jump to navigation

SEMBILAN POKOK AJARAN SYEKH SITI JENAR 24 Mei 2009

Posted by Gantharwa in Serba Serbi.
trackback

MASIH RELEVANKAH AJARAN SYEKH SITI JENAR DEWASA INI?
Oleh: Ir. Achmad Chodjim, MM

Tema seminar/sarasehan budaya hari ini adalah agama ageming aji, yaitu agama sebagai nilai-nilai luhur yang menjadi landasan hidup bangsa Indonesia, sesuai dengan sila pertama pada Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Agama dalam bingkai ageming aji bukanlah agama dalam arti golongan atau agama sebagai organisasi (organized religion), tetapi agama sebagai basis moralitas dan perilaku manusia.

Agama dalam arti ini pernah menjadi polemik dan perang wacana di Kepulauan Nusantara –karena Indonesia belum lahir– dan tepatnya di P. Jawa pada pertengahan abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-16.

Tokoh sentral dalam polemik dan perang wacana pada masa itu adalah Syekh Siti Jenar atau dikenal dengan nama Syekh Lemah Abang. Dia seorang guru dan pelaku spiritual yang mengajarkan agama sebagai jalan hidup dan bukan sebagai kepercayaan. Meskipun Syekh seorang muslim, tetapi ajarannya menarik berbagai pemeluk agama dan kepercayaan yang ada waktu itu. Mereka yang belajar dan menjadi murid Syekh berasal dari berbagai kalangan, baik kalangan elite –yaitu para adipati– maupun rakyat biasa. Mereka berasal dari pemeluk Hindu, Biddha, Syiwa-Buddha, Islam, dan pemeluk kepercayaan yang berkembang di Jawa waktu itu.

P1080962
Foto bersama Saudara dari PU, SI, BECEKA, Gantharwa, dan praktisi spiritual yang lain di kediaman Ahcmad Chodjim 210509.

Apa yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar sehingga daya tarik ajarannya luar biasa dan menyebabkan penguasa Kesultanan Demak Bintara kegerahan waktu itu? Yang diajarkan sebenarnya bukanlah hal yang asing bagi mereka yang hidup di Kep. Nusantara waktu itu. Yang diajarkan adalah paham MKG (Manunggaling Kawula Gusti), yaitu satunya hamba dengan Tuhan. Paham ini sudah ada di agama Hindu dan Buddha yang sebelum berdirinya Kesultanan Demak, dipeluk oleh mayoritas penduduk Nusantara. Paham ini diikuti oleh kalangan sufi dalam agama Islam. Bahkan, mereka yang dikenal sebagai anggota Walisanga juga berpaham MKG. Padahal, berdasarkan sejarah Walisanga yang bergelar sunan itu adalah pendukung dan penasehat Sultan Demak di zaman itu.

Meskipun Walisanga dan Syekh Siti Jenar sepaham, tetapi pada tataran implementasinya dalam kehidupan berbeda. Bagi Siti Jenar, MKG merupakan landasan, jalan dan alat untuk menjadikan manusia merdeka sejati. MKG menggerakkan manusia untuk menjadi dirinya sendiri, menjadikan manusia yang memiliki kepribadian. Inilah inti dari MKG yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar. Tentu pikiran semacam ini melompat terlalu jauh ke depan pada zamannya. Jangankan pada masa 500 tahun yang lalu, dewasa ini saja sebagian besar orang tidak hidup sebagai pribadi, tetapi hidup berdasarkan pikiran orang lain.i Sedangkan MKG yang diajarkan oleh Walisanga lebih bersifat teoritis, dan tidak memberikan implikasi nyata dalam kehidupan masyarakat.

Ajaran MKG Siti Jenar mendobrak feodalisme yang tumbuh subur pada masa itu, sedangkan Walisanga justru melanggengkan sistem feodalisme. Syekh membangkitkan kesetaraan antara kawula (rakyat) dengan rajanya (Gusti). Walisanga melestarkan sistem rakyat menyembah raja. Syekh membebaskan orang dari belenggu ketakhayulan dan pikiran picik, sedangkan Walisanga malah menjadikan agama dan kepercayaan sebagai alat kekuasaan.

Puncak pertarungan paham berakhir ketika Sultan Patah memerintahkan Walisanga untuk menghentikan kegiatan mengajar Syekh dan pengikutnya dihancurkan. Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, kata peribahasa. Ajaran Syekh Siti Jenar dipadamkan –meski demikian, ajaran SSJ tetap berjalan dan disampaikan secara sembunyi-sembunyi. Rakyat patuh kepada raja secara pasif, sedangkan kalangan elite berebut kekuasaan. Akibatnya, umur kerajaan tak ada yang panjang, Demak jatuh disusul dengan berdirinya Pajang, dan dalam satu generasi saja Pajang hilang dan muncul Mataram.

Karena rakyat bodoh dan elite kerajaan berebut kekuasaan, maka Mataram hanya dalam kurun waktu 50 tahun berdiri sudah goyah karena adanya infiltrasi VOC, yang akhirnya Mataram menjadi negara taklukan VOC. Hal ini saya sampaikan dalam seminar/sarasehan ini agar dapat menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia. Dengan memperhatikan kembali ajaran Syekh Siti Jenar kita akan dididik untuk menjadi manusia merdeka, sehingga siap untuk menahan gangguan dan ancaman asing agar bangsa Indonesia tidak terus-menerus terjajah oleh negara lain dalam segala bentuknya.

Sembilan Ajaran Pokok Syekh Siti Jenar

Sebagaimana dituturkan di atas, manusia hidup di atas bangunan opini atau pendapat orang lain. Pada umumnya manusia tidak mengetahui hakikat hidupnya sendiri, dan tidak mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi pada dirinya. Pikiran sebagian besar orang merupakan pendapat orang lain, sehingga kita berbicara menggunakan bahasa orang lain. Mereka yang berpengaruhlah yang telah menanamkan pengaruhnya yang berupa bahasa, perilaku, pendapat, dan sebagainya untuk membangun identitas tunggal.

Adalah Kierkegaard –seorang filosof Barat– yang menyatakan bahwa sekelompok besar orang selalu menghilangkan identitas pribadi. Oleh karena itu, sebagian besar orang yang beragama (memeluk agama resmi) biasa melakukan ritual dan menjalankan apa yang biasa dilakukan atau diharapkan oleh orang lain, tanpa penghayatan pribadi apa yang dilakukankannya. Kebanyakan orang hidup dalam kedangkalan dan formalisme kosong, dan demikianlah yang terjadi sehingga seluruh generasi terjebak dipinggiran akal budi yang berlumpur. Inilah yang menyebabkan roda kemajuan berhenti berputar.[i]

Pendapat sebagai hasil olah pikir manusia berkembang terus, dan bila pemikiran seseorang, suatu golongan atau bangsa mandek, maka ia akan terlindas oleh perubahan yang terjadi di dunia ini. Bangsa yang pemikirannya terlindas atau tertinggal akan menemui banyak masalah dalam hidupnya, dan kenyataan itu bisa kita saksikan dewasa ini. Perhatikanlah apa yang terjadi pada negara-negara tidak maju atau sedang berkembang! Kemiskinan, kebodohan, mutu kesehatan yang rendah, serta rusaknya lingkungan hidup merupakan bukti mandeknya pemikiran.

Tanpa berpikir manusia tidaklah sama dengan hewan, tetapi malah lebih buruk daripada kehidupan hewan. Bila hewan lapar, maka secara naluri akan tertuntun menuju sumber makanan, tetapi tanpa berpikir untuk mencari makan manusia akan mengalami kematian. Oleh karena itu, manusia berandai-andai, dan perlu berasumsi. Manusia berusaha menggunakan akal-pikirannya untuk menciptakan nilai tambah pada segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Berbagai benda diberi nilai atau “aji” sesuai dengan tingkat kelangkaannya.

Pendapat apabila sudah diterima oleh suatu kelompok orang maka akan menjadi kebenaran bagi kelompok itu. Meskipun kitab-kitab suci dalam berbagai agama dikategorikan sebagai wahyu dan bukan pendapat, tetapi dalam implementasinya tetap menggunakan olah pikir alias pendapat. Dan, pendapat tentunya dimaksudkan untuk menyamankan, memudahkan, dan menimbulkan kesejahteraan umat. Itulah pendapat yang diperlukan!

Jadi, bukan kebenaran hakiki atau kebenaran harfiah suatu pendapat yang perlu diperhatikan. Yang perlu diperhatikan adalah apakah pendapat itu bisa digunakan untuk menimbulkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi umat manusia, minimal bagi mereka yang meyakini pendapat itu. Dan, yang perlu kita tolak adalah pendapat yang menimbulkan kezaliman, kesengsaraan dan kriminalitas bagi manusia.

Nah, ajaran pokok yang pertama dari Syekh Siti Jenar adalah tidak mengabsolutkan pendapat. Pendapat boleh diperdebatkan, akan tetapi pendapat tidak untuk melindas pendapat orang lain. Munculnya berbagai mazhab dalam berbagai agama di dunia membuktikan bahwa ajaran agama pasca pendirinya sebenarnya merupakan pendapat yang dikembangkan dari ajaran asal agama itu. Jadi, kebenaran pendapat adalah kebenaran yang dibangun atas akseptabilitas masyarakat atau komunitas tempat pendapat itu berkembang.

