jump to navigation

Primbon 1945 17 Januari 2012

Posted by Gantharwa in Serba Serbi.
add a comment

Primbon 1945

Oleh: Nata Warga

Biar jadi rambu-rambu untuk sepanjang tahun jawa 1945:
Weton Lahir:
1. Legi
– anak-anak agar di jaga masalah penyakit menular, perbanyak makan sayur.
– belum menikah, jaga hubungan karena kemungkinan orang ketiga. Perbanyak komunikasi.
– menikah: saatnya menadatkan anak yang merindukan..
– bekerja: yg baru bekerja akan ada tantangan/tekanan dari atasan. Yang sudah bekerja bisa lebih santai dan dapat bonus.
– petani: baik mulai menanam bulan april
– bangun/renovasi rumah: bisa mulai bulan mei.
– keuangan: kalau mau bisnis, mulai bangun bisnis kecil-kecilan, bisnis besar bisa ludes, tabungan bertambah, tapi akan habis buat bisnis.
– cinta: jangan manja.

2. Pahing
– anak-anak prestasi (lagi…)

Eling lan Waspada ~ Karakter Luhur Bangsa Indonesia 24 Agustus 2011

Posted by Gantharwa in Kejawen.
2 comments

Eling lan Waspada ~ Karakter Luhur Bangsa Indonesia
Oleh: Bapak Imam Sudrajat Arso Soekotjo

Amenangi zaman edan, ewuhaya ing pambudi, melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya keduman melik, kaliren wekasanipun , dilalalah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada ( pupuh sinom, dalam serat Kalatida , R.Ng. Ranggawarsito )

Beda lamun kang wus sengsem reh ngasamun, semune ngaksama,sasamane bangsa sisip, sarwa sareh saking mardi martatama ( serat Wedhatama, KGPAA Mangkunegara IV)

ELING lan WASPODO – KARAKTER LUHUR

BANGSA INDONESIA

Rahayu.

Menyempatkan diri di bulan Ramadhan, mencoba (lagi…)

Wisata Spiritual 28 April 2011

Posted by Gantharwa in Serba Serbi.
1 comment so far

Perjalanan Wisata Spiritual 21 – 24 April 2011
Oleh: Kadang Pande Agus Indra

Mengambil kesempatan hari libur pada tanggal 22 April 2011, kami berencana untuk melakukan perjalanan wisata spiritual. Tanggal 21 April Pukul 20.00 diharapkan kami sudah berkumpul di lokasi pemberangkatan, namun seperti biasa, alam Jakarta yang macet apalagi menjelang akhir pekan dan hari libur, menjadikan waktu berangkat pun tertunda.

Kira-kira Pukul 22.00 akhirnya kami pun berangkat. Dengan rombongan 2 mobil dan peserta 10 orang, kami menyusuri Pantai Utara Jawa. Berangkat dengan penuh semangat, seperti menyambut pengalaman-pengalaman baru yang mungkin belum terpikirkan oleh kami. Namun lagi-lagi, ternyata Pantura macet juga… :-( . Jalan rusak dan perbaikan jembatan kebanyakan menjadi sumber kemacetan.

Hari Pertama, 22 April 2011
Pemalang
Akhirnya, walaupun tersendat-sendat akhirnya tibalah kami di tempat pertama tujuan kami, yaitu: Kediaman Bapak Imam Sudrajat. Pak Drajat menyambut kami dengan semangat dan penuh keterbukaan. Perjalanan yang panjang rasa terhempas begitu saja ketika disambut dan dijamu oleh Pak Drajat. Jajanan khas dan minuman teh hangat telah tersedia. Belum selesai kue tradisional disantap, sudah diajak kembali untuk menikmati sarapan pagi.

