jump to navigation

RILO NARIMO 17 Juli 2000

Posted by Gantharwa in Kliwonan.
trackback

RILO NARIMO
Oleh: Kiai Ganjel

Kliwonan Senin malam Selasa, 17 Juli 2000,
Disalin: Kadang Gondo Arum
Topik : Mengapa kita sering ‘naik’/emosi pada saat kita menerima teguran/amarah/celaan???
1. karena kita egois, gak mau mengerti, merasa ngerti padahal sebenarnya enggak
2. karena kita tidak siap menerima kenyataan bahwa kita mungkin aja salah
3. karena sifat manusiawi yakni ingin dihormati, nggak mau diremehkan, nggak mau dianggap bodoh
Supaya reaksi kita tidak negatif maka pengertian kudu diperluas, coba juga lihat dr sudut pandang orang lain, karena reaksi kita bergantung pada tingkat kaweruh.. resepnya orang Jawa: RILO NARIMO
Manusia umumnya masih ditengah2 atau belum bias menanggulangi 4 nafsu (sedulur papat). Keempatnya ternyata belum bisa kita kendalikan, atau bahasa injilnya belum bisa menyangkal diri …
Untuk mengendalikan keempatnya perlu ketenangan diri yang kuat! Tansah eling lan waspada! Ingat bahwa kemauan Allah adalah “Damai dan Sejahtera”
Sadari juga kaweruh akan nyata kalau dilaksanakan …
Antara pengertian dan keberadaan musti satu, jangan terpisah jadi jangan gede omong doang giliran melaksanakan nol besar …

Komentar»

1. madiun - 14 Mei 2007

salam hayu wilujeng

Waduh kadang orang yang baru dapat ilmu tu seperti berlagak jadi panditho ya. Biar aja itukan jalan menuju dia sebagai panditho yang mengeti akan tanaman “PADI”.
Lha wong lelaku itukan berjalan “natural”, seperti orang yang baru mengerti sebuah danau dia akan mengatakan luasnya danau tersebut.
Akan tetapi yang sudah memandang lautan maka akan tersenyum menyaksikan kenyataan yang ada ini.
Aq memang sering kali membaca tulisan dari para kadang maupun sesepuh di sini, agar bisa sharing pada keadaan saat ini.
Aq mengakui lelaku itu berat “abot” nanging secara teori juga harus di pahami supaya kita bisa telaah sebagai wacana juga, kl emang sempat nantinya akan di lakukan.
Weslah, pancen nek durung nyobo ga percoyo

nuwun

wong ndeso

2. tegoehkusuma - 5 Juli 2009

Salam Damai,
Salam Sejahtera.
Damai di Hati,
Damai di Bumi.

salam SEJATi.