Ajaran pokok yang kedua adalah menjadi manusia hakiki, yaitu manusia yang merupakan perwujudan dari hak, kemandirian, dan kodrat.
Hak. Kebanyakan kita berpendapat bahwa kita harus mendahulukan kewajiban daripada hak. Perhatikanlah para pejabat kita selalu menuntut rakyat untuk menjalankan kewajibannya dulu sebelum mendapatkan haknya. Warga dituntut membayar pajak, mematuhi undang-undang dan peraturan yang ditentukan oleh para elite politik, dan melaksanakan berbagai macam kepatuhan. Menurut Syekh Siti Jenar, harus ada hak hidup lebih dulu. Inilah kebenaran! Tak ada kewajiban apa pun yang bisa diberikan kepada seorang bayi yang baru dilahirkan. Oleh karena itu, begitu seorang bayi manusia dilahirkan semua hak-haknya sebagai manusia harus dipenuhi terlebih dahulu.
Tidak peduli ia dilahirkan di keluarga kaya atau miskin, hak memperoleh pengasuhan, perawatan, penjagaan, perlindungan, dan mendapatkan pendidikan harus dipenuhi. Hak-hak tersebut dipenuhi agar ia menjadi manusia yang dapat menjalankan kewajibannya sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan negara. Dengan cara itu akhirnya ia menjadi manusia hakiki, manusia sebenarnya yang dapat berkiprah dalam kehidupan nyata, baik sebagai pribadi maupun warga sebuah negara. Salah satu unsur untuk menjadi manusia yang hidup merdeka terpenuhi.
Kemandirian. Pemenuhan hak dan kewajiban barulah tahap awal untuk menjadi manusia hakiki. Tahap berikutnya adalah mendidik, mengajar, dan melatihnya agar bisa menjadi manusia yang hidup mandiri. Ia harus diarahkan agar mampu hidup yang tidak tergantung pada orang lain. Dengan demikian, kehidupan mandiri akan tercapai bila terjadi kesalingtergantunga n antar anggota masyarakat dan sekaligus kemerdekaan (interdependence and independence) .

Perhatikanlah keadaan ekonomi masyarakat Indonesia sekarang ini. Kita amat sangat tergantung pada bantuan atau hutang luar negeri. Negara yang dilimpahi kekayaan alam yang luar biasa ini justru dihisap oleh negara-negara maju di dunia ini. Setiap bayi yang dilahirkan yang seharusnya merupakan aset negara, ternyata tumbuh menjadi manusia-manusia pencari kerja dan bahkan menjadi beban negara. Hal ini disebabkan terjadinya manusia-manusia yang tergantung pada orang lain. Hubungan yang terjadi adalah hubungan orang-orang lemah dengan orang-orang kuat. Yang lemah merasa sangat memerlukan yang kuat, sedangkan yang kuat berbuat tidak semena-mena terhadap mereka yang lemah.

Akibat dari keadaan tersebut tambah tahun pengangguran akan semakin bertambah besar. Yang menjadi gantungan relatif tetap, sedangkan yang menggatungkan diri bertambah banyak. Terjadi relasi yang tidak seimbang, sehingga kehidupan masyarakat menjadi rawan.
Kodrat. Inilah unsur berikutnya yang menopang asas hak dan kemandirian dalam kehidupan masyarakat. Kodrat pada manusia merupakan kuasa pribadi. Kodrat tidak didapat dari luar diri. Dengan demikian kodrat tidak berasal dari pelatihan dan pendididikan. Tetapi kodrat harus diberikan ruang yang kondusif agar suatu bentuk kemampuan khusus yang dianugerahkan pada setiap orang bisa terwujud. Dalam hal ini, pelatihan akan meningkatkan kualitas kodrat yang dimiliki seseorang.

Dalam psikologi kodrat dapat dikatakan hampir sama dengan talenta. Bila seseorang tidak diberikan kesempatan untuk dapat mengaktualisasikan dirinya, maka kodratnya kemungkinan besar tak akan terwujud. Padahal, kodrat yang ada pada diri seseorang itulah yang bisa menjadi sarana untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya. Bila setiap orang bisa mewujudkan kodratnya, maka akan terwujud hubungan yang saling memberikan dan sekaligus saling membutuhkan. Setiap orang akan memiliki nilai tawar bagi orang lain.

Harmonisasi dan ikatan antar warga negara akan menguat bila sebagian besar penduduknya bisa mewujudkan ketiga unsur manusia hakiki tersebut. Keragaman masyarakat pun kecil dan kesenjangan ekonomi dapat dinihilkan. Akhirnya jati diri manusia akan muncul dengan sendirinya, dan kita akan menjadi bangsa yang kokoh dan tidak mudah diprovokasi.

Ajaran pokok Syekh yang ketiga adalah hubungan antara satu orang dengan orang lain merupakan hubungan kodrat dan iradat. Hubungan satu orang dengan orang lain bagaikan hubungan kerja dalam satu tim, sehinga tidak terjadi hubungan posisi yang memerintah dan yang diperintah. Tak ada hubungan kekuasaan. Antara manusia yang satu dengan yang lain terikat oleh kodrat dan iradatnya, sehingga seperti hubungan sel yang yang satu dengan sel lainnya dalam satu tubuh, dan hubungan organ yang satu dengan organ lainnya dalam satu tubuh.

Kalau kita amati cara kerja organ-organ dalam tubuh manusia, maka kita akan ketahui bahwa masing-masing organ –seperti otak, penglihatan, penciuman, pendengaran, paru-paru, jantung, hati, ginjal, usus, dan lain-lain– akan bekerja sama, dan masing-masing menjalankan peranannya. Seharusnya kehidupan masyarakat manusia juga demikian. Dengan mewujudkan masyarakat yang berupa kumpulan manusia-manusia hakiki, masing-masing orang atau kelompok menjalankan fungsinya dengan benar, maka akan terbentuk kehidupan yang sehat dan tidak terjadi penghisapan antara orang yang satu terhadap orang lainnya. Inilah kehidupan dunia yang didambakan oleh Syekh Siti Jenar, yang justru sekarang tumbuh dan berkembang di negara maju.

Ajaran pokok yang keempat : segala sesuatu di alam semesta ini adalah satu dan hidup. Dalam salah satu pupuhnya disebutkan bahwa bumi, angkasa, samudra, gunung dan seisinya, semua yang tumbuh di dunia, angin yang tersebar di mana-mana, matahari dan rembulan, semuanya merupakan keadaan hidup. Jadi, semua yang ada merupakan wujud kehidupan.

Menurut Syekh Siti Jenar yang dinamakan makhluk hidup adalah kehidupan yang terperangkap dalam alam kematian. Zat mati tak akan dapat menimbulkan kehidupan, sedangkan zat hidup tak akan tersentuh kematian. Tuhan disebut zat yang mahahidup karena Dia eksis karena Diri-Nya sendiri. Kekuatan hidup-Nya mengalir dalam alam kematian sehingga muncul sebagai makhluk hidup. Sekarang bandingkan dengan tulisan-tulisan dari Barat dewasa ini, akan kita temukan pernyataan mereka bahwa semuanya satu, semuanya hidup. Dengan demikian, pandangan Syekh Siti Jenar luar biasa. Banyak pandangannya yang justru bersesuaian dengan pandangan kaum teosofi maupun para spiritualis dari Barat.

Bila kita menyadari bahwa lingkungan kita adalah keadaan yang hidup, maka tentu kita akan memperlakukan lingkungan kita dengan sebaik-baiknya karena kita dan lingkungan kita sebenarnya satu dan sama-sama sebagai keadaan yang hidup. Bila kita menyadari tentu kita akan berhati-hati dalam memperlakukan lingkungan kita.

Ajaran pokok yang kelima: pemahaman tentang ilmu sejati. Dikisahkan dalam Serat Siti Jenar yang ditulis oleh Aryawijaya: Sejati jatining ngèlmu, lungguhé cipta pribadi, pustining pangèstinira, gineleng dadya sawiji, wijanging ngèlmu dyatmika, nèng kahanan eneng ening. Hakikat ilmu sejati itu terletak pada cipta pribadi, maksud dan tujuannya disatukan adanya, lahirnya ilmu unggul dalam keadaan sunyi dan jernih.

Menurut Syekh Siti Jenar manusia haruslah kreatif karena manusia telah diberi anugerah oleh Yang Mahakuasa untuk dapat mengaktualisasikan ilmunya yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Jadi, ilmu sejati bukanlah ilmu yang kita terima dari orang lain. Yang kita dapatkan melalui indra, pengajaran dari orang lain, itu hanyalah refleksi ilmu. Dan, ternyata sejak abad ke-20 pemahaman bahwa ilmu lahir dari kedalaman batin telah menjadi pemahaman yang universal. Itulah sebabnya orang-orang Barat tekun dalam melakukan perenungan dan pengkajian terhadap tanda-tanda di alam semesta.

Jadi, harus ada suasana kondusif bagi orang-orang yang mendalami ilmu pengetahuan. Suasana kondusif bagi ilmuwan adalah iklim kerja yang membuat ilmuwan tersebut dapat bekerja dengan tenang, nyaman, dan bebas dari berbagai penyebab kekalutan dan kesulitan. Dan, tentunya hak-hak untuk dapat menjadi ilmuwan sejati haruslah dipenuhi. Ingat, setiap orang telah diberi potensi dan talenta yang disebut kodrat. Dan, bagi mereka yang memiliki kodrat untuk menjadi ilmuwan harus disediakan iklim kerja yang kondusif sehingga bisa menghasilkan hal-hal yang dibutuhkan manusia.

Ajaran pokok yang keenam: umumnya orang hidup saling membohongi. Banyak hal yang sebenarnya kita sendiri tidak tahu, tapi kita menyampaikannya juga kepada teman-teman kita. Hal ini banyak sekali terjadi dalam ajaran agama. Banyak orang yang sekadar hafal dalil, tetapi sebenarnya dia tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh dalil itu. Akhirnya pemahaman yang keliru itu menyebar dan terbentuklah opini yang salah.