Menu yang dihidangkan juga khas kembali, sampai-sampai tidak tercatat namanya… :-) Maaf Pak Drajat, bisa diulang Pak namanya…? (Kalau tidak Salah Burung Puyuh Goreng. David)
Usai sarapan, kegiatannya bebas, ada yang tidur, ada yang main-main dengan komputer, ada yang berkeliling rumah Pak Drajat dan diberitahukan rencana perluasan sekolah-nya yang ternyata sangat membanggakan prestasi-nya hingga mendapatkan dana pengembangan sekolah dari Pemerintah. Sukses selalu ya Pak.
Sesi Yoga dibuka menjelang siang, 5 Gerakan Yoga yang walaupun terlihat sederhana ternyata dapat membakar lemak dan membuat keringat mengalir… Saling bergantian mencoba gerakan-gerakan tersebut, bahkan Pak Drajat pun turut serta memperlihatkan kemampuannya dan menambahkan uraian tentang Yoga.

Tak ketinggalan sebelumnya pun, Pak Drajat memperlihat koleksi album fotonya tentang Tokoh-tokoh Spiritual yang beliau kagumi. Monggo disharing Pak…
Makan siang kami diajak menikmati makanan khas Pemalang yaitu Lontong Tahu dilanjutkan dengan wisata ke Pantai Widuri, dikenalkan dengan istilah Pantai VIP dan VVIP :-) . Selanjutnya mengunjungi Petilasan Pangeran Sembung Yudo.

Petilasan bila diartikan secara bebas adalah suatu tempat persinggahan dalam kurun waktu tertentu (waktu bisa pendek maupun cukup panjang), dengan maksud untuk meningkatkan kawruh atau membuat suatu koloni baru.
Sejarah mengenai Pangeran Sembung Yudo yang berhasil diperoleh adalah beliau adalah Pangeran yang kalah perang, sehingga kemudian mengasingkan diri bersama pasukannya untuk berlatih lebih giat lagi. Alih-alih peningkatan diri dalam bidang kanuragan ternyata beliau memperoleh Pencerahan. Beliau sudah tidak ingin (lagi…)

Hasta Brata 25 Januari 2011

Posted by Gantharwa in Kejawen.
8 comments

Hasta Brata
Dikirim oleh Matheus Haryanto Ke Mailing Diskusi Gantharwa.


1. Mahambeg Mring Kismo Seorang pemimpin diharapkan memiliki watak seperti bumi, yang murah dan penuh kasih sayang, menerima segala tumpahan dan keluhan, memberikan sarana hidup, tak banyak menuntut, serba bermanfaat


2. Mahambeg Mring Warih, Sebagai pemimpin diharapkan memiliki sifat-sifat keutamaan seperti air dapat (lagi…)

Urip e wong dJAWA 3 Oktober 2010

Posted by Gantharwa in Kejawen.
18 comments

oleh Tegoeh Kusuma Tkp pada 30 September 2010 jam 14:23

Cukup menggelikan, prihatin, mungkin jg miris, dimana falsafah hidup dlm kaweruh Jawa yg tertuang dlm serat para pujangga-intelektuaL Jawa, yg mana bahkan wong Jawa sendiri seringkali mengernyitkan dahi (entah heran, entah tidak tahu, entah emang blo’on) ketika menjumpai (membaca) juduL-tulisan-istilah kaweruh Jawa, misaL:
Sangkan Paraning Dumadi, Kalimosodo, Sastrojendro HayuningRat, Cokro ManggiLingan, Hamemayu Hayuning Bawono, Ngundhuh Wohing Panggawe, Manunggaling KawuLo Gusti, dsb.
Memang demikian ini tidaklah mengherankan, spt yg kerap kali terdengar bhw “wong Jowo ilang jawane, wis ora njawani”. Dan mungkin jg krn metode penyampaian kaweruh Jawa dgn cara gethok tular (sambung lidah) dari para pinisepuh Jawa kpd generasi berikut nya dgn cara seleksi yg unik, maka makin minim pula jumlah pribadi yg mengerti-memahami kaweruh Jawa dgn benar-baik-lurus dan sedjati. Bahkan yg lebih menggelikan adalah mereka yg belum tahu (apalagi mengerti) kaweruh Jawa dgn serta merta menuding kejawen adalah aliran spirituaL-kebathinan yg mengada-ada, tahayul, sesat, murtad, syirik, kafir dan konotasi nyeleneh lainnya. Namun eloknya, dgn bijak para praktisi ngeLmu kejaweN tidak tergesa2 (dan memang tidak perlu) utk merespon balik dgn tudingan: “idihhh, kacian deh, ternyata lu bLo’on banget ya !”.

NgeLmu kaweruh Jawa lain halnya dgn ilmu intelektuaL-sekuLer yg (lagi…)

Mengingat kembali -> Ajaran Eyang SosroKartono 4 Juli 2010

Posted by Gantharwa in Kejawen.
17 comments

Mengingat kembali -> Ajaran Eyang SosroKartono

Oleh: Bpk. Imam Sudrajat

Berbahagialah mereka yang punya pikiran yang mau menyadari bahwa ada yang lebih luhur, lebih mulia dari pada harta benda dan kenikmatan duniawi.
Jika pikiran sudah sampai pengertian demikian, maka muncullah BUDI, Rasa (bathin) yang akan mengatakan : …….Hendaknya suara bathinmu yang suci itu menjadi petunjuk hidupmu, bukan nafsumu.
( Hyang SosroKartono )

Bindjei. 12 Nov. 1931

Lampah lan maksoedipun

1. Angloeroeg, tanpo bolo, (lagi…)

Kabar Gembira dari Anatta~Gotama Foundation 21 April 2010

Posted by Gantharwa in Serba Serbi.
1 comment so far

Saudara-saudariku yang budiman,

Puji syukur, buku pertama: 108 Tips Renungan Meditasi, mendapat sambutan yang sangat mengesankan dari para peminat spiritual dan meditasi. Sampai saat ini, kami telah menyalurkan tak kurang dari 500 eksemplar kepada Saudara-saudari peminatnya.

Dan kini, kami, Anatta~Gotama Foundation, dalam waktu dekat kembali mendistribusikan secara cuma-cuma buku kedua: Di Kaki Padma Sang Guru Sejati.

Nah… untuk itu, kepada para Dermawan yang berniat berdana, atau Saudara-saudari yang berniat memanfaatkannya di perpustakaan atau kalangan masing-masing, silahkan menghubungi kami lewat:

1. Regy Gie Ciu / regy.79@gmail.com / 0816 77 0001; atau
2. Adji Mudhita / sangwaktu@gmail.com / 0811 937 277; atau
3. Moderator milis BeCeKa / beceka-owner@yahoogroups.com

Atas partisipasinya ini, sebelumnya, kami ucapkan banyak-banyak terimakasih.

Salam Persaudaraan dalam Kasih selalu.

Anatta~Gotama Foundation.

Tradisi Spiritual Para Orang Suci Nusantara 5 April 2010

Posted by Gantharwa in Serba Serbi.
17 comments

Tradisi Spiritual Para Orang Suci Nusantara
TRADISI SPIRITUAL ORANG SUCI DARI SVARNADVIPA*

Bilamana kelima masa gelap itu tiba,
inilah waktunya untuk mentransformasikannya
ke dalam jalan kedewataan.

Inilah inti ‘amrita’ dari instruksi lisan,
yang diturunkan dari tradisi orang bijak Svarnadvipa.

Setelah membangkitkan karma dari latihan sebelumnya,
dan desakan dari pengabdian yang tinggi,
saya jauhkan ketidak-beruntungan dan fitnah,
dan menerima instruksi lisan untuk menjinakkan egoisme.

Sekarang, bahkan saat kematianpun,
saya tidak akan kecewa.

~ Geshe Chekawa Yeshe Dorje.
[Seorang Guru Tibet, penulis buku: ‘The Root Text of the Seven Points of
Training the Mind’]

PERTALIAN ANTARA TIBET – SVARNADVIPA – BALIDVIPA

Sebagian dari kita mungkin terperangah keheranan dan bertanya-tanya, darimana
Guru spiritual Tibet itu memperoleh ajaran Orang Suci Svarnadvipa itu? Bukankah
Svarnadvipa adalah nama kuno dari Sumatera?

