“KULO MANGERTOS GUSTI, KULO TRESNO MARANG GUSTI, KULO MANUNGGAL KALIAN GUSTI, KULO NYEDANI GUSTI” 28 April 2009
Posted by Gantharwa in Laporan Sarasehan.15 comments
Semarang , Selasa 21 April 2009
Oleh: Nata Warga
Bapak Ibu dan saudara semua, sangat berbahagia hari ini dapat bertemu dengan saudara semua.
Judul mengenai: “KULO MANGERTOS GUSTI, KULO TRESNO MARANG GUSTI, KULO MANUNGGAL KALIAN GUSTI, KULO NYEDANI GUSTI”
Adalah karena beberapa kali mengikuti copdar merasa tidak ada arah topic yang di bahas maka memberanikan membuat judul. Adapun secara pribadi judul diskusi adalah suatu usulan dari hasil meditasi saya. Mengingat akan bertemu dengan saudara-saudara tentunya memiliki kwalitas Roh yang di atas rata-rata dan tentu telah melampaui perjalanan spiritual yang cukup anjang serta juga tentunya pada saat pertemuan kita ini bukanlah kebetulan semata, tapi mungkin pada suatu ketika, ada jaman atau masa sebelum ini, kita pernah berjanji untuk ketemu dan saling mengikatkan janji untuk berjumpa, sehingga hari ini kita bertemu dalam suasana kemanunggalan rasa. Kami (Gantharwa) yakin dan percaya bahwa usia/umur, Roh – Atma kita lebih tua dari usia bumi ini. Maka tidak heran kalau mungkin kita pernah janjian untuk ketemu.
Bapak Ibu dan saudara semua, hari ini kita bertemu untuk bersama berdiskusi secara komunikasi dua arah, maka ini bukan bentuknya satu arah, apalagi sampai di anggap ngajari wong tuwa. Nah.. hari ini adalah kita bersama-sama yang kami sebut sebagai sarasehan, kami selalu di ingatkan untuk selalu saling ketemu untuk sarasehan agar terjalin suatu ikatan persaudaraaan (Kadang Sinarawedi) yang kuat. Adapun sarasehan adalah yang mana kebebasan untuk mengeluarkan pendapat sebebas-bebasnya, tanpa memaksakan kehendak/berdebat/ pendapat orang lain, jika ada sesuatu yang tidak paham, silahkan di Tanya atau kejar sampai paham.
Bapak Ibu dan Saudara semua, mari kita masuk pada diskusi kita mengenai judul, mungkin di mulai dari pemaparan saya, nanti baru kita angkat sebagai diskusi lebih dalam.
Pembahasan awal sekali adalah mengenai tentang KULO dan GUSTI, kulo yang di bahas ini adalah bukan hanya sebatas diri manusiawi fisik, tapi adalah lebih kepada ROH atau sesuatu yang sejati, sesuatu yang memang bukan dalam badan jasmaniah, yang juga bersifat Ilahi. Namun kali ini kita membahas secara manusiawi dan kita umpamakanlah sebagai manusia yang hidup.
Hal yang sama, GUSTI yang di bahas ini adalah Gusti anggapan, atau gusti yang memang telah terpatri dalam pikiran wujud manusia, BUKAN GUSTI ADALAH!!! Tapi hanyalah anggapan-anggapan dan pendekatan semata, karena kita tidak sanggup atau akan mampu berbicara tentang GUSTI yang ADALAH. Karena begitu mulai bicara atau mulai membahas maka itu bukan ADALAH, tapi hanya sekedar pendekatan saja, atau anggapan saja. Sama halnya contohnya kalau kita mengatakan gusti itu maha, maka itu hanya pendekatan, karena yang maha masih ada segala kemahaan, namun kembali lagi itu tetap tidak bisa menjelaskan. Maka kalau di Gantharwa selalu di nasehati bahwa GUSTI IKU TAN KENA KINAYA APA NANGING ANA. Titik garis bawahnya adalah ANA. Namun dengan mengatakan ANA, bukan berarti Gusti Juga demikian, tapi tetaplah di anggap sebagai pendekatan.
Maka inilah jangan menjadi salah tangkap dan menjadi ajang tafsir yang tidak perlu. Hal yang sederhana buat kita salah tafsir adalah suatu banyolan yang sering di ungkap oleh Pak Joko (Gantharwa) bahwa keterbatasan tentang Gusti, seperti ini:
1. Apakah anda percaya Gusti itu MAHA KUASA?
2. Apakah anda Percaya Gusti itu Maha PENCIPTA?
3. Kalau demikian, Bisakan Gusti menciptakan sebuah batu yang sangat berat sekali sehingga Allah sendiri tidak berkuasa untuk mengangkatnya?
Ini hanya contoh saja, tidak untuk di diskusikan.
Bapak Ibu dan saudara semua, pada bagian pertama (lagi…)