Masyarakat yang dipenuhi dengan pemahaman dan opini yang salah sama dengan masyarakat yang dipenuhi sampah. Masyarakat demikian pasti rawan terhadap serangan penyakit. Oleh karena itu, masyarakat harus dibebaskan dari berbagai macam kebohongan. Masyarakat harus diajar dan dididik untuk memahami segala sesuatu seperti apa adanya.
Agar tidak hidup saling membohongi manusia harus kembali mengenal dirinya. Setiap orang harus dididik untuk menyadari perannya dalam hidup ini. Para cerdik cendekia harus mengerti fungsinya di dunia. Orang harus diajar untuk bisa mengerti dunia ini sebagaimana adanya. Agama harus diajarkan sebagai jalan hidup dan bukan alat untuk meraih kekuasaan. Oleh karena itu, keimanan harus diajarkan dengan benar dan bukan sekadar diajarkan sebagai kepercayaan. Iman harus diajarkan sebagai penghayatan, pengalaman, dan pengamalan kebenaran.

Ayat-ayat kitab suci harus dipahami berdasarkan kenyataan, dan tidak diindoktrinasikan serta diajarkan secara harfiah sesuai dengan asal kitab suci tersebut. Agama harus diajarkan secara arif dan bisa dibumikan, tidak terus menggantung di langit. Agama harus diterjemahkan dalam bentuk yang dapat dipahami dan dipraktikkan oleh masyarakat penerimanya.

Ajaran pokok yang ketujuh: nama Tuhan diberikan oleh manusia. Lima ratus tahun yang lalu Syekh telah menyatakan dengan tegas bahwa manusialah yang memberikan nama pada Tuhan. Oleh karena itu, nama bagi Tuhan bermacam-macam sesuai dengan bahasa dan bangsa yang menamai-Nya. Dan, perlu diketahui bahwa Tuhan sendiri sebenarnya tidak perlu nama, karena Dia hanya satu adanya. Sesuatu diberi nama karena untuk membedakan dengan sesuatu lainnya. Nama diberikan agar kita tidak keliru tunjuk atau salah sebut.

Bagi Syekh Siti Jenar, apapun sebutan yang diberikan kepada-Nya haruslah sebutan yang terpuji, yang baik, yang pantas. Bahkan dalam Alquran dinyatakan dengan tegas pada Q. 7:180 bahwa manusia diperintah untuk memohon kepada-Nya dengan nama-nama baik-Nya, atau al-asmâ-u l-husnâ. Dan, pada Q.17:110 dinyatakan bahwa Dia dapat diseru dengan nama Allah, Ar Rahman, atau dengan nama-nama baik-Nya yang lain.

Sungguh, sangat mengherankan bila di zaman sekarang ini kita berebut nama Tuhan. Secara teoritis umat Islam dididik untuk meyakini bahwa Tuhan itu Yang Maha Esa. Tetapi, dalam kenyataannya sebagian orang Islam –seperti yang terjadi di Malaysia – malah meminta orang yang beragama lain untuk tidak menggunakan lafal Allah bagi sebutan Tuhan pada agama lain tersebut. Inilah pemahaman yang salah! Kalau kita –yang Muslim— menolak pemeluk agama lain menyebut Allah bagi Tuhannya, maka secara tak sadar kita mengakui bahwa Tuhan itu lebih dari satu.

Sudah waktunya kita ajarkan ketuhanan dengan benar sehingga kita tidak berebut tulang tanpa isi. Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa mengamalkan nilai-nilai ketuhanan dengan benar itulah yang amat penting dalam hidup ini. Bagi orang Indonesia , menghayati dan mengamalkan nilai-nilai ketuhanan dengan benar merupakan penegakan Sila yang pertama.

Ajaran pokok yang kedelapan: raja agama sesungguhnya raja penipu. Sebagaimana telah diterangkan bahwa agama adalah jalan hidup. Oleh karena itu, agama harus diajarkan untuk menjadi jalan hidup, sehingga pemeluk agama bisa hidup tenang, bahagia dan bersemangat dalam menjalani hidup. Agama harus diajarkan untuk menjadi landasan moral dan perilaku, sehingga agama benar-benar sebagai nilai luhur dan menjadi rahmat bagi semesta alam.
Syekh tidak ingin membohongi masyarakat Jawa, oleh karena itu agama islam diajarkan dengan cara yang pas bagi bumi dan manusia Jawa. Untuk hal itu diperlukan penafsiran, dan tidak disebarkan dalam bentuk budaya asalnya. Agama tidak disebarkan dengan kekuasaan raja, sebab menurut Syekh raja yang memanfaatkan agama adalah raja penipu. Sering terjadi bahwa untuk memenuhi kepentingan penguasa, agama dijadikan alat menguasai rakyat. Agama yang seharusnya dikuasai oleh rakyat, yang terjadi justru sebaliknya yaitu rakyat yang dikuasai oleh agama.

Jika di Eropa pada abad ke-19 orang-orang mulai mempertanyakan peranan agama, dan bahkan ada yang memandang bahwa agama sebagai candu bagi masyarakat dan harus disingkirkan dari gelanggang kehidupan bernegara, maka empat ratus tahun sebelumnya Syekh Siti Jenar justru ingin menerapkan agama sebagai penyegar dan pencerah bagi pemeluknya. Oleh karena itu, agama diajarkan tanpa melibatkan kekuasaan negara. Di sinilah Syekh bertabrakan dengan kepentingan Walisanga.

Syekh amat sadar bahwa di dunia ini penuh dengan tipu daya. Hampir di semua negara pada waktu itu terjadi relasi keuasaan antara raja/penguasa dengan para tokoh agama. Dengan kata lain, raja dan tokoh agama berbagi kekuasaan. Yang dikuasai dan yang dijadikan pijakan hidup oleh raja dan tokoh agama adalah rakyat. Inilah yang oleh Syekh disebut sebagai penipuan. Oleh karena itu, sudah waktunya agar agama benar-benar menjadi milik masyarakat, dan negara tidak mengurusi agama. Yang diurusi oleh negara adalah tegaknya hukum positif, perlindungan bagi setiap orang tanpa memandang agama dan kepercayaannya. Yang diurusi oleh negara adalah kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Ajaran pokok yang kesembilan: segala sesuatu di alam semesta adalah Wajah-Nya. Inilah ajaran puncak dari Syekh Siti Jenar. Dunia adalah manifestasi wujud yang satu, dan hakikat keberadaan bukanlah dualitas. Sehingga, kemana pun kita hadapkan diri kita, maka sesungguhnya kita senantiasa menghadap Wajah-Nya. Semua adalah penampakan Wajah-Nya. Sekarang marilah kita cicipi dua bait puisi dari Syekh Siti Jenar.

Bersanggama dalam keberadaan
diliputi yang ilahi
hilanglah kehambaannya
lebur lenyap sirna lelap
digantikan keberadaan Ilahi
kehidupannya
adalah hidup Ilahi

Lahir batin keberadaan sukma
yang disembah Gusti
Gusti yang menyembah
sendiri menyembah-disembah
memuji-dipuji sendiri
timbal balik

dalam hidup ini

Jadi, pada puncak perenungan dan keheningan diri terjadilah penegasian eksistensi diri yang terkurung raga. Ditegaskan bahwa kehambaan telah lenyap, sudah hilang. Bila kehambaan masih tetap eksis maka di alam semesta ini masih berada dalam keadaan dualitas. Keadaan inilah yang menyebabkan orang terpisah dengan Tuhannya, meskipun secara konseptual diketahui bahwa Sang Pencipta lebih dekat daripada urat lehernya. Akan tetapi, selama keadaan dualitas belum sirna maka secara faktual Tuhan masih jauh daripada urat lehernya, karena Tuhan dianggap berada di luar dirinya.

Ada dualitas artinya kita mengakui ada dua keberadaan, yaitu ada yang inferior (keberadaan yang kualitasnya lebih rendah) dan ada yang superior (keberadaan yang kualitasnya lebih tinggi). Jika demikian, kedua jenis keberadaan itu tumbuh melalui proses. Semua yang tumbuh melaui suatu proses, bukanlah keberadaan yang kekal. Dan, bilamana tiada keberadaan yang kekal, maka tak mungkin ada fenomena atau penampakan di alam semesta.

Kita hidup di dunia ini karena kita kanggonan (didiami) urip (hidup) yang diberikan oleh Tuhan. Namun, badan jasmani ini hanyalah fenomena yang terikat oleh ruang, waktu, situasi psikologis. Hakikatnya badan jasmani ini tidak ada karena badan jasmani ini seperti gambar yang menumpang di layar perak atau layar kaca. Kalau layar digulung atau dimatikan ya lenyaplah fenomena tersebut. Jadi, memang benar bahwa dunia ini panggung sandiwara, dan kita adalah pemain-pemain sandiwara. Oleh karena itu, kita harus dapat memainkan peran kita masing dengan baik.

Lalu, apa sasaran utama pelenyapan dualitas? Sasaran pokoknya adalah menumbuhkan kesadaran akan ke-Satu-an, Oneness, dalam kehidupan ini, baik kehidupan kita sebagai individu maupun secara kolektif. Dengan lenyapnya perasaan dualitas dalam hidup ini, maka jarak antara kawula dan Gusti akan hilang. Akan lahir individu-individu yang menjadi dirinya sendiri, dan dalam kehidupan sosial akan tercipta interaksi antar warganya secara tim, sehingga semua akan memenuhi fungsinya masing-masing dalam kehidupan. Sekat antara pemimpin dan yang dipimpin akan hilang, dinding penyekat antara raja dan rakyatnya akan runtuh. Bila ini sudah terjadi, maka tak akan ada lagi eksploitasi terhadap sesama manusia.

Pelenyapan sekat antara kawula (hamba, rakyat, atau bawahan) dan Gusti (raja, pemimpin, atau atasan) akan melahirkan satu keberadaan yang disebut Manunggaling Kawula Gusti. Keberadaan MKG ini akan menggugurkan kehidupan yang berkasta dan merontokkan feodalisme. Relasi sesama manusia berupa simbiose mutualisme, yaitu hubungan yang saling menguntungkan. Sesama manusia hidup dalam suasana liberte, egalite dan fraternite, yaitu hidup dalam kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan antara sesama manusia di dunia ini. Dari sinilah Syekh membangun hubungan warga dengan wadah yang disebut masyarakat, yang tidak dijumpai di Timur Tengah pada waktu itu.
Memang masyarakat merupakan kosa kata yang dibentuk dari unsur-unsur kata Arab, yaitu dari syarika yang artinya menjadi sekutu; dan masyarakat adalah kumpulan orang-orang yang bersekutu. Jadi, setiap anggota masyarakat itu seperti sel-sel tubuh yang independen, namun selalu berinteraksi sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing. Setiap anggota masyarakat mengetahui tugasnya. Terciptalah jalinan kasih. Inilah surga yang sesungguhnya yang harus diwujudkan di dunia ini. Dengan demikian, konsep MKG sebenarnya untuk menciptakan kehidupan bersama dalam mencapai kejayaan!

Achmad Chodjim

Jakarta, 21 Mei 2009 Kediaman Bpk. Achmad Chodjim, materi ini juga di sampaikan di Hotel Indonesia Kempinski-Grand Indonesia, 19 Mei 2009

*) Ir. Achmad Chodjim MM, adalah penulis buku “Syekh Siti jenar: Makna Kematian (jilid 1)”, “Syekh Siti Jenar: Makrifat dan Makna Kehidupan (jilid 2)” dan “Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga”.

Bagi saudara yang mau mendapatkan Audio penjelasan, silahkan bergabung di mailing list “Diskusi Gantahrwa”

Komentar»

1. kangBoed - 24 Mei 2009

pertamaaaaaaaax.. hehehe.. sayang gak bisa hadir ikut mas David.. tapi setuju.. setuju sekali.. agama bukan untuk menunjuk keluar diri.. benar dan salah adalah nilai pemahaman masing masing.. sebaliknya agama adalah untuk membentuk sang diri… menemukan kesadaran diri sejati.. menjadi Rahmat bagi alam semesta…

Salam Damai dan Cinta Kasih

Hidup adalah satu perjalanan dalam pencarian
Sadar maupun tidak sadar setiap jiwa ini dituntun kesana
Ya ya pencarian, pencarian akan hakikat hidup
Kedamaian, Kesadaran dan Kebenaran yang sejati

Salah dan benar hanyalah sebuah perjalanan
Perjalanan mencari sesuatu yang telah lama hilang
Sesuatu yang sangat dirindukan setelah sekian lama
Ya dulu kita berkumpul dan bersatu dalam HaribaanNYA

Alangkah lebih baiknya jika sang diri mulai menyadari akan pencariannya
Meninggalkan batasan dan ukuran yang selama ini dipakai
Ya sadarilah pencarian itu tidaklah akan pernah berakhir
Sampai akhirnya waktu pun sudahlah habis terbuang percuma

Panca indera bukanlah patokan maupun ukuran kita
Ingat panca indera hanya untuk perlengkapan di sini
Ya panca indera hanyalah barang baru yang akan hancur termakan waktu
Tiada sedikitpun kekekalan dan keabadiannya

Apa yang kita lihat, Apa yang kita dengar
Apa yang kita tangkap dari luar diri kita
hanyalah menimbulkan ilusi dan kepalsuan
Akal pikiran, logika, Angan angan itulah dunia kepalsuan

Tetapi ternyata di dalam diri kita ada sesuatu bagian yang lama sekali
Dia kekal dan abadi dan selalu merindukan jalan pulang
Dia sebuah daging yang bernama hati Nurani yang terdalam
Sebagai pancaran dari ruh kita yang kekal abadi

Ya Hati ini ternyata sungguh dahsyat dan luar biasa
Disanalah letaknya kedamaian
Disanalah munculnya cinta dan kasih sayang
Disanalah terbitnya keikhlasan dan ketulusan

Sekali lagi hatii, adalah ladang kita yang harus kita bersihkan
Kita cabuti rumput dan semak belukar yang tumbuh disana
Bersihkan dengan sungguh sungguh pertobatan
Sehingga ketika benih cinta kepada Allah ditanamkan maka benih itu akan tumbuh subur

Benih itu akan tumbuh dan tumbuh menjadi sebuah pohon
Belajar berbunga dan belajar berbuah walaupun buahnya masih masam
Kemudian buah itu semakin mengkal dan akhirnya berbuah lebat dan sangat manis sekali
Berguna bagi semua orang tanpa kecuali ….

Ya hanya dari sebuah hati yang sudah dibangkitkan dari kematiannya
Hati yang sudah hidup dan memancarkan sinar kehidupan
Hati yang terdalam sungguh suatu ukuran yang nyata dalam perjalanan kita
Yaaaa hati yang hiduuup makin hiduup dan tambah hiduuup

Salam Sayang Selalu
Salam Sejati

2. om_u_suka - 25 Mei 2009

Dijaman kejayaan agama-agama ada istilah: ayam jantan berkokok sebelum waktunya, lebih baik disembelih saja, korbannya ya Al Hallaj , Seh Siti Jenar dan masih banyak lagi yang lainnya, berbicara MKG dijaman Syariat/agama agama berkuasa, ya disembelih penguasa, kalau orang besar yang bicara ya ada ceritanya dan menjadi sejarah lalu mendunia, tapi kalau kroco belo yang bicara ya langung ditangkap dan disembelih tak ada cerita, makanya jaman dulu cara mengajarkannya dengan berbisik bisik dan sembunyi 2 supaya tidak ketahuan orang lain dan supaya tidak dilaporkan ke polisi syariat….. makanya disebut ilmu klenik

Sabdopalon benar 500 tahun lagi kejayaan agama-agama diatas bumi lenyap, sultan sultan meletakan jabatan dan kita bisa Extase (merasakan kegembiraan batin) tanpa pil koplo,rame rame membicarakan MKG tanpa takut dipenggal kepalanya oleh penguasa atas rekomendasi dari MUI….. he… he…he…….merdeka ….(dng nada suara megawati di TV)

3. wira jaka - 25 Mei 2009

pssstt … jangan keras2 bilang merdekanya ….. nanti ditangkap polisi syariat ….

salam,

4. eko - 25 Mei 2009

Ya bgituloh…

5. Dian - 26 Mei 2009

sebenernya ayam jantan berkokok belum waktunya itu masih lebih baik,om aku_sumo,daripada ayam berkokok dalam telur hihihi,bicara ttg manunggal,memiliki banyak pengertian ttg “perkawinan” tetapi “kepala bawahnya” belum buluan hihihi
yg kaya gini ga usah dipenggal/ditigas jangganya,tapi ditempelengin saja kepalanya dikit hehehe…biar ga mikir in hal2 yg kaga2, supaya pola pikirannya jadi selaras lagi dengan pola pikirnya anak2 kecil pada umumnya…..sederhana dalam pemikiran, bares di dalam rasa hati…….itu udah cukup sebagai bekal kita untuk menuju kemerdekaan yg sungguh,bebas dari jajahan unsur2 asing2 baik didalam diri kita maupun di luar diri kita.

Manunggal itu memang baiknya jgn dijadikan sekedar ilmu pengetahuan atau bahan perbincangan dan bahasan,karena bisa jadi salah tampa nantinya,bisa membuat banyak jiwa2 rahwana2 baru yg mengenakan busana luar resi pandhita pada bermunculan,sebagai akibat diwedharkannya sastrojendro hayuningrat (ngelmu piningit) dengan cara yg salah dan tidak wajar,kepada orang yang salah dan kurang wajar,ditempat dan juga waktu yang salah (anggege mongso).
Oleh sebab itu, dijaman dahulu oleh para leluhur kita,bab ngelmu kasampurnan dikatakan Ilmunya WADI (rahasia ) dan WINADI (sangat rahasia),jadi sebenernya di jawa sini itu ga ada satu orangpun yg sungguh2 mengerti mewedharkannya secara gamblang tentang Manunggal.Berbeda dengan kebudayaan india dan arab sana,yang emang mempunyai kecenderungan watak untuk pamer .Dan,diakui atau tidak,kita sudah terpengaruh 2 kebudayaan itu selama kurun waktu 500 tahun ini.

Jadi emang ada baiknya kita kembali ke kebudayaan spiritual asli bangsa ini,yaitu ilmu2 ketuhanan itu sekedar dijadikan ilmu praktikj,Ngelmu,yang untuk dihidupi, karena sungguh, pada hakikatnya manunggaling kawulo gusti itu ga bisa dijadikan sarana hanya untuk sekedar mengejar ilmu pengetahuan sebagaimana halnya agama.
Karena dalam rangka mempelajari agama, seorang yg tidak percaya kepada agamanya,kepada tuhan dan nabinya,itu bisa mempelajari agama,cukup hanya dengan kecerdasan otaknya saja,cukup hanyak sekedar di hafalkan.Tetapi berbeda dengan ngelmu,ngelmu itu bukan hafalan,ga ada buku dan ga ada kitab,dasarnya ngelmu itu kepercayaan dan kepercayaan itu bidang rasa bukan bidang pemikiran.Semakin banyak berpikir menandakan bahwa dia masih kurang percaya.Itu ngelmu.
Oleh sebab itu ngelmu manunggal hanya bisa dijalankan hanya didasari rasa percaya yg sungguh dan hanya demi perlunya saja.

Btw,Apa perlunya kita menghidupi ngelmu manunggaling kawula Gusti?.

6. riza as - 26 Mei 2009

Salam Sejahtera bagi seluruh Umat Manusia…..

MKG adalah Haknya Allah Tuhan sluruh Umat manusia dan seluruh alam semesta ini.

MKG bisa dipelajari tapi tidak semua mendapatkan Hidayah ini…..

Pahami bahwa “saya” adalah “nothing” tanpa makna & arti.

Apakah yang “saya” miliki ? Apakah benar2 milik kita ?

Apabila seorang manusia benar2 memahami AlQuran PASTI tidak akan menyalahkan ttg MKG…..

Apabila seorang manusia benar2 memahami AlQuran PASTI tidak akan menyalahkan orang lain karena sama saja dengan menyalahkan Allah,Allah yang membolak balik hati seluruh manusia.

Setiap perkataannya akan menjadi hukum alam.

Banyak jalan untuk meraih hidayah ini, salah satunya adalah mempunyai guru yang bisa membimbing di jalanNya, kemudian berfikir hanya 4 hal yaitu :

1. Allah
2. dan Allah
3. kemudian Allah
4. dan terakhir adalah ttg Allah.

Setelah manusia mencapai derajat ini maka, seyogyanya manusia harus turun derajatnya agar dapat mengajarkan kepada manusia lain karena apabila manusia tidak mau turun maka tidak akan sempurna manusia ini seperti halnya yang terjadi pada nabi ISA/Yesus ataupun Syeh Siti Jenar.

Salam dari manusia yang kecil ini….

7. aku-sumo - 27 Mei 2009

Membaca semua yg diatas aku jadi fly masuk ke alam awang uwung tak sadar diri, tenang tentram tak ada apa apa bagai tidur tanpa mimpi tak menyadari apa apa lagi, semua lenyap kecuali rasa nikmat, dimana jibril tak mampu mengikuti nabi, ketika diajak naik lebih tinggi lagì. Semarak keagungan keagungan akan membakar sayapku apabila aku naik lebih tinggi lagi walau hanya sehelai rambut, aku menunggumu disini saja

8. aku-sumo - 28 Mei 2009

Pengetahuan yg didapat dengan pengamatan yg membawa pd keheranan adalah tabir yg besar
Pengetahuan yg didapat dari ekstasi membawa pd penghiburan hati
Yg satu serupa dengan pengetahuan dg mengamati madu, dan yg lain serupa dg pengetahuan mencicipi madu

9. aku-sumo - 29 Mei 2009

aku melihat nabi nabi berdiri didepan pintu pintu dari sebuah ruang tanpa tepi, sebuah jembatan selebar rambut dibelah tujuh membentang dihadapan tiap nabi menuju pintu pìntu yang tertutup rapat, dibelakang para nabi berbaris antrean panjang lautan umat menunggu panggilan

Dengan menghayati kawruh mkg mendadak ingsun melompati mereka dan berada ditengah ruang tanpa tepi, sunyì senyap tak ada yang lain

10. aku-sumo - 29 Mei 2009

aku melihat nabi nabi berdiri didepan pintu pintu yang tertuup rapat dari sebuah ruang tanpa tepi, sebuah jembatan selebar sehelai rambut dibelah tujuh membentang dihadapan tiap nabi menuju pintu pìntu yang tertutup rapat, dan dibelakang para nabi berbaris antrean panjang lautan umat menunggu panggilan

Dengan menghayati kawruh mkg mendadak ingsun melompati mereka dan berada didalam tepat ditengah/pancer ruang tanpa tepi, sunyì senyap tak ada yang lain
sendiri

11. Insani Hina - 30 Mei 2009

Assalam Mu’alaikum Wr.Wb.
Salam sejahtera dan damai dalam lindungan Tuhan YME.

Bagi saya, ajaran Syech Siti Jenar (SSJ) adalah baik karena berlandaskan ilmu tauhid. Dasar mempelajari ilmu tauhid adalah Agama agar tidak tersesat.

Ajaran/Aliran bersumber dari 2 hal,yt: Ilmu dan Agama. Jangan dicampur adukkan antara ilmu dan agama, karena keduanya berbeda. Ilmu Tuhan YME sangat luas dan dapat dipelajari, jika diperdalam sampai ke titik akhir berujung pada ke-Esaan-Nya. Belajar ilmu bisa salah / benar. Dalam Belajar Agama, renungkanlah yang terbaik menunjukkan jalan jaminan Dunia-Akherat Bahagia. Kuncinya sampai merasakan keadaan dalam hidup atau mati bisa melihat Hak Tuhan/Allah SWT setiap nafasnya.

Menurut saya, Ajaran SSJ bersumber dari Agama Islam yang Suci Mulia. Selama tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadist sebagai sumber, sah-sah saja dipelajari dan diamalkan.Sebaiknya, alangkah Indahnya, apabila kita mempelajari Ilmu ajaran SSJ terlebih dahulu mempelajari Al-Quran dan Hadist secara kaffah, baru pengembangannya berkhidmat sama SSJ. Hal ini karena SSJ menurut saya merupakan seorang Wali Allah, bukan Nabi/Rosul. Manakah yang lebih Tinggi dan wajib diikuti! Menurut saya begitulah adanya!

Mohon maaf jika ada tuangan kata yang salah dan mohon petunjuk/pencerahan.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

12. aku-sumo - 1 Juni 2009

Bila maulana berkata tentang teori evolusi jauh sebelum darwin:

Aku telah tumbuh sebagai rumput beberapa kali.
Tujuh ratus dan tujuh puluh tubuh telah kusaksikan.
Aku mati dalam mineral dan tumbuh dalam sayuran.
Mati dalam sayuran dan muncul dari hewan.
Mati dari hewan dan menjadi manusia.
Apa sebabnya aku harus takut untuk dimusnahkan oleh kematian?
Dalam peralihan yg akan datang, aku akan mati dari manusia.
Dan mendapat sayap2 spt malaikat.
Kemudian aku akan membubung lebih tinggi dari malaikat.
Dan…

13. aku-sumo - 1 Juni 2009

Dan menjadi sesuatu yg tak bisa dicapai oleh fantasimu.

Ini bukan perpindahan, tapi adalah kemajuan dalam ekstasì.

Pemuja adalah spt kondisi mineral.
Penglihatan akan kebenaran dlm berbagai bentuk spt sayur sayuran.
Perubahan sifat kearah kebenaran sama spt hewan.
Pemusnahan diri sama spt tahap manusia.
Setelah mencapai baqa harus turun kedunia untuk memperbaiki umat manusia.

14. aku-sumo - 1 Juni 2009

Menjadi sabdapalon nayagenggong …wha ka kak…

15. adi hadi - 1 Juni 2009

Ya tetep omongan tok!!

16. EYANG SABDOPALON - 1 Juni 2009

KATAK DALAM TEMPURUNG! KAN EYANG UDAH BILANG STOP MISTIK2AN, KALO MAU SESAT TERUS SILAKAN, TP JGN BAWA2 NAMA EYANG! CUCU2KU SEKARANG INI, KT DIJAJAH OLEH BANGSA ASING LEWAT EKONOMI DAN BUDAYA, JANGAN PUTUS ASA DENGAN MENGAMBIL JALAN PINTAS MENEMPUH JALUR MISTIK, EYANG GA RELA! KARENA ITU GA BERGUNA! KATANYA MAU MEMBANGUN NEGERI INI, KOK MALAH BERLEHA-LEHA MISTIK2AN, AYO GENERASI MUDA BANGUNLAH, TINGGALKAN BUDAYA2 YG BIKIN KITA JAUH DARI REALITAS, YG TDK PRODUKTIF, MARI KITA BANGKITA MENGUSI NEO IMPRELISME DARI NEGERI KITA YANG TERCINTA INI

17. endang adi hadi - 1 Juni 2009

Ndak usah ngajak2, eyang maju dan bangkit dulu kan ini dah 500 thn dr demak, aku terima matengnya aja yahh..

18. EYANG SABDOPALON - 2 Juni 2009

GENERASI MUDA KAYA GINI YANG DI ZAMAN EYANG TA’ TUMPAS, GA BERGUNA, SAMPAH MASYARAKAT. MALAS BEKERJA KERAS, GUSTI..GUSTI.. APA SALAHKU? CUCU2KU JADI MUNDUR 500 TAHUN KE BELAKANG

19. endang adi hadi - 2 Juni 2009

eyang ga salah kok !! skarang ksemptan untuk unjuk diri siapa sebenarnya eyang, bukankah yg tdk mau ikut eyang akan dijadikan makanan setan?

20. EYANG SABDOPALON - 2 Juni 2009

KATA SIAPA? JANGAN SOK TAU AH! YG MALES, YG MISTIK2AN ITU YG JD MAKANAN SETAN, YG BEKERJA KERAS, YG BERILMU BERMANFAAT (INSINYUR MISALNYA), DSB. EYANG BERSAMA MEREKA, BERSAMA2 MEMBANGUN KEJAYAAN BANGSA INI

21. Nata Warga - 2 Juni 2009

He…he…he.. Kalau gak ngerti mistik mendingan diam saja..
bolak balik kagak tahu jebak diri sendiri, “makanan setan” he..he…he.. ngomongi mistik juga mas.. gak mau pakai mistik, tapi pakai istilah makanan setan… apa lagi nanti baru ngomong percaya tuhan, apalagi ngomong sembayang… walah.. walah. walah.. ini benar udah sok tahu alias tidak mengerti tapi emosional.. ojo rumongso biso, neng biso rumongsone..

Salam Sejati

22. EYANG SABDOPALON - 2 Juni 2009

TAMBAH MUNDUR LAGI, OH NASIB BANGSAKU…..UDAH DIJAJAH SAMA ORANG ASING MELALUI EKONOMI DAN BUDAYA, DARI DALAM BANGSAKU SENDIRI DIRUSAK KLENIK DAN MISTIK. CUCUKU AYO BELAJAR ILMU YG BERMANFAAT BAGI KEMAJUAN BANGSA DAN BEKERJA KERAS, MISTIK2 ITU YG BIKIN KITA DIJAJAH SEKIAN ABAD. TRAGIS….TRAGIS…..

23. aga - 2 Juni 2009

@ sabdopalon

nggak mengerti mistik tapi sok mengerti.Mistik aja kagak tau.Dasar anak kemaren sore…..

24. EYANG SABDOPALON - 2 Juni 2009

@aga

SOK MENGERTI? HEHEHE… TAMBAH BANYAK AJA NEH ANAK BANGSA YANG TERBELAKANG

25. aga - 2 Juni 2009

@ sabdopalon

a…b…c…d…..cape deh

26. aga - 2 Juni 2009

@sabdopalon

katanya terpelajar.masuk ke rumah orang pake tata krama.emang di sekolahnya kagak diajarin sopan santun.ini bukan rumah anda.belajar masuk rumah orang ketok pintu dulu dan memperkenalkan dirimu..

27. pengung - 3 Juni 2009

Wah bagus dan membanggakan nih…! generasi terkini masih peduli bahkan mendalami ajaran SSJ…..emmmm tapi kata Prof. Hasanu dari UGM, Syekh Siti Jenar itu hanya cerita fiktif, mana yang bener ya ?…..monggo bagi yg sudah mampu “ngintip langit” bagi² pengetahuan.

28. tegoehkusuma - 3 Juni 2009

Hssrrhhh…hmmmh…zzzz….
keringetan…makan enak…tidur nyenyak…
Pulang…dalam pangkuan GUSTi….

Salam sejatining SEJATi.

29. chodjim - 3 Juni 2009

Salam mistik!
Silakan diskusi, dan bahas apa manfaat 9 pokok ajaran SSJ dewasa ini. Semoga tercerahkan!

Salam MKG,
chodjim

30. tegoehkusuma - 3 Juni 2009

Salam MKG.

Sugeng rawuh pak Chodjim. Wilujeng pak ?

Salam sejatining SEJATi.

31. BaNi MusTajaB - 3 Juni 2009

Sebagai sebuah kajian ilmu, tentu saja ajaran Syekh Siti Jenar masih relevan.

32. aku-sumo - 4 Juni 2009

Jalan mkg adalah spt labirin… sebab
bagiku tak ada keberadaan lain selain Tuhan.
Hal ini mudah dimengerti oleh orang mistik, tapi orang orang yg berpikir logìs mengkritiknya ‘apakah langit dan bumi’? Tanya mereka,’ apakah bidadari, manusia dan kewan?’
Engkau sudah berbìcara baik, orang budiman; aku akan menjawab, jika engkau menyetujui.

Lautan dan daratan, gunung gunung dan langit
Bidadari, ibliß, manusia dan malaikat.
Apapun mereka adalah lebih rendah dari Dia.
Sebab mereka mengabil nama dari wujudNya

33. Adi hadi - 5 Juni 2009

sepertinya iya

34. Migan Zulmi - 9 Juni 2009

Saya tertarik dengan Ajaran SSJ namun praktek sebenarnya bagimana yach?setahu Saya Ajaran SSJ bersumber pada Alquran dan Hadis yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W.

Saya inginya bisa belajar seperti murid2nya SSj dan bisa belajar mati, sesahidan dan banyak lagi. Sementara SSJ memang tidak meninggalkan kitab dan SSJ tidak di Pancung. Untuk nenerapkan ajaran SSJ sebagai jalan hidup bagaimana yach? Sesungguhnya dualitas memang adanya dialam materi.

Dan pesan dari SSJ adalah : Guru terbaik adalah Qolbumu, dan tidak mengenal guru/mursid (nabi muhammad juga tidak berguru kepada manusia lain kan?)

35. nona wisnu wardhani - 10 Juni 2009

to EYANG SABDOPALON
” KATAK DALAM TEMPURUNG! KAN EYANG UDAH BILANG STOP MISTIK2AN, KALO MAU SESAT TERUS SILAKAN, TP JGN BAWA2 NAMA EYANG! CUCU2KU SEKARANG INI, KT DIJAJAH OLEH BANGSA ASING LEWAT EKONOMI DAN BUDAYA, JANGAN PUTUS ASA DENGAN MENGAMBIL JALAN PINTAS MENEMPUH JALUR MISTIK, EYANG GA RELA! KARENA ITU GA BERGUNA! KATANYA MAU MEMBANGUN NEGERI INI, KOK MALAH BERLEHA-LEHA MISTIK2AN, AYO GENERASI MUDA BANGUNLAH, TINGGALKAN BUDAYA2 YG BIKIN KITA JAUH DARI REALITAS, YG TDK PRODUKTIF, MARI KITA BANGKITA MENGUSI NEO IMPRELISME DARI NEGERI KITA YANG TERCINTA INI ”

” GENERASI MUDA KAYA GINI YANG DI ZAMAN EYANG TA’ TUMPAS, GA BERGUNA, SAMPAH MASYARAKAT. MALAS BEKERJA KERAS, GUSTI..GUSTI.. APA SALAHKU? CUCU2KU JADI MUNDUR 500 TAHUN KE BELAKANG ”
omong kosong pak deeeeee !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

” KATA SIAPA? JANGAN SOK TAU AH! YG MALES, YG MISTIK2AN ITU YG JD MAKANAN SETAN, YG BEKERJA KERAS, YG BERILMU BERMANFAAT (INSINYUR MISALNYA), DSB. EYANG BERSAMA MEREKA, BERSAMA2 MEMBANGUN KEJAYAAN BANGSA INI ”
bukannya lu yang SOK TAU ?!?!?!?!

” TAMBAH MUNDUR LAGI, OH NASIB BANGSAKU…..UDAH DIJAJAH SAMA ORANG ASING MELALUI EKONOMI DAN BUDAYA, DARI DALAM BANGSAKU SENDIRI DIRUSAK KLENIK DAN MISTIK. CUCUKU AYO BELAJAR ILMU YG BERMANFAAT BAGI KEMAJUAN BANGSA DAN BEKERJA KERAS, MISTIK2 ITU YG BIKIN KITA DIJAJAH SEKIAN ABAD. TRAGIS….TRAGIS…..”
pak de, mistik itu ada hubungannya ama filsafat, filsafat hubungannya ama pengetahuan, nah pengetahuan kan yang bikin tambah ilmu…..
jadi belajar mistik juga tambah ilmu, ….
otak lu nyampe g ?!?!

” SOK MENGERTI? HEHEHE… TAMBAH BANYAK AJA NEH ANAK BANGSA YANG TERBELAKANG ”
g usah bilangin orang lain sok deh…..
ngaca dulu pak de……..!!!!!!!!!!!

36. Gantharwa - 11 Juni 2009

Saudara Wisnu..
Sing Sabar yo…

Salam

37. adi hadi - 12 Juni 2009

apa khabar non wisnu!!
kemarin2 tak sapa kok gak jawab, baik2 kan?

38. Bambang P. - 12 Juni 2009

Ilmu yg mesti dipelajari oleh anak2 bansga ini supaya ga jadi tamu di negerinya sendiri,bisa menghargai diri pribadinya sendiri sehingga bangsa lain juag turut menghargainya n then ga terus jadi babu n diinjek2 bangsa lain itu cuma ilmu kawitan,kembali ke asal mula “buka”nya kebudayaan hidup bangsa kita sendiri.

Ilmu Mistik itu ga menjajah,karena jalan mistik ada didalam kemerdekaannya.Jika menjajah itu tentunya bukan lIlmu Mistik,apalagi Unio Mistika,melainkan Ilmu doktrin atau ilmu karang,ilmu yg dikarang2 kegaibannya dan dibuat2 kesakralannya oleh manusia itu sendiri demi mendapat horma,anggepan dan pengakuan dari sesamanya.

39. hadi wirojati - 12 Juni 2009

pamuji rahayu..

hehehee.. non wisnu… jangan marah marah ya nanti bibir atasnya keriput… hehehe…, yang sabar sareh.., lha wong mundur 500 thun itu masa kejayaan nusantara…, kita mau buat nusantara kita kejayannya seperti 500 tahun yang lalu.. dengan kembali menggali local wisdom.., karena kita bangsa yang berbudaya luhur.., jadi nanti kita akan mencitrakan kedirian kita sebagai bangsa yang punya jati diri…., kita ini kan bagian bagian.. ada insinyur, ada dokter, ada pns, ada wah pokoknya macem macem dan bekerja sesuai job dan aturannya… lha kalau kita iniii, tugasnya membangun mental dan menjadikan bangsa ini supaya bermental dan berkepribadian indonesia…, ……….dijajah ekonomi dan budaya… naaaaaahhh, makanya budaya kita .. ya kita yang harus meng uri uri.. digali lagi supaya muncul dan dunia luar tahu.. terus pada berdatangan untuk menyaksikan dan mempelajari budaya kita… kan ada masukan tuuuhhh…, buat bangun nusantara… hehehe…, makanya kalo ada seni tradisi, seni budaya asli jangan terus bilang kuno.. kampungan.. jelek.. ga mau maju…, malas ngutik ngutik masa yang lalu…, hehehehe… wong mistik itu buagus…, coba dengar dan resapi dengan kedalaman rasa… sebuah gending dengan tembangnya umpama dhandang gula, kinanthi, dlll.., ooohhhhh.. begitu mistis., suara suling sunda…mengalun membahana menyatu dengan alam… oooohhhhh begitu mistis…, suara suluk dalang dengan falsafah dan filosofinya… oohhhhh begitu mistis.., itu baru sithik… coba nanti kalua kita bisa kembali memunculkan budaya kita maju pesat sejajar dengan budaya nginter gabah… eeehh. nginternasional.., weeee…, indonesia dapat gelar negara adi luhung… yo thooo… thoo yooo,. non wisnu jangan nesu nesu lagi ya… yang sabar… tapi emang benar juga anda antusias dan bersemangat.. semoga semangatmu menggugah dan memberikan motivator generasi mudha… hehehehe.. salam sihkatresnan..

rahayu..,

40. hadi wirojati - 13 Juni 2009

pamuji rahayu..