Benar; seringkali kita kaget bila ternyata produk luar yang diagung-agungkan, ternyata asalnya malah dari Nusantara. Tibet memang sangat dekat dengan India, namun ternyata ajaran serta tradisi spiritualnya yang unik itu, lebih banyak diwariskan oleh Atisha Dipankara Shrijnana (982 – 1054). Siapakah beliau ini?

Atisha Dipankara adalah seorang pangeran dari kerajaan Benggala-India (Colamandala). Sejak usia yang amat dini beliau tak menunjukkan hasrat atau ketertarikan pada kekayaan duniawi maupun tahta kerajaan. Beliau malah lebih getol pada kekayaan batin, kehidupan spiritual. Dalam usia belasan tahun, beliau telah meninggalkan kehidupan kepangeranannya dan menjadi pertapa.

Dalam usia 20 tahun beliau telah mencapai tingkat yang tinggi dalam tradisi Tantra. Beliau melakukan perjalan suci (Tirthayatra) berkeliling India, menemui dan berguru pada 150 orang yogi, akhli dan guru-guru spiritual; namun belum menemukan Pencerahan yang beliau idamkan. Hingga akhirnya menerima ‘pawisik’ di Bodh Gaya, bahwa beliau akan memperoleh ‘Penerangan Batin’-nya melalui seorang Guru Utama di Sriwijaya. Maka, pada tahun 1011 berangkatlah beliau, dari India
selatan menuju Svarnadvipa di Nusantara.

Disinilah beliau berguru pada Serlingpa (sebutan pemuliaan bagi beliau dari siswa Tibet-nya, yang juga berarti Svarnadvipa Dharmapati – Orang Suci Guru Utama dalam Dharma dari Svarnadvipa), yang bernama Sri Dharmakitri selama 12 tahun.

Ketika itu yang menjadi raja di Sriwijaya adalah Sri Dharmapala, penerus dari Marawijayotunggawarman —pelanjut tahta dari Sri Cudamaniwarmadewa. Cudamaniwarmadewa— wangsa Warmadewa dari Balidvipa dengan permaisuri dari wangsa Sailendra, Javadvipa yang mulai menduduki tahta Sriwijaya sejak sekitar tahun 992. [Prof. Dr. R. Soekmono; 1973]

Sekembalinya ke India, beliau mengajar di beberapa perguruan di India Selatan, hingga tersebarnya berita ke seantero pelosok India hingga Tibet. Penguasa (raja) Tibet ketika itu, Yeshe O Lama, kemudian mengundang beliau untuk menurunkan ajarannya pada para Lama Tibet, pada tahun 1042.

Nah….sejak itu hingga wafatnya Atisha pada tahun 1954, di Tibet, ajaran Orang Suci Svarnadvipa —Serlingpa— secara turun-temurun diwariskan dalam tradisi spiritual Tibet. Kadampa adalah aliran yang paling berpengaruh di antara aliran-aliran Vajrayana atau Tantrayana Tibet, aliran yang berasal dari ajaran Orang Suci Nusantara pada jamannya.

Sesungguhnya, pertalian antara Siva-Buddha Nusantara dengan apa yang ada dan berkembang di India, Tibet, Nepal, Srilangka, Thailand, Kamboja, China, Jepang (Zen) dan yang lainnya, tiada pernah surut. Walau sempat mengalami hambatan beberapa lama, namun tak pernah putus sama-sekali.

Adalah Mpu Tantular, cucu dari Mpu Bharadah dan Mpu Kuturan, yang memberi warna
tersendiri pada Siva-Buddha Nusantara yang telah dirintis oleh para pendahulunya. Sutasoma dan Arjuna Wiwaha adalah dua mahakarya spiritual-filosofis indah yang hingga kini masih kita warisi.
WAKTUNYA UNTUK MENYEPIKAN-DIRI

Mengakhiri tulisan ini saya hadirkan nasehat-nasehat Atisha, yang amat bermanfaat di Kaliyuga ini bagi para penekun jalan spiritual.

Di masa Kaliyuga ini
bukanlah waktunya untuk mempertontonkan kemampuanmu;
saat ini adalah waktunya untuk berlatih dengan tekun.
Kini bukanlah saatnya untuk mencari tempat yang terhormat;
tetapi untuk merendahkan-diri.
Saat ini bukan waktunya untuk menyandarkan diri pada keramaian;
tetapi saatnya untuk menyandarkan diri pada tempat-tempat terpencil.
Saat ini bukan waktunya untuk mengatur murid-murid;
tetapi saatnya mengatasi diri sendiri.
Saat ini bukan waktunya hanya untuk mendengarkan kata-kata saja;
tetapi waktunya untuk merenungkan maknanya.
Bukan pula saatnya untuk pergi kesana-kemari;
saat ini waktunya untuk menyepikan-diri.

‘Menyepikan-diri’ disini tidaklah harus dimaknai secara literal dan kasat-mata sebagai masuk hutan, bertapa di gua-gua di pegunungan, atau yang sejenisnya. Ia lebih pada pada penyepian rasa diri (selfishness), kendati Anda tetap hidup di tengah hiruk-pikuk kehidupan duniawi moderen seperti sekarang ini. Namun memang mesti diakui kalau kian tak banyak —bahkan bisa dibilang— sudah sangat langka yang mampu demikian.

Sumber Kiriman: Beceka

Denpasar, 13 Juni 2000.
____________________
*Syair ini disadur dari: “Melatih Pikiran dan Mengembangkan Kasih Sayang”; Chogyam Trungpa; Penerjemah: Bhadravajra Heng Tuan; Penyunting: Suryananda; Yayasan Penerbit Karaniya – Bandung – Mei 1998; hal. 218.
Bahan bacaan:
1. Pintu Pembebasan (The Door of Liberation); Stephen Batchelor (1975); terjemahan Upasika Prita Melanie; Yayasan Dian Dharma – Jakarta; 1997.
2. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia – 2; Prof. Dr. R. Soekmono; Kanisius – Yogyakarta; 1973.
3. Buddhisme – Pengaruhnya dalam abad modern; Editor: FX. Mudji Sutrisno, SJ.; Kanisius – Yogyakarta; 1993.

Memandang 2010 31 Desember 2009

Posted by Gantharwa in Serba Serbi.
35 comments

Memandang 2010

Oleh: Kadang Sardiatmo dan Kandang Rudyto

Para Kadang dan Semua saudara, pada penutupan tahun 2009,Gantharwa mencoba melihat kondisi yang akan terjadi di 2010.

Berikut adalah gambaran atau simbol -simbol kejadian pada tahun 2010, yang akan di pertajam pada tutup suro 16 Januari 2010.

PandanganTahun 2010, adalah untuk kondisi secara umum yang terjadi didunia ini dan khususnya untuk Indonesia..
Adapun beberapa Lambang tidak ditulis untuk selanjutnya menjadi konsumsi intern.

Januari:
Mata yang berbentuk elips, hanya terlihat sebelah dan terbuka, melayang terbang ke awan yang mendung yang gelap seperti badai, mata itu mencari sesuatu, tapi tidak ketemu, turun ke darat tapi (lagi…)

1 Sura 1943 22 Desember 2009

Posted by Gantharwa in Sura.
14 comments

Acara 1 Sura 1943

Dicatat Oleh: David Goh

Persiapan untuk acara sura telah di mulai sejak pagi, dimana tempat acara sudah dirapikan dari kemarin oleh Kadang Rudi, pada tanggal 17 Desember paginya saja, Kadang Dimas dari Semarang, Kadang Hermin, dan Kadang David, hanya membersihkan bagian kecil dan mempersiapkan altar, yang mana dari depan pintu telah terpasang Janur, dan di altar disiapkan kain 3 warna (Putih, Biru, Kuning) dupa dan lili, kelapa dan buah, bunga dan menyan serta lilin, semua kelengkapan untuk rasa syukur telah di siapkan..

sebagai tambahan tahun ini adalah pesan dari Kadang Sinarawedi dari Solo untuk mempersiapkan nanas dan lawih (tali sumbu) yang dibuat ikatan jerat (laso), kemudia nenas dipotong jadi 2 dari atas kebawah lalu di jerat dengan tali sumbu, yang nantinya bisa untuk (lagi…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 261 pengikut lainnya.