inyong~insung, I ~ me , aku ~ kulo , Saya ~ aku ………all and me …semua yang ku Rasa…. 23 Maret 2009
Posted by Jabang Sasmito Roso in Serba Serbi.trackback
Terimakasih, Maturnuwun Eyang Kakung dan Putri Gatho ….
SUdah berikan Kesempatan untuk kali ini …
Selamat Siang sederek dan Kadang semuanya
Tidak kurangnya rasa syukur saya ucapkan pertumbuhan akan jalinan silaturahmi semakin melebar .
Menjadi tanpa ukuran apa apa utk mengenal dan mengenal.
masing masing membertikan Tanda utk saling berbagi dalam Hidup dan Kehdiupan ini
Acara Cangkrukan : Dusun Gathak Turi Sleman Yogyakarta
Tema : Tema Biarkan seperti air Mengalir
Tuan Rumah : EYang Kakung dan Eyang Putri Gatho

Tamu
~Om dan Tante Ngurah Agung

Group PECEL semarang dan Mbah Dadus berikut Putra nya


~Dodo Mewakili Gantharwa dan
Komunitas Doing Good ( Gawe Becik )

Hari/Tanggal : Sabtu 21 Maret 2009 Pukul 18.30 – selesai
Kegiatan Cangkrukan :
Sebagai ajang tali silaturahmi berikut untuk saling bertukar pandangan.
Kembali rasa bersyukur semua berjalan dengan mengalir saja. Pembahasan yang bertumpu pada sebuah Pendekatan akan Pengalaman dalam Tanda Kutip ”Pesan akan ”RASA”…
“aku~kulo” “Inyong~ingsun”"I ~ me”
Manusia dan Kelahirannya
Manusia saat terlahir sudha memiliki FITRAH yang sama.
Beranjak tumbuh kecerdasan dan berkembang , banyak menyerap Pengalaman pengalaman Hidup terkait dengan Indra Sensorik .
Dari Pengalaman akan tumbuh Emosi terkait mental dan kecerdasan . Hingga dikatakan Spiritual ”adalah’’spirit……
namun apakah Sipritual sering disimpulkan sebagai Spirit sendiri….dan Itu “”Kesimpulan”" pada umumnya,….
Semneetara bila mau di perdalam lagi manusia sering tanpa disadari atau tidak berbicara SPiritual sering terlepas dari Menlesurui pada kutub Mental dan Fisik ( Wadag)
Hal hal diatas terbagi lagi dari berbagai pandangan akan sebuah PRODUK yang dihasilkan ,.bagaimana itu akan bermanfaat untuk diri semata atau untuk sesama .
Yang jadi Penilaian pada UMUMNYA ,…mereka yang ber Karya dalam BENTUK MATERI sering dijadikan ACUAN AWAL ,karena ada sebuah PERAN FISIK( WADAG) yang Dominan .Manusia terbiasa melihat dari sisi yang Tersentuh~Tercium~Terlihat~Terasa~Terdengar . Dari sini bila pada TINGKAT MATERI sudah menjadi ACUAN ,..bagaimana melihat dari sisi Spiritual????Hingga akan terus MEMBENTUR~MENGGERUS~MENG OMBANG AMBINGKAN SISI MENTAL ,..menjadi serba KEGelisahan akan KEBERADAAN FISIKAL yang sering di katakan “KESUKSESAN MAUPUN dalam KETERPURUKAN”.
Bagaimana bisa dirasakan Spiritual sekedar Pendekatan BENTUK BENTUK UJUD RUPA???sementara Spiritual itu sendiri JAUH pada tataran BENTUK semata namun sangat TATAAN HALUS tanpa Ini dan Itu. ..penuh KEKOSONGAN,…
Sementara SPiritual yang dimaksud bagaimana mulai Menyadari akan FITRAH Asal Usulnya dengan melakukan Perjalanan Kembali sesuai dengan Peran yang Ada,,,dengan APA ADANYA
Semakin menyimpulkan Spiritual dalam Kotak Pikiran , Semakin jauh dari Kualitas spiritual sendiri
Dasar Perjalanan
Semakin tumbuh dan berkembang dikatakan manusia semkain RUMIT dan menadi Bias akan FITRAH yang sudah ada.Semakin terpengaruh akan Citra Bentukan Lingkungan ~ Pendidikan~ Sosial . Ada Gejolak gejolak HIDUP ,..Kemelakatan. Namun kita sering salah pengertian melihat Gejolak Hidup tersebut.
Gejolak Kebahagiaan~Kenyamanan~Penderitaan~Kesakitan.
ADa satu sisi Kegelisahan manuusia akan Makna Hidup itu sendiri ….
pada titik inilah semua titik titik moment itu akan bekerja ,,bagaimana kita memilih Menyikapi dan Beradaptasi akan Impulse Gejolak yang ada. Akan di MAKNAI ~ atau sekedar menjadi PUKULAN yang sekedar membikin MEMAR yang Berkepanjangan.
Bila dijadikan semua itu sebatas COBAAN ,...kita sekedar akan Mengkambing hitamkan dengan KONDISI yang ada .Bila menjadi ini sebagai UJUD HUBUNGAN sebagai Penerimaan utk Beradaptasi ..semoga Petunjuk itu akan MUNCUL tanpa di cari …
Sikap KERENDAHAN HATI semua akan terproses .Kerendahan Hati bukan sebuah hal yang BISA direncanakan sebelumnya ,.namun dildamnya PENUH dengan PROSES PROSES jatuh BANGUN . ..sangat APA ADANYA
Saat jatuh dan BNNAGUN seberpa lama kita mampu utk BERTAHAN dalam KONDISI Rendah Hati ,…terlepas dari Keluhan keluhan akan hidup itu sendiri..
Rasa ~ Roso Langgeng yang Bekerja menuju DHARMA
Melihat perjalanan yang penuh kerumitan ,…kita cenderung melihat hal hal diluar sebagai ACUAN PEMBANDING.
Sementara itu juga akan semakin JAUH dari Ke Langgenagan akan Peran DIRI yang ada. Bila hal hal diluar itu sebagai UJUD HUBUNGAN in isangat dimungkinkan ,…karena memang ini sebagai UJUD KESATUAN akan RASA Ingsun ~ Kulo ada pada setiap Pribadi. Ingsun~me~kulo sebagai Pendekatan bahsa …bukan kesimpulam yang mewakili akan Rasa tersebut. Bagaimana melihat ~ merasakan masing masing sebagai satu hubungan ,..sebagai satu yang berasal dari satu Fitrah yang ada….bagaimana MOMENT itu bekerja secara UNIVERSAL…bagaiman semua itu bekerja Tanpa PERBEDAAN ……
Bila mungkin in isebagai Titik PERAN , Roso Langgeng tersebut selalu siap ,namun sering kit amanusia diperankan oleh aku~saya~I. Pikiran yang sekedar bekerja, kecerdasan yang sekedar membelenggu , identitas identitas diri yang menjadikan BERBEDA dengan diri FITRAH yang ada ,.akibat akan ter EXPRESI peran diluar ,..semua perlu IDENTIFASI ~ UKURAN~PERBEDAAN sebagai ACUAN ,..bukan dari Ingsun~kulo yang Menyeluruh .
Perjalanan manusia tidak akan pernah dari sebuah DERITA yang sellau meniimbulkan KEGELISAHAN karena MENTAL Terpengaruh OLEH yang ““DIANGGAP”" REALITAS sebagai PARAMETER UTAMA
Sejauh apa DERITA dan KEGELISAHAN itu akan Menguasai Manusia dalam menjalani Lakon. Hingga melihat REALITAS sekedar jadi ACUAN semata .
Dalam pandangan demikian sangat DISADARI betapa kita HIDUP bagaimana MENERIMA PROSES KOMUNIKASI KEDALAM DIRI pada tingkat Ujud~RUPA~RASA. namun kembali lagi sejauh mana kita membawa semua itu menjadi AJANG PENERIMAAN ..FISIKAL~ASTRAL~KAUSAL .
Saat ini yang menjadi AJANG PERDEBATAN pada hal KAUSAL sementara masing masing masih Terdominasi~terBUDAK akan pendekatan FISIK(WADAG) semata yang mempengaruhi ASTRAL ( MENTAL) yang hanya akan menimbulkan PERDEBATAN karena Pandangan PERBEDAAN sebagai EXPRESI dari masih TERBUDAKNYA akan sisi WADAG / Materi sebagai PENDEKATAN SEsaat…….
Alangkah Indahnya bila masing masing mau mencoba memperhalus minimal FREKUENSI Pandangan pada PERSPEKTIF Tingkat SPiritual itu sendiri tanpa melihat UJUD ~ BENTUK ~ RUPA yang terbiasa MENDOMINASI hingga SEKEDAR menjadi KONTROVERSI ~KONFLIK dan PEMBENARAN Kedalam DIri maupun Keluar Diri semata…..hingga sebuah Dualitas menjadi Sebuah PEMICU KEDAMAIAN.…bukan menjadi KERESAHAN,….
Demikian uraian yang saya bikin, bukan menjadi KESIMPULAN ,..maaf bila ada yang Berlebihan mohon dengan Koreksinya,..monggo kalo ada yang mau menambahkan ,..Terimaksih maturnuwun
Namaskar (नमस्ते [nʌmʌsˈteː]
Haleluya~
Syâlõm ‘Aleykhem~
Wasallam~
Omitohud
Om Svastyastu~
Alhamdulillah~
PROFICIAT~
Pamuji Rahayu Nir Ing Sambekolo
Bhineka Tunggal IKA
Ijin Sedikit NAPAK TILAS Foto











“”Dengan adanya Berkas Cahaya Kesadaran adanya Berkas Cahaya Kesadaran pada setiap Diri semoga akan Tercipta Manusia manusia Yang Ber Spiritual Indonesia pada Khususnya dan tumbuh dalam sebuah Wadah Nafas Hidup dan Kehidupan dalam Nafas Persaudaraan UNIVERSAL Pada Umumnya “”
~HIDUP sebagai AJANG KOMUNIKASI akan DERITA itu sendiri utk kembali kepada FITRAH yang ada dengan tidak lupa menelusuri Keberadaan Wadag sebagai alat utk berkembang dan tumbuh dalam SATU JIWA ~ SATU RASA ~
“Manusia Hidup Untuk SADAR akan Dirinya yang Sejati.
Manusia Hidup Untuk Kembali Memiliki RASA Sejati.
Siapa AKU? Sehingga Di Panggil NAMAKU?”
Salam Sejati
YOgykarta Senin 23 maret 2009 10.21
Mas Dodo.., ijinkan kami menambahkan. .sedikit ini …( yang juga dari TRIO sesepuh kemarin ).
1) “Pembicaraan yang memuaskan semua, mengasah semua, mempermudah kesepahaman tentang inyong yang ber-Ingsun YANG MENYEMESTA . Kersaning Kodrat ada yang sudah ngerti dengan berbagai kedalaman, ada yang belum dengan berbagai kebuntetan masing masing pada saat ini/itu. Semoga terus berproses maju..berkembang. .men semesta.
2) Guru itu fasilitator, inspirator, stimulator, mentor tetapi tidak mengerjakan PR yang harus diselesaikan “siswa”. Aturan main inyong yang dianggap “guru” bagi sesama inyong paling optimal memberi kunci-kunci agar “siswa” berhasil dengan benar nggarap PR masing-masing , sehingga kelak sang “siswa “ semakin matang dan pintar / arief.”.
3) Hanya Ingsun yang berhak jadi Guru bagi inyongnya masing-masing. Hubungan antara inyong dan Ingsun jelas bukan animism, dinamism, spiritism, tetapi spiritualism yang tak mungkin didapat dari mimbar resmi (formal prosedural )
Note : tambahan referensi pengertian.inyong : saya / ego palsu / aku “ke akuan = ini milikkuIngsun : Diri Sejati/ AKU SEJATI/ GURU SEJATI / Percikan illahi / sang Monad – yang Unlimiteinyong yang ber-Ingsun YANG MENYEMESTA Disebut SYEH LEMAH ABANG dan Gatholoco sebagai “agama Pengerti”.Mohon maaf kalau keliru.., monggo kalau ada sederek..sahabat yang mau menambahkan. .Note : Insya Allah.., group Pecel..bisa menyambut..bergabun g..ada saudara yang mau rawuh datang besuk tanggal 21/22 April 2009.
Matur nuwun.
Imam Sudrajat
sebelumnya mohon maaf …..
apakah dengan “menggabungkan” dari semua agama … tidak berarti universalitas dari agama yang ada ???, nuwun sewu … karena didalam agama sudah ada pakem / syariat yang rasanya tidak mungkin di satukan.
mohon penjelasannya ….. dan matur nuwun.
salam,
sedulur papat itu kan ada 4,karenananya agama syariat yg bisa diAKUi juga sebenarnya cuma 4,karena yang ke 5,ke 6,ke 7,ke 8,dan ke 9,ga bisa dijangkau dengan kodrat manusiawi,jadi ga bisa dicapai dan dimengerti dengan kitab dan guru2 agama,tetapi berdasarkan kasih sayang Tuhan itu sendiri kepada manusia2 yg terpilih.
Kalo orang sudah menggali seluruh pribadinya,tentu tidak terasa canggung lagi ketika hendak meleburkan diri kepada setiap kelompok agama yang ada,karena agama2 yang ada itu pada hakikatnya menjadi beberaoa bagian anasir hidup kita sendiri,tinggal kita menggunakannya saja pada tempatnya yg sewajarnya sebagai sarana jumbuhing rasa dengan sesama kita demi kerahayuan bumi ini,tetapi agama2 itu bukan kita,melainkan sedulur kita,peserta hidup kita di dunia sini dan hanya berlaku semasa kita masih hidup di dunia sini : “Dudu Aku”.
Dear all…,
Wah , saya ikut mengucapkan selamat atas pertemuan yang indah dan cantik ini
Pertemuan dari lintas agama, hmm… indah sekali..
Eh , tapi ngomong2, saya ada setujunya juga dengan mas Ke2 diatas… ada setujunya…
. Tapi gak ada salahnya juga kalau Pak Sudrajad dan rekan2 yang lain2 sangat tertarik untuk menggapai hal tersebut… .
Salam.
http://ratnakumara.wordpress.com/2009/03/19/tamasya-ke-palembang/#comment-522
nabi musa di akui sebagai nabinya orang muslim tapi sholatnya tidak seperti syareat agama islam, keduanya sama2 sujud.
rosul hampir dipastikan di timur tengah atau sekitarnya karena memang watak daerah tersebut tidak cukup hanya di momong oleh nabi, nabi tidak membawa syaerat, nabi hanya momong? makanya nabi tidak bisa memerintah tapi mengajari, memberi petunjuk kepada masyarakat lingkungannya supaya mampu momong, mengendalikan sedulur papat.
seperti nabi samuel ketika diminta penduduk yang tertindas untuk menunjukkan siapa satrio piningitnya (thalut) bangsa israil, dan ketika bangsa israil kebanyakan tidak bisa menerima satrio piningit yang berasal orang biasa maka nabi samuel hanya bisa “jengkel” tapi tidak berhak menghukum penduduk yang tidak setuju.
ketika membicarakan syareat pasti ada penghakiman secara lahiriah, saya yakin ini yang dimaksud mas ke2, masing2 agama sudah punya pakem
tapi bagaimana mengelola ngemong sedulur papat bukan urusan syareat, sepertinya ini lebih dekat yang dimaskud “Dudu aku”.
sebagai bangsa timur sangatlah beruntung, misal ketika seseorang diperingatkan, ” he, klo sholat jangan pakai celana diatas lutut, tidak PANTAS”, maka orang tersebut paham dan tidak perlu cari dalil di sunah atau kitab2. KEPANTASAN LEBIH DEKAT DENGAN BUDHI
Salam sederek sedanten …
Ijinkan Nderek cangkrukan…buat meramaikan saja…sekedar pendapat pribadi ..
Mas K2 saya malah berpikir demikian , Yang tidak bisa melebur secara UNIVERSAL Orangnya atau Ajarannya ??…
Disadari atau tidak …berbicara Universal alih alih akan sering terhenti sebuah AGAMA menjadi Pemahaman Pembenaran Formal Individu yang sudah biasa kita kenal dengan Legalitasnya dan kelompoknya .Kembali lagi semua tergantung bagaimana kita menyikapi sebuah AGama apakah mau dijadikan sebagai Pembenaran atau bukan. Rasanya tidak ada kesalahan apapun dalan hal agama bila masing masing sudah memposisikan diri TIdak ada Istilah “”Perbedaan”" dalam hal Tujuan agama itu sendiri.
Namun bukan hal yang mudah utk bisa melewati Pandangan Persepktif yang Luas ..mengingat Universal disini lebih mengarah kepada ”penjelajahan pribadi ” Jagad Cilik berikut Jagad Gede itu sendiri…yang terlepas dari ikatan2 yang akan memberikan induksi bukan diri sesungguhnya malah peran PIKIRAN dan PEMAHAMAN yang lebih mendominasi ..
Terkait hal yag sifatnya Universal ..tidak akan lepas dari sebuah
Studi yang dinamakan metafisik secara Pribadi .
Semua bisa diawali dari sebuah Tuntunan oleh seorang Guru, atau secara Tinarbuko namun pengalaman pribadi nyata seseorang dalam menggali dan menggali siapa diri sejatinya ini ( bukan menjadi sosok siapapun ) yang akan memberikan Pengalaman yang tidak dapat di uraiakan ..,mengingat semua itu berada dilaur batas rasio ..
Agama dari sisi studi teologi bersumber pada data pengalaman tokoh-tokoh nabi (bukan diri kita ) dan apa ajaran yang diwariskan yang tertulis di dalam kitab-kitab suci masing-masing
Laku Metafisik lebih di tekankan pada pengalaman sendiri berhadapan dengan kasunyatan-kasunyatan alam…yang terlepas dari PEMAHAMAN FORMAL itu sendiri .DIsinialh Explorasi itu akan muncul …sesuai dengan Pengalaman Jagad Cilik dan Gede yang di alami sendiri secara langsung …
Bila ada penyampaian kata yg menyentuh AGAMA itu sekedar pendekatan pendekatan bahwa Kasunyatan tidak akan melihat PERBEDAAN apapun terlebih sebuah AGAMA bahkan MEMBENCI sebuah AGAMA….makanya dikatakan ::
~ Alangkah Indahnya bila masing masing mau mencoba “memperhalus” minimal FREKUENSI Pandangan pada PERSPEKTIF Tingkat SPiritual itu sendiri tanpa melihat UJUD ~ BENTUK ~ RUPA yang terbiasa MENDOMINASI hingga SEKEDAR menjadi KONTROVERSI ~KONFLIK dan PEMBENARAN Kedalam DIri maupun Keluar Diri semata…..hingga sebuah Dualitas menjadi Sebuah PEMICU KEDAMAIAN.…bukan menjadi KERESAHAN,…~
Memperhalus bukan dengan KONSEP2 yang Tinggi dan Melangit ..namun justru mencoba berbicara pada TITK PENgalaman Pribadi dengan cara SIKAP dan LANDASAN pada hal hal yang MENDASAR / Membumi …dengan pendekatan pendekatan yang ada ,.karena sebuah PENGALAMAN tidak akan mungkin bisa di uraikan menyadari sebuah KASUNYATAN tidak akan tersentuh alam PIkiran dan Nalar yang ada….
Salam Sejati
@ mas dodo, mas endang dan mas duduaku
terima kasih atas penjelasannya,……. dari pengamatan saya (awam) ini memang ajarannya yang belum/tidak bisa menyatu, tetapi jika manusianya (yang sudah mencapai taraf tertentu) sudah bisa bisa menyatu.
kembali ke ajarannya / agamanya, memang untuk merubah persepsi masyarakat luas terutama untuk agama tertentu akan menjadi alat pembenaran atau penghakiman, memang tergantung pribadi masing-masing, tetapi hal itu selalu dikaitkan kepada pakem mengenai pengertian agama penyempurna (maaf bila menjurus ke salah satu agama), sehingga derajat agama lain “seolah” bukan lagi menjadi jalan keselamatan, sehingga pengertiannya tentunya bila terdiri dari lintas agama, adalah berbeda jalan / tujuannya, air laut dua samudera tidak akan pernah bisa bersatu …. apalagi dengan air tawar maupun dengan minyak ???
kalau pengertian ekstrim saya, bahwa universalitas agama …. sama saja tidak beragama, tetapi hanya mengakui keberadaan Tuhan yang Esa, dengan segala kemahaannya ….. apa betul seperti itu ???
saya mengibaratkan burung, bahwa agama adalah sangkar (walau sangat luas) tetaplah didalam sangkar, keuntungannya tidak diganggu oleh binatang pemangsa lain, segolongan, dan hidup teratur didalam komunitasnya, sementara kerugiannya (kalau bisa dikatakan seperti itu) yaitu tidak mempunyai kebebasan untuk mencari tahu didunia yang maha luas ini, yang juga punya banyak ragam dan kehidupan yang mungkin belum pernah terbayangkan sama sekali.
sementara bila lintas agama, berarti burung tersebut berani mencoba untuk keluar dari kurungannya untuk bertualang didunia ini, dan bergaul dengan burung dari sangkar lainnya. tetapi konsekwensinya bahwa burung tersebut bisa saja tidak diakui (murni) lagi dari komunitas sangkar tersebut.
nuwun sewu … itu hanya pendapat saya pribadi,
salam,
Memang Agama itu baju,busana,supaya bisa pantas membawakan diri didalam bebrayan dan bisa juga diterima didalam bebrayan sebagai masyarakat manusiawi yg wajar, sedangkan Ngelmu itu bisa diumpamakan sebagai pusaka atau keris,busana jangkep,pelengkap,ketika manusia hendak sowan masuk ke dalam keraton menghadap Rajanya,jadi dalam kehidupan sehari-hari memang ga semestinya di hunus atau dipamerkan di masyarakat umum.
N sekalipun otak kita sudha berisi berbagai macam pengetahuan dan kawruh mengenai ketuhanan atau kelanggengan,tetapi jikalau kita memang berani menyadari diri bahwa kita hidup masih berada di masyarakat,masih bergantung kepada masyarakat dan masih kebanda kehidupan yg manusiawi yah tentunya mengenakan Busana itu merupakan suatu hal yang wajib. Kecuali mereka yg sudah dikurniai oleh Tuhannya mencapai tataran rucat busana jalmi,dan diperkenankan untuk ngrasuk busana jati,yah tentunya tata bebrayan dan hukum manusiawi tidak lagi mengena/tumama jika ditujukan kepadanya,masyarakat kehilangan alat pengukur untuk menilai nilai rokhani dari mereka2 itu,karena mereka sudah hidup sebagai warga dari jagad semesta yang ada.
Nuwun
dan busana itu macem2,ada busana jawa,ada sunda,ada batak,ada bombay,ada busana timur tengah dsbnya…jadi bebas lah bergantung kepada pribadinya masing2,yang pasti hidup dalam bebrayan harus mengenakan busana/tabir/penutup,ga boleh dan tidak sepantasnya untuk membuka warana.
Jadi jikalau begitu,satriyo piningit,ratu adil dan imam mahdi itu ga ada,sebab jikalau sampai ada disini,berarti ada yang MIYAK WARANA, mengumbar-umbar sesuatu yg sifatnya gaib keluar dari alam kegaibannya,dipamerkan demi memuaskan nafsu manusiawi dan hasrat ingin tahu manusiawi,tentu akan hilang daya hidup dan kekuatannya karena dilanggar kegaibannya.
Jadi semakin piningit,semakin ampuh dan luas daya kerjanya dan semakin luas jangkauannya.Dan lebih baik senantiasa terpingit, daripada tampak tetapi menjadi sempit ruang lingkup daya hidupnya,sehingga sungguh2 ada gunanya bagi kebahagiaannya dan kesejahteraan dunia sini sekalipun tidak diakui dan tidak dianggap ada.Dan yang tidak diakui dan dianggap ada itulah yang sesungguhnya sungguh2 ONO/ADA.
Kupuji Muhammad, ku tak memujanya.
Kusujudi Tuhan, ku tak sembah ‘namanya’.
Salam Sedrek Kadang ..
Terimkasih Sederek sedanten …
Sangat terkesan dengan pendekatan yang ada,..
Tidak ada istilah Benar mapun Salah ..
Inilah iNdahnya Warna,…Indahnya Pandangan …Indahnya Kemajemukan…
Saat duduk bersama….
Saling menatap dalam Kejujuran ..
Me Rasakan masing masing memiliki Fitrah~Hak~Kewajiban yang sama ..secara HAM Tiada Apapun yang sanggup membedakan ,karena hukum2 UNIVERSAL yang belum kita sentuh maupun kenal , bergerak bukan dari satu sisi PARAMETER Pengetahuan Kecerdasan~Agama dsb….
Berbicara Ageman dengan Pendekatan Kemanusiaan , kita masing masing masih sama sama memiliki warna , melihat ALam Semesta, terlalu sempit rasa nya bila kita diberikan kesempatan HIDUP SAAT ini 0-90 tahun, dengan Usia ALam Semsta yang sangat Tiada Terhingga ,..kita terbiasa MERASA Hidup dengan PERSAMAAN sebagai ACUAN ….
Namun sisi PERBEDAAN dianggap~ ANGGAPAN semata …
Berbeda dalam WARNA DIanggap ::musuh
Lebih Tajam dan memprihatinkan Terlalu mempersempit dan memperumit bila sudah dijadikan sebagai Pembenaran Pribadi Kelompok maupun Golongan, …
Sesuatu sudah di KULTUSKAN secara kasat INDRA :::UJUD~BENTUK~RUPA~MATERI~MATERI menajdi bukan hal yang di MAKSUD.. semata mata debat BUAH PIKIR akan KECERDASAN Otak.Termasuk tuhan dengan ke Mahaannya sebagai pendekatan PANCER pada umumnya ….yang semestinya sudah di “”IYAKAN”" tanpa Bertanya lagi keberadaanya …
Bicara dan menelusuri hal hal yang Universal ..bila disadari SAAT INI kita masih TERikat akan HUKUM2 Pikiran …sementara ALAM SEMESTA masih menyimpan Hukum KEsadaran TUNGGAL bukan dalam arti Matematis~Numerik …
Pendekatan Tunggal Yang Ketidak Terhinggaan~Kekosongan~Yang tak Tersentuh ..oleh hukum hukum saat ini …
Dan dengan kesempatan meng HIRUP NAFAS selama beberapa tahun ..kita diberikan KESEMPATAN dan Wahana dengan PIranti2nya ..sangat disia siakan bila semua itu berlalu sedemikian rupa ..
Bukan hal yang Kebetulan atau sesuatu yang SIA SIA dalam hidup ini bila mau di MAKNAI ..bahkan segelintir debu melintas PUN ini bukan suatu hal yg kebetulan ..
Ketiadaan yang selalu di anggap TIDAK ADA …sementara hal yang “” ADA”" selalu dianggap hal Yang ada dan BENAR …
Beranikah kita memposisikan pandangan “”KETIADAAN”" sudah sangat mewakili dan melingkupi hal hal yang ADA…..sementara hal hal yang ADA bukan hal yang Sesungguhnya ,,,,??
Alangkah Indahnya bila masing masing sangat Menjunjung TINGGI nilai PERBEDAAN bukan dari sisi PERSAMAAN SEMATA….
Kembali lagi , tulisan ini hanya Expresi pendekatan Pribadi dan semogga jauh dari nilai nilai Pembenaran ..sekedar Obrolan utk memper erat sesami ..
AMin ,..maturnuwun
Salam Hangat
Salam Sejati
Nyimak..
Siapakah diri kita ini ???
Sehingga dengan sombongnya selalu mengaku ngaku…
Selalu merasa rasakan ya ya ya merasa…. segalanya
Padahal semua sudah tertulis berjuta tahun yang lalu
Kita ini cuma dagelan alias khayalanNYA
Semua terjadi menurut alur cerita skenario DIA
Semua hanya menuruti qudrat dan iradat NYA
sehingga segala sesuatu hanya bisa terjadi karena ijinNYA
tak ada peran kita disana dalam menentukan
Itulah bagi yang mau berfikir tentang diri
Akhirnya Mengerti sejatinya diri kita adalah…….
yayaya… La Hwalla Walla Quwata……….
Dalam ketak berdayaan dibutuhkan pegangan yang kuat
Dalam ketidak mampuan ditarik oleh Yang Maha Mampu
Dalam kelemahan dan kekosongan datanglah ketenangan jiwa
Tumbuhlah pohon CINTA dalam kesejatian diri
Terbit bagai mentari pagi pancaran Nur IMAN
Sebagai penerang langkah dalam menyelesaikan tugas disini
Inilah langkah pemurnian sejati
demi mencapai sejatinya Lahwalla walla Quwatta
Hilang lenyap dalam pelukan Sang KEKASIH
Dan kembalinya hanya Untuk menjalankan sebuah Dharma
Berbekal akhlakul kharimah yang terbit dari kesadaran diri sejati
Untuk berkarya dan mencipta demi kebersamaan..
Salam Sayang
ya memang benar itu,didalam ketidakmampuan,ketidakberdayaan dan ketidakmengertian kita manusia,GUSTI adalah kemampuan, daya dan pengertian kita.
ketulusan dan kejujuran didalam bebrayan di masyarakat memang sungguh keindahan sejati, pluralisme adalah warna-warni yang menyatu menyempurnakan keindahan ciptaan Tuhan itu sendiri,…… masihkan perlu dipertentangkan karena adanya fatwa mengenai pluralisme ??? yang tidak sesuai dengan ajaran dari agama tertentu ???
mungkin inilah yang menjadikan ganjalan dari ke2,
gue setuju dengan pendapat mas 3yoga
oh ya satu pertanyaan
bagaimana jika ketulusan kita dan kejujuran kita disalah artikan ??