ngapunten. non wisnu.. tak kirain yang ngomong sampeyan .. eeehhh.. ternyata yang pake nama EYANG NYABDOPALELON.., punten ya non…, hehehe.. yadah tulisan diatas saya tujukan buat EYANG NYABDOPALELON.., …supaya PALE ndak LON, huehehehehe.., lucu jadinya…, ketlingsut..,

salam sihkatresnan ya non..,

rahayu..,

41. adi - 6 Juli 2009

menarik tulisan pak A. chodjim. saya rasa ajaran SSJ berisi nilai-nilai luhur yg ttp relevan hingga saat ini. inti ajaran MKG yg bapak sampaikan justru sangat memuliakan manusia. Inilah sumber pengetahuan ttg hak asasi, tentang menjaga lingkungan, menjadi manusia yg berguna (utama). bangsa kita sangat perlu ini. kalau menurut Bung Karno “revolusi kita belum selesai”. ya, inilah sebenarnya, bangsa kita telah kembali pada ke-jahilian-an, alias feodalisme yg akut. agama dijadikan panglima dalam hidup bernegara. orang berebut klaim yg benar dan yg sesat. yg tidak sepaham dimusnahkan. kalau diterus2kan jadinya negeri kita memang akan jd bangsa yg gagal, “failed state”.

diskusinya menarik, mengingatkanku pada teman2ku yg gemar menggeluti ke-mistik-an jawa. saya sdri ndak terlalu ngeh apa itu mistik. cuma kadang saya merasa teman2 saya itu larut dalam kontemplasi mistiknya dan melupakan kerja2 penyadaran untuk banyak kaum yg masih terjerumus dalam kejahiliahan. sayang sekali, pengetahuan mereka mestinya dipraktekkan dalam hidup sehari-hari. banyak sekali saluran relevan di alam kekinian untuk mewujudkan kembalinya kedaulatan bangsa kita, sekaligus keutamaan diri kita masing-masing.

banyak musuh2 nyata dalam kehidupan sehari-hari yg menggambarkan feodalisme itu. tidak hanya berkaitan dengan pengkultusan agama & syariahnya, melainkan dalam wilayah2 publik seperti perusakan sumber daya alam kita oleh bangsa asing dan juga bangsa kita sendiri, politik uang, menjamurnya korupsi, dll dll. Marilah, turun ke bumi menuntaskan masalah2 dunia, membebaskan masyarakat dan bangsa dari feodalisme.

mohon maaf jika ada kata yg kurang bekenan.

pamuji rahayu,

42. nona wisnu wardhani - 12 Juli 2009

to adi hadi – 12 Juni 2009
” apa khabar non wisnu!!”
baik ?? mas…….

“kemarin2 tak sapa kok gak jawab, baik2 kan?”
sorry g baca……

to hadi wirojati – 12 Juni 2009
” hehehee.. non wisnu… jangan marah marah ya nanti bibir atasnya keriput… hehehe…, yang sabar sareh..,”
wah kayaknya udah keriput mas…
banyak mikir…..
kapaaaaaan ketemu cwo idaman ya ??
biar g streeeessssss
:(

“ngapunten. non wisnu.. tak kirain yang ngomong sampeyan .. eeehhh.. ternyata yang pake nama EYANG NYABDOPALELON.., punten ya non…,salam sihkatresnan ya non.., ”
dont worry be happy

43. rio - 22 Juli 2009

assalamu’alaikum..”

ngaturi sugeng rahayu…sedrek sedoyo…??
kepareng dalem meniko nderek pados/mbagi kaweruh wonten mriki…

kpda smua tmn2 yg maseh d karuniai kesempatan untuk bernafas!!!

saya yakin…
bahwa dari masa dulu… yg qta tidak ada d dlmnya… sampai besok ga tau kapn!! pasti manusia akn sibuk dng mencari apa yg d sebut BENAR / SALAH!!! ya kan..??
padahal itu cm alat untuk supaya qta bisa mendapat lebih dari apa yg qta rasakan ato punya sekg…iya bukan???
maka dari itu…marilah qta banyak membenahi diri.. hanya tuhan dan jiwa dari diri qta masing2 pribadi yg tau akan hal kbenaran…dan biarkan hal itu pun menjadi rahasia NYa….!!

ada secuil jiwa…. yg tiada pernah terkotori oleh akal yg berada di tubuh qta….
“dan itu adalah milik-NYa…”
jiwa itulah yg menjadi jembatan antara tuhan dan ciptaanya..dan jiwa itulah akan membuat qta tersadar!! bahwa tiada yg benar maupun yg salah karena… itu smua hanya sbuah permainan dari akal/aturan keduniawian.. lihatlah dari keheningan jiwa mu… apakah ada yg masih pantas km hadapkan(kepda-NYa) dari dirimu sebagai ciptaan yg paling mulia dari smua ciptaanya???

qta harusnya sadari sumber /jati dari sebuah adanya kehidupan itu adalah bagian dari kata “ingin/kemauan”!!!
jadi marilah qta kembalikan kata ” ingin itu kpda yg berhak membawanya… yaitu.

“Gusti Agung kang anggawe jagad”

maka dari itu biarlah tuhan yg berkehendak….bukan qta…!!

“jadikanlah sesuatu hal itu menjadi kehendak-Mu , dan jangan jadikan semua itu jd kehendakku..”

marilah qta menyadari qta ITU tidaklah ada kuasa untuk suatu apapun… maka buat apa qta perdebatkan tentang apa yg harus qta lakukan??? maka dari itu ambilah / petiklah dari dunia ini, sesuatu hal yg membuat-Nya bangga kpadamu…. karna diri-Nya pasti tidak akan diam..!!!

saya pengen berpesan …

marilah qta mencoba menjadi ” manusia ” dulu…

karna yg saya lihat sikap n sifat qta itu blum pantas di sebut “manusia” yg d inginkan /di maksud oleh-Nya… qta terlalu banyak berpendapat dan menilai akan sesuatu hal yg sebenarnya mnfaatnya tdak qta tahu apakah diri-Nya senang ato tidak…!!!

eling2 sederek kulo sedoyo…

SAREH… TUR SUMELEH…

matur suwun lan
salam rahayuuuu…

assalamu’alaikum..

44. Mahavatar - 22 Juli 2009

ajaran syeh siti jenar yang tak lain sedang mewujud sebagai saya. adalah cuma gerbang. tapi bukan sembarang gerbang. melainkan gerbang antar gerbang.

jadi semacam pintu kemakrifatan.

ditanya soal relevant atau tak, ilmu itu berkembang tho. karena itu. ilmu syeh siti jenar bukanlah yang tertinggi. karena ajaran beliau adalah gabungan atau sinkretisme hindu – islam – buddha.

kadang sering ditafsirkan sebagai sufisme. mungkin mirip saja, tapi yang jelas bukan.

sedangkan ajaran agama saya sekarang cuma sinkretisme hindu-buddha, alias ciwabuddha.

salam.

45. Mahavatar - 22 Juli 2009

syeh siti jenar ada dimana-mana, satu saat ia syiwa, lain saat ia brahma atau vishnu, lain saat lagi ia allah. dan lain saat lagi ia kita semua.

salam.

46. endang adi asmoro hadi - 23 Juli 2009

den.. tuh yg dikangenin ma ente kmbli lg

47. MMJHH - 18 Agustus 2009

Untuk menjawab pertanyaan itu,sesuai yang ada pada diri pribadi masing-masing.

Jawaban itu ada 2 pendapat yang harus dipertanggung jawabkan.
Pendapat yang pertama menggunakan ilmu Akal/Fisik
Pendapat yang kedua menggunakan Ilmu non fisik

Semua pendapat itu benar tidak ada yang salah.

48. endang adi hadi - 19 Agustus 2009

Digawangi bintang pari
Disinari bintang tujuh
Pagi hari melihat teratai
Mempelai lelaki dan wanita disandingkan
Derai air mata 2 putri domas krn suka cita
Berteduh pada 3 payung putih

49. Radhi1307 - 9 September 2009

Ajaran Agama bukan untuk diperdebatkan tapi untuk dilaksanakan sesuai dengan keyakinannya masing2

Sallam

50. Radhi 1307 - 9 September 2009

Kita jangan terlalu terlena dengan ajaran ajaran yang belum jelas,apalagi kita tidak punya guru pendamping yang tidak bisa dipertanggung jawabkan di akherat nanti,karena sudah banyak korban yang keluar dari ajaran agama yang sesungguhnya..padahal agama itu sendiri mengajarkan kebaikan dunia dan akherat,semoga bagi yang merasa berubah atau menyimpang dari agama segera sadar dan kembali kepada ajaran agama yang benar

Wasallam

51. freddy sembiring - 18 September 2009

Bp. aku-sumo….

…apa yg bp sampaikan: “sangat membahagiakan hati saya saat membacanya…”

…perjalanan ruhani bp mungkin hanya ada 1 diantara beberapa juta jiwa manusia…

salam hormat…

52. Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu - 4 Oktober 2009

Setahu saya syeh siti jenar tak pernah mengajar untuk jadi manusia hakiki. tapi seluruh point-point ajarannya mengarah pada kesempurnaan (manunggaling kawulo gusti),.

cuma dengan manunggal pada sesuatu barulah kita bisa sempurna.

selebih dari itu tak ada. syeh siti jenar bukanlah seorang humanis. jika memang benar begitu pastilah ia sudah berkecimpung di politik dan budaya.

hari-harinya cuma penuh dengan perenungan dan perenungan, terus menuju pada Sang Haqq.

Semoga seluruh makhluk sehat, kuat, bahagia
hehe.

53. Hartono - 9 Oktober 2009

salam damai..
manusia dan jin diuji dululah….melalui jalan hidupnya…menjalani syariat dan tarekat…lalu merenungkan makna Hakekat hidup…klaw dah ketemu…sang Haq lah yang memberi…ma’rifatnya…disitulah mahluk dekat dengan Tuhan…tapi jangan merasa dapet marifat / dekat dengan tuhan …gara2 habis tapa di goa..heeee…
jalani hidup ini sesuai syareat kanjeng Nabi Muhamad…itu dasarnya…soal MKG hanya Allah dan hambanya yang tau….( Sekarang disebut WALI dan wali tidak mengaku dirinya Wali…kecuali nanti setelah beliau meninggal maka kan bersinar KEWALIANNYA….semua mahluk pasti ada salahnya Nabi pun begitu semua ada hukumannya…jadi jangan salahkan Wali..klau Sech Siti Jenar terhukum….karna melaui hukuman itulah…KEWALIAN SITI JENAR bersinar….( Perdebadatan para wali adalah jalan mengenal Tuhan lebih dekat ,hanya beliau2lah yang paham ). beliau2 tdk menginginkan Surga ….tapi ingin berjumopa dan dekat dengan Tuhan ) Tapi Kita mukin hanya sebatas Syariat yang pamrih mengiginkan Surga….klaw tdak ada surga …Apakah kita tdk lagi berbuat baik dimuka bumi ?…
salam kenal aja…

54. waskita - 26 Oktober 2009

Benar dan salah itu hanya seperti kepingan mata uang logam saja kok.
tahukah kita, mengapa kita saling berlomba-lomba merasa paling benar. dalam segala masyalah.
Cobalah kita berlomba-lomba mengaku yang paling salah,maka dunia ini tidak ada perang yang ada adalah kedamean, karena demi kebenaran manusia memperebutkan harga diri, meskipun mereka salah dan mengaku benar. bukankah kebenaran itu hanya milik Tuhan, manusia di turunkan ke bumi, ini juga karena kesalahan. dan terjadinya semua kemelut di bumi inipun karena manusia merasa paling benar sendiri, dan sering menyalahkan yang sebenarnya Benar. danmerasa DIALAH yang paling benar.
Untuk itu mari coba kita berkaca dan merenung, Sebenarnya Kebenaran yang sering di dengungkan itu, kebenaran yang bagaimana ?

55. Mahmud Shah - 29 Oktober 2009

Tuan moderator, minta keizinan memasukkan informasi ini ke dalam blog saya ya. Sungguh informasi ini sudah lama saya butuhkan. Terima kasih.

…di mana aku berada di sana ada DIA…

56. Gantharwa - 29 Oktober 2009

Salam Saudara Mahmud Shah
Monggo… Silahkan saja..
Jangan lupa cantumkan sumbernya, untuk menghormati penulis.

Salam

57. kisah - 10 November 2009

Dengan mendekatkan Diri Dengan Allah, menjauhi segala larangannya, Ikuti ajaran Kanjeng Nabi Secara Benar akan menuju JalanNYa . Al Faatihah:6,7 (6. Tunjukilah kami jalan yg lurus, 7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam. ]

58. tegoehkusuma - 10 November 2009

@kisah:
mas/mbaK Kisah-Kisah TeLadan. . .dari istana presiden hingga gedung dpr/mpr di dalamnya mayoritas IsLam…dari aparat sampai dengan rakyat meLarat mayoritas IsLam…bahkan para TKW yg bernasib sekarat mayoritas seteLah puLang dari negara2 IsLam……. nah, menurut mas Kisah…di negeri ini apaLagi yang kurang IsLam ?!

59. aku_sumo - 11 November 2009

setelah nabi wafat suku-suku arab yang mengelilingi nabi pulang ke kafilah2 mereka masing2 sambil membawa hafalan dan catatan2 mereka sendiri2 tentang Al Quran, setelah itu muncul 15 mushaf primer para sahabat, dan ditambah 13 mushaf sekunder para sahabat, yang kemudian menimbulkan banyak konflik (eker ekeran) karena klaim2 bahwa punyaku lebih bagus dari punyamu. dan yg paling berpengaruh adalah mushaf ubay bin ka ab di siria, kodeks abdulah bin mas’ud di kufah, abu musa al asy’ari di basrah dan kodeks miqdad bin aswad yang berpengaruh di kota hims.

maka khalifah usman (644-655 M) dengan panitia pengumpul yang dipimpin oleh zaid bin tsabid mengkodifikasi teks2 tsb, untuk tidak menyebut sbg “kesepakatan terselubung” dan kemudian memusnahkan membakari teks2 para sahabat yang berbeda. dan didukung oleh daulah abbasiah yang berkuasa selama 400 tahun teks ini berhasil menjadi teks yang disepakati (textus receptus)

dibawah pengawalan ketat kekuasaan kerajaan2, ditambah doktrin dan dogma2 para ulama yg menyakralkan bahasa al quran pelan tapi pasti teks yang benama al quran ini kemudian disucikan dan disebut “kitab suci”

jadi 6666 ayat itu bukan keajaiban tapi bikinan usman wkwkwkwk
tuhan juga tidak pernah dan tidak akan pernah menyuruh kita menjual tanah kemudian piknik ke jakarta putar- putar tugu monas dan pulang2 menjadi suci……dasar sifat dasarnya begitu….

60. hidayat - 11 November 2009

Rahayu…
he he he…
seperti kata mas aku sumo, itu sebuah cerita asal usul tentang kitab suci,
dan cerita itu prosesnya sama dengan komentar yang anda tulis..itu. itulah sebabnya saya menghormati yang seperti ini yaitu –katanya–
yang aseli harus jadi lampu , kalau setrumnya ada ya menyala, itu disebut langsung seperti siaran sepak bola dunia.
kalau tulisannya pak chojim akan saya pelajari dulu..
wass wb.

61. Ahmad - 13 November 2009

AKu Sumo :

tuhan juga tidak pernah dan tidak akan pernah menyuruh kita menjual tanah kemudian piknik ke jakarta putar- putar tugu monas dan pulang2 menjadi suci……dasar sifat dasarnya begitu….

************

huakakaka…..tumben si om bisa ngelucu wkwkwkwk…..(saya ga punya sedikit juga rasa benci sama agama islam but maaf2 aja ni, ini lucu bener tulisannya ….wwkkwk… )

62. hidayat - 13 November 2009

cocok untuk ngaca, gimana bulu alisnya aseli nggak ?
kalau amrozi bawa bawa islam
kalau yang beginian bawa bawa mbah jenar

63. aku_sumo - 13 November 2009

itulah sebabnya arwah kanjeng nabi kisinan (malu sendiri), al quran jadinya spt itu ketika berhadapan dan melihat apa yang dibuat oleh mahesa kariban, yg intinya sama dengan ajaran seh siti jenar yaitu kebebasan jiwa untuk mencari kebenaran yang sesuai dengan jiwa itu sendiri, atau istilahnya “globalisasi jiwa”.

64. aku_sumo - 13 November 2009

5000 tahun yang lalu di jaman atlantis atau sundaland, air laut masih 100 m dibawah muka air laut yang sekarang, orang jawa dengan ilmunya melipat bumi dolan kluyuran ke mesopotamia ngajari cara bertani disana, jauh sebelum agama-agama besar lahir orang jawa sudah tahu bahwa ada ketidak sempurnaan yang amat sangat mengerikan didalam maujud atau mangejawantah, dan menanam/menyembunyikan janji (tandure wong sumilir) untuk menyempurnakannya dengan ilmu kasampurnan sbb:

“memayu hayuning bawono, tak ijo royo-royo gemah ripah lohjinawi tata titi tentrem kerta raharjo”

65. aku_sumo - 13 November 2009

itulah sebenarnya tugas para nabi, para wali, orang2 suci para pemimpin dunia dll. untuk mewujudkan a new world order yang ijo royo-royo gemah ripah lohjinawi tata titi tentrem kerta raharja

tetapi yang tejadi adalah a new world disorder, perang salib yang berkepanjangan, perang dunia ke-1, ke-2, perang irak sd perang israel palestina, krisis multidemensi, ketidak amanan, jaman edan dsb. semuanya ini menjadi kemenangan dajjal

jadi misi para nabi ini dinyatakan gagal, mereka semua diatas sana ditanya mengapa semua ini terjadi? mereka semua harus ikut bertanggung jawab atas nasib yang menimpa dunia sekarang ini

itulah sebabnya pintu besar di alam sana masih tertutup rapat

66. Ahmad - 14 November 2009

hidayat – 13 November 2009

cocok untuk ngaca, gimana bulu alisnya aseli nggak ?
kalau amrozi bawa bawa islam
kalau yang beginian bawa bawa mbah jenar

*********

hahaha,
ngomong2 emang ga baik bersembunyi di ketek org2 besar di waktu lalu (kaya anak2 perempuannya Kusno itu!!!) apalagi teks dalam buku n kitab2 suci,jadilah dirimu sendiri,berdirilah di atas kakimu sendiri,ga perlu bersender dan bergantung……

67. hidayat - 14 November 2009

woew..
putar-putar ke Jakarta aku enggak minta uang kamu to?
orang kasih rokok ke saya apa mereka pernah saya suruh memberi kepada saya.. cuba tanya mereka, kalau rejeki lagi banyak jangan ngiri mas???
tinggal duduk saja, enggak ngotori ato jual “nama leluhur “

68. Ahmad - 14 November 2009

wah ,jgn ngambek gitu dong mas,maksudnya kan situ barusan bilang kalo amrozi bawa2 islam,sedangkan si aku sumo bawa2 mbah jenar nah ana komentar menyetujui pendapat antum bahwa “ngebawa2 org lain” itu ga baik…….(ana ga kenal loh sama si aku sumo,swear kewer2 deh)…

Nyantai boss…..

69. megatruh - 27 November 2009

smakin rame …………………………………………..
asyiq…………. masygul menyendiri……………………
riuh dalam kesendirian……………….
hening dalam keramaian…………………………….
apabila ketemu ujungnya hanya diri-Mu
apabila kukejar ternyata lautan yang tak bertepi
aku smakin bingung,tak tahu arah …………………
dan tak kulihatpun diriku hanya sirna dan hilang.