BATIN YANG BEBAS… 26 Oktober 2007
Posted by Gantharwa in Renungan.7 comments
BATIN YANG BEBAS…
Disalur dari: BeCeKa
Batin yang bebas punya keleluasaan dan kelegaan.
Ia tanpa beban, dan tak akan membebani siapapun.
Batin yang bebas, luarbiasa lapang.
Semua sekat dan tabir telah runtuh di matanya.
Tak ada sesuatupun yang tersembunyi baginya.
Batin yang bebaslah yang tajam, yang peka,
punya segala kualitas yang dibutuhkan untuk mengeksplorasi dan mengobservasi.
Tanpa derajat-kebebasan batin tertentu,
eksplorasi dan observasi apapun yang kita lakukan,
hasilnya kurang dapat dipercaya.
Batin yang bebas bisa mengasihi.
Tapi bukan hanya lantaran ia mencintai yang dikasihi,
melainkan lantaran cinta pada mengasihi itu sendiri.
Luapan kasih, melimpah di dalamnya.
Batin yang bebas tidak akan merasa perlu berpura-pura.
Baginya, jujur bukanlah sesuatu yang perlu diupayakan lagi
karena memang demikian ia adanya.
Kejujuran merupakan salahsatu sifat sejatinya.
Batin yang bebas penuh dengan keterbukaan.
Ia selalu terbuka.
Ia tak pernah mengharapkan pun merasa punya keharusan untuk menolak.
Mengharapkan dan menolak telah sirna darinya.
Batin yang bebas tidak pilih-bulu, tidak membeda-bedakan.
Baginya semua sama.
Tidak ada lagi kebajikan pun kejahatan di matanya.
Batin yang bebas murah-hati, sangat dermawan.
Ia tidak merasa perlu menyimpan apapun untuk dirinya sendiri,
karena tak ada lagi diri sendiri pun yang lainnya baginya.
Batin yang bebas tak akan pernah mengatakan “Ini dan itu adalah milikku”;
sebaliknya, ia justru akan lebih cenderung untuk mengatakan
“Aku miliknya, milik mereka, milik semua”.
Batin yang bebas tak akan pernah membenci.
Ia bebas dari kebencian, apalagi dendam.
Batin yang bebas tak akan pernah menyakiti dan merasa disakiti.
Batin yang sakitlah yang selalu merasa disakiti,
karenanya gemar menyakiti.
Batin yang bebas selalu adil, tanpa keberpihakan.
Adil adalah salahsatu sifat luhurnya.
Batin yang bebas selalu seimbang.
Yang selalu adil dan tanpa keberpihakan selalu seimbang.
Batin yang bebas, sabar, pemaklum dan pemaaf.
Ia sangat memahami kalau segala kesalahan hanyalah lantaram keikhlafan.
Batin yang bebas, rendah-hati.
Ia tidak merasa perlu mempertahankan pun membentuk citra apapun bagi dirinya.
Batin yang bebas tak butuh kendali.
Kalaupun masih ada yang perlu dikendalikan,
kebebasan itulah yang akan mengendalikan segalanya.
Batin yang bebas selalu jernih, selalu murni.
Ia telah terbebas dari segala macam kekeruhan, kekotoran dan polutan.
Batin yang bebas adalah batin yang cerah.
Ia terang-benderang.
Tak ada awan gelap yang bisa menodainya lagi,
tak ada awan gelap yang bisa menghalangi kecerahan cahayanya.
Batin yang bebas adalah batin yang sehat.
Ia akan memandang segala sesuatunya secara sehat,
sehingga setiap pandangannyapun akan berfungsi menyehatkan.
Batin yang bebas, tanpa konflik, selalu damai.
Tidak ada pertentangan dan dualisme di dalamnya.
Rasa suka dan tidak-suka tidak berani mendekatinya.
Batin yang bebas adalah batin yang merdeka.
Tak ada lagi penjajahan dan perbudakan baginya.
Batin yang bebas,
tak ada sesuatupun yang bisa membuatnya terlalu sedih pun terlalu gembira.
Keceriaan dan kegembiraan ada padanya.
Kegairahan dan semangat ada padanya.
Batin yang bebas, batin yang berbahagia.
Tidak ada lagi yang bisa merengut kebahagiaan darinya.
Dialah manifestasi dari kebahagiaan itu sendiri.
Batin yang bebas, luarbiasa.
Keluarbiasaannya itu justru terpancar kuat di dalam sikapnya
yang selalu biasa-biasa saja.
Batin yang bebas, batin yang bijak.
Segala bentuk kearifan dan kebijaksanaan bersumber padanya.
Batin yang bebas adalah batin yang sempurna.
Dialah manifestasi dari segala kesempurnaan,
dialah manifestasi dari Yang Maha Sempurna.
Batin yang bebas itulah sesungguhnya Anda.
Itulah Kesejatian Anda yang selama ini Anda halangi untuk mengejawantah. Bebaskanlah!
Bali, 24 Oktober 2005.
Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin 11 Oktober 2007
Posted by Gantharwa in Serba Serbi.2 comments
Tentang Mati, Pencerahan, Mistis, dan Meditasi 5 Oktober 2007
Posted by Gantharwa in Kliwonan.1 comment so far
Kamis, 4 Oktober 2007, Malam Jumat Kliwonan
Kematian itu sendiri adalah merupakan pilihan manusia atau bagaimana? Kematian secara fisik tentunya yang di bahas. Kematian terjadi bisa merupakan keputusan/pilihan manusia baik secara sadar maupun tidak sadar di pilih manusia.
Kematian sendiri bisa dilihat dari kita mendeteksi secara KALIMASADA.
Banyak orang mengatakan bahwa orang baik umurnya pendek, karena cepat di panggil Tuhan. Itu lantaran kita hanya melihat dari segi akhirnya. Tapi mari kita lihat lebih mendasar, bahwa karena mengetahui bahwa umurnya akan pendek maka orang tersebut berlomba-lomba buat baik. Sama halnya kalau kita naik mobil ngebut, lalu bensin habis. Kita jangan melihat satu segi saja bahwa karena ngebut maka bensinnya habis, tapi harus juga melihat bahwa lantaran bensin sudah mau habis, kita harus segera ngebut.
Dalam kematian yang harus diperhatikan secara benar adalah tentang Kematian agar Gusti Allah dipermuliakan, jangan sampai kita juga terjebak bahwa kematian adalah karena Gusti Allah telah tentukan, dan Allah ingin dianggap sebagai pahlawan. Tapi bahwa Gusti Allah..
Pembicara berlanjut pada masalah Reinkarnasi, bagaimana perjalanan setelah mati. Atau pertanyaannya adalah bahwa setelah Kita Manunggal, lantas apa? Apa yang harus di lakukan, apa yang terjadi berikutnya? Pertanyaan tersebut dapat membuat kita merenungkan bahwa pikiran itu terbatas. Jadi tidak bisa di jawab, karena bertanya dalam dimensi Roh yang tidak terjangkau oleh pikiran.
Reinkarnasi harus di lihat tingkatan juga, namun hal yang di ingat, reinkarnasi terjadi tidak lantaran SELALU karena karma jelek. Reinkarnasi haruslah dilihat bahwa MISI yang di emban oleh masing-masing pribadi.
Bagaiman kita bisa mati dengan sadar? Atau saat kita mati kita sadar gak? Sederhana kita mengetahui bahwa Roh kita sadar atau tidak adalah pada saat tidur, apakah kita menyadari bahwa kita sedang tidur? Untuk bisa sadar kita perlu pegangan kekuasaan (lisensi). Analoginya adalah sebagai berikut:
Kematian ibaratnya bangun dari tidur, ada yang bangun tidur sadar (berarti punya kesadaran), ada yang bangun tidur tapi ternyata udah buta (tidak sadar), tuli (tidak mengerti), bisu (tidak ada kawruh). Nah saat kita mati, ada juga mengalami demikian yaitu punya kesadaran, tidak punya kesadaran, tidak mengerti/kawruh. Itulah yang disebut sering menjadi hambatan dalam perjalanan Roh.
Gantharwa adalah menolong orang lain untuk mencapai cita-cita, terutama cita-cita dalam Kemanunggalan dengan Gusti. Setiap dari Kadhang yang telah berlisensi seolah-olah membawa cahaya yang akan di ikuti pribadi-pribadi lain yang butuh pertolongan, dengan kita berkumpul bersama, dan kita meningkatkan kawruh, juga membahas kebenaran, maka secara tidak langsung kita telah memupuk hal baik membantu pribadi yang ikut.
Pencerahan adalah instan, bagi yang telah melalui proses peningkatan kawruh, menghargai lisensi dan paten juga sangat tergantung seberapa peningkatan kawruh yang ada pada diri kita. janganlah hal yang berharga tidak dihargai lantaran tidak mengerti. Maka kenapa pentingnya proses belajar peningkatan kawruh menjadi sangat penting.
Mistikus adalah bagaimana Roh mengalahkan Fisk secara adil, tanpa rekayasa melumpuhkan fisik. Roh dan fisik sama-sama di rawat dengan baik, lalu sama-sama naik ring bertinju dengan adil. Pertarungan roh dan fisik kita dalam ring adalah tahap kita meditasi (meditasi ibarat ring tinju) berapa lama pertarungannya (1jam, 3jam, 6 jam) ya sangat tergantung pada seberapa induksi pada diri kita.
Acara kliwonan di akhiri dengan meditasi bersama pukul 22:00wib.
Salam