yang beperan utama dalam kehidupannya, beperan akan dirinya, dan diluar dirinya. Bagaimana aplikasinya? aplikasinya adalah bahwa setiap orang harus memiliki KEMAUAN (KARSO) yang selalu menuju kepada GUSTI (sederhananya menciptakan pengampunan), setelah ada kemauan lalu KERJA (KARYO) atau berproses dengan Gentur Topo Broteone Sakti Mondrak Guno, dan hasilnya adalah RASA nya yaitu Damai dan Sejaterah. Memang kalau mau dijelaskan secara pasti sangat panjang, tapi kalau mau semua materi yang sudah ditulis silahkan dirangkai nanti akan ketemu atau masuk ke dalam pelajaran Gantharwa (Belajar) akan jelas pemahamannya. Semoga ini dapat menginspirasi saudara. Red)

  2. gondo arum

    saya mau cerita sedikit… dengan topik bahasan tersebut guru mau mengingatkan kita kalau melakukan sesuatu tdk bisa dengan nafsu..tapi bukan berarti asal2an tanpa semangat, karena nafsu dan semangat tampilan luarnya sama tapi sikap batin si pelakunya berbeda…
    Apalagi kalau kita mau ngangsu kaweruh di padepokan Gantharwa.. jangan mengejar kanuragan atau kesaktian karena pasti akan terjungkal ditengah jalan …
    kapan lagi kita bisa ketemu dengan “Kaweruh Jawi Ingkang Sejati”
    mari kita terus belajar …

    salam,
    Gondo Arum

  3. Salam sejati

    Wehhh iki angel meneh
    Wes ben ora popo seng penting, angelo koyo ngopo yen di goleki mengko lak yo ketemu.
    Sembah nuwun

    salam

    Darmanto

  4. Sujiatmoko

    Salammu’alaikum
    Saya setuju dengan pandapat pak Moderator, bahwa apa yang disampaikan oleh Kiai Ganjel tidak dengan serta merta diartikan secara harfiah. Kalimatnya harus diterima (sami’na wa ato’na), direnungkan .. baru kita bisa pahami. Kalimat-kalimat yang sama (maknanya) dengan kalimat yang disampaikan oleh Qur’an (bahwa Allah lebih dekat dari Urat leher manusia …), yang disampaikan juga oleh Al Hallaj (bahwa Ana Al Haq, Aku adalah kebenaran. ‘Aku’ disini dimaknai : ‘Aku’ sebagai Manusia bahwa keberadaan manusia adalah kebenaran bahwa Allah itu ada. Dan ‘Aku’ sebagai Allah, bahwa Allah lah yang Maha Benar dan kata ‘AKU’ sesungguhnya hanya boleh diucapkan oleh Allah dimana aku adalah symbol kekakuan, ke-ego-an yang hanya akan mengotori perjalanan menemukan kebenaran sejati untuk bersatu dengan sang Gusti Yang Maha Agung). Seperti juga yang disampaikan oleh Kanjeng Siti Jenar bahwa manusia hanyalah bangkai/ mayat hidup karena yang membuat manusia menjadi hidup adalah Ruh Allah yang ditiupkan Allah. Oleh karenanya manusia hanyalah tulang berbungkus daging (otot) dan darah jika tanpa Ruh milik Allah saat ketika kedua Ruh (Ruh Allah yang ada dalam diri manusia dan Ruh Allah yang bersemayam di Arsy’) menjadi satu.
    Kalimat-kalimat ini jika hanya dipahami sekilas akan memberikan makna dan arti secara harfiah saja. Sedangkan kalimat yang disampaikan oleh Kiai Ganjel memberikan arti dan makna yang lebih dalam dari sekedar arti harfiah nya ….seperti halnya kalimat-kalimat Qur’an, sufi dan pelaku tasawuf lainnya …

    Semoga kita tidak mudah terjebak dengan pemahaman dan pengartian secara harfiah saja, tapi qolbu kita mampu mencerna kalimat-kalimat dengan jelas …
    Mendengar kata tanpa suara …
    Melihat api tanpa nyala …
    Merasa sentuhan tanpa menyentuh atau disentuh …

    Wassalamu’alaikum
    Atmo

  5. rahayu wilujeng
    Ketika musim hujan akan tiba, kita sering merasakan hawa yang sangat panas menyentuh kulit. Barangkali kita teringat saat hendak makan durian yang dijual di pinggiran jalan, alangkah harum bau itu hingga menjadikan air liur jatuh tak terasa saat keinginan merasakan manis dan lezatnya daging durian yang terbungkus oleh kulit keras nan berduri. Menjelang penghabisan musim “ketigo” maka akan datang musim “rendeng” (penghujan) disitulah buah mulai bermunculan, dari mangga, nangka, leey, dan durian. Begitu lama menanti musim buah2an yang terkadang membuat kita bosan dan malas menunggu buah itu.
    Aq memaknai maksud bahasa filsafat dari “makanlah selagi tidak lapar, minum selagi tak haus” mempunyai maksud yang mendalam, dan ini bisa di jabarkan dengan luasanya “apakah artinya”???????????
    Kadang hanya jawaban yang mereka-reka yang ku dapat????
    Apakah sesungguhnya arti itu, kalau kita memaknai kalimat itu secara bebas. Jika riil kalimat ini bertolak belakang dengan kenyataan, “mana ada orang kenyang makan lagi, ga haus minum”???? imposiblle, mungkin kita akan bilang “kemaruk” (serakah) hehehehhheheheh kayak aq.
    barang kali maksud di luar nafsu, bisa di hubungkan mohon di jelaskan secara rinci jelas, logika, dan mengandung makna religi.
    sembah nuwun
    nuwun
    wong abangan
    (Saudara Darmanto, Kyai Ganjel sering menjelaskan segala sesuatu dengan bahasa yang sederhana, namun kalau itu sulit dimengerti lantaran pengertian yang belum sama saja. Maksud dari penyataan tersebut adalah Makan artinya “Melakukan Kehendak Gusti Allah (Pasrah Kersaning Gusti)”, sedangkan Minum (Air) artinya “Memberikan Kehidupan (Urip Iku Hanguripi/ Hidup itu menghidupi)”. Jadi dari artinya ini mungkin saudara/pembaca lainnya sudah bisa mentafsirkan/menterjelmakan dengan baik. Atau kalau masih sulit, mungkin kita bisa masukan maknanya: Lakukanlah kehendak Gusti Allah terus menerus walaupun/selagi kita sudah puas (tidak lapar/kenyang) telah melakukan =Jangan berhenti lakukan kebenaran. Hidupilah orang lain selagi kita masih hidup (tidak haus). Semoga terispirasi. Red